“Ghost Fleet“ Novel Rujukan Indonesia Bubar Tahun 2030

0
162

Jakarta, namalonews.com- Video Prabowo Subianto di facebook resmi Gerinda yang menyebut Indonesia bubar pada tahun 2030 ternyata bukanlah yang pertama kali diucapkan oleh Ketua Umum Partai Gerinda tersebut. Sebelumnya Prabowo juga pernah berbicara tentang hal yang sama saat acara di Kampus Universitas Indonesia (UI), sambil menunjukkaan Novel Ghost Fleet yang menjadi rujukannya.

Novel Ghost Fleet memiliki ketebalan lebih dari 400 halaman yang ditulis 2 orang ahli strategi dari Amerika, PW Singer dan August Cole serta diterbitkan pada 2015. Terdiri dari 4 bagian ditambah prakata dan epilog. Namun tak ditulis latar waktu secara rinci dalam cerita tersebut. Hanya, di bagian catatan akhir ada tautan tentang prediksi mata uang China, Renminbi (RMB), pada 2030.

“Berikut ini terinspirasi dari tren dan teknologi dunia nyata. Tapi, akhirnya, ini adalah sebuah karya fiksi, bukan prediksi,” tulis Singer dan Cole pada bagian Catatan Penulis di novel tersebut.

Kata ‘Indonesia’ sendiri muncul 7 kali di novel tersebut dan cerita tentang Indonesia untuk pertama kali ada di Bagian I novel itu. Singer dan Cole menuliskan kata ‘former’ pada kata ‘Indonesia’, yang artinya secara harfiah menjadi ‘bekas Indonesia’.

Singer dan Cole menceritakan bagaimana perang dingin berubah jadi panas dengan pertempuran militer hingga persaingan di luar angkasa. Perang di antara negara-negara ini juga terjadi secara siber.

Jika dibaca secara umum memang tak jelas disebutkan kalau Indonesia telah bubar. Tapi ada kalimat ‘bekas Indonesia’ menunjukkan sebelumnya memang pernah ada sebuah wilayah yang dinamakan Indonesia.

Sumber foto: Istimewa

Siapa Singer dan Cole ?

Dilansir dari website www.pwsinger.com, Peter Warren Singer merupakan ahli strategi New America Foundation. Pria kelahiran 1974 itu mendapat sejumlah penghargaan melalui buku-buku yang ditulisnya.

Singer juga diketahui merupakan editor di majalah Popular Science. Oleh Smithsonian, lulusan Princeton University ini ditunjuk sebagai salah satu dari 100 inovator terkemuka. Singer juga diangap sebagai satu dari 100 orang paling berpengaruh dalam isu-isu pertahanan.

Singer juga dijuluki sebagai ‘ilmuan gila’ untuk Komando Pelatihan dan Doktrin Angkatan Darat AS. Oleh analis data media sosial Onalytica, pria ini dianggap sebagai salah satu suara paling berpengaruh di dunia terkait keamanan dunia maya dan juga satu dari 25 orang paling berpengaruh di bidang robotika. Selain itu dia pun masuk dalam Top 100 Global Thinkers versi Foreign Policy.

Singer pun dianggap sebagai salah satu ahli terkemuka dunia tentang perubahan dalam peperangan abad 21. Bahkan sempat menjadi koordinator pasukan kebijakan pertahanan kampanye Barack Obama di tahun 2008 dan direkomendasikan oleh Obama saat menjadi presiden AS kepada Kelompok Penasihat Transformasi militer AS sebagai anggota komite.

Singer juga merupakan pendiri dan penyelenggara Forum Dunia Islam AS, konferensi global yang menyatukan para pemimpin dari seluruh Amerika Serikat dan dunia Muslim.

Sementara itu informasi dari www.augustcole.com, Cole disebut sebagai seorang penulis, futuris dan analis yang mampu mengeksplorasi masa depan konflik. juga merupakan non-residen senior fellow di Brent Scowcroft Center tentang Keamanan Internasional di Dewan Atlantik.

Di Dewan Atlantik itu, Bachelor of Art ini mengarahkan proyek seni masa depan yang mengeksplorasi karya kreatif dan narasi untuk wawasan tentang masa depan konflik dari tahun 2014-2017. Cole bahkan sempat menjadi seorang penulis di sebuah perusahaan konsultan strategi dan manajemen independen yang berfokus pada industri berorientasi pada pemerintah.

Cole juga seorang pembicara reguler baik untuk sektor swasta, akademisi dan pihak AS maupun pemerintah sekutu. Dari tahun 2007-2010, dia menulis untuk media besar The Wall Street Journal mengenai industri pertahanan.

Dari Washington, Cole meliput perusahaan bidang pertahanan mulai dari Boeing hingga Blackwater, serta kebijakan pertahanan dan politik yang lebih luas.

Cole disebut membantu memecahkan banyak cerita keamanan nasional AS, termasuk mata-mata cyber asing yang meretas ke dalam program Joint Strike Fighter AS, kontraktor pertahanan utama yang melakukan pengembangan ‘Smart Power’ di Afrika. Dia juga menulis soal penjualan pesawat tempur F-16 ke Irak dan insiden penembakan sipil Blackwater.

Penulis: Agus Yanto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here