Kemenaker: Stop Pekerja Anak! Kembalikan ke Dunia Pendidikan

0
147

Jakarta, namalonews.com- Kementerian Tenaga Kerja, Dinas Pembinaan, Pengawasan, Ketenagakerjaan, dan Keselamatan Kerja segera mengembalikan tidak kurang dari tujuh belas ribu anak di Indonesia ke dunia pendidikan tahun ini.

Dunia pendidikan sangatlah penting untuk kemajuan suatu bangsa. Pendidikan dipandang sebagai modal utama untuk mengikis tali kemiskinan. Bangsa terhormat adalah bangsa yang mempunyai nilai luhur dan cerdas dalam menentukan kehidupan berbangsa dan bernegara sesuai pandangan dan falsafah hidup yang dianutnya.

Sugeng Priyanto, Direktur Jenderal Pembinaan, Pengawasan Ketenagakerjaan, dan Keselamatan Kerja (PPK dan K3) Kemenaker siap melakukan pelbagai upaya dalam rangka mengembalikan anak ke dunia pendidikan. Siap mengatasi pekerja anak.

“Anak adalah masa depan bangsa yang pada dirinya diharapkan menjadi penerus bangsa yang potensial, tangguh, memiliki jiwa nasionalisme, dan akhlak mulia. Keberhasilan pembangunan anak akan menentukan kualitas sumber daya manusia di masa yang akan datang,” tutur Sugeng, beberapa waktu lalu.

Sebagaimana bunyi Undang-Undang N0. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, anak dapat melakukan pekerjaan di tempat kerja yang merupakan bagian dari kurikulum atau pelatihan yang disahkan oleh pejabat yang berwenang, Anak yang dimaksud yakni paling sedikit berumur empat belas (14) tahun.

Jelas, di dalam usia sekolah seyogyianya anak harus mendapatkan apa yang menjadi haknya. Dalam hal ini edukasi atau pendidikan yag berjenjang. Dengan demikian akan tercipta kondisi yag sebenarnya sesuai dengan perkembangan maupun usianya.

Dari program  PPA-PKH( Program Nasional Pengurangan Pekerja Anak Dalam Rangka Mendukung Program Keluarga Harapan ) ini jelas tentang pengurangan pekerja anak khususnya pekerjaan terburuk anak serta pekerja anak putus sekolah yang berasal dari keluarga miskin.

Hampir selama kurang lebih sepuluh tahun program tersebut telah berhasil mengembalikan 98.956 anak ke jenjang pendidikan yang memadahi. Dengan demikian, jelas ikut memutus jalur kemiskinan dengan jalan yang cerdas. Sehingga diharapkan tidak menjadi kendala dalam pembangunan manusia ke depannya secara berkesinambungan.

“Soal pekerja anak bukanlah masalah yang sederhana yang melibatkan banyak pihak. Pekerja anak menjadi isu yang kompleks karena berkaitan dengan masalah  pendidikan, ekonomi, hukum, sosial dan budaya,” ujarnya kepada media.

Diharapkan pembangunan mental dengan kokoh akan terbentuk sehingga terciptalah balance kehidupan yang harmonis di dalam pembangunan nasional yang terus bersinergi.

Editor: Sulis Sutrisna

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here