Tarif Tol Akan Dipangkas 50 Persen

0
145

Jakarta, namalonews.com- Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan para menteri bahas rencana pemotongan tarif tol untuk angkutan logsitik.

Rencana pemangkasan tarif tol itu disebabkan banyak angkutan logistik enggan menggunakan tol karena dinilai biayanya terlalu mahal.

Presiden Jokowi memanggil Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimudjono, Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi, dan beberapa pemilik jalan tol untuk ke Istana Negara, Jakarta Pada Kamis (22/03/2018).

Menteri Perhubungan Budi Karya menyebut penurunan tarif tersebut direncanakan karena banyak angkutan logistik yang tidak menggunakan jal tol.  Hal itu dikarenakan, lanjut Budi, tarif tol dianggap terlalu mahal.

“Ini dalam rangka memberikan kemudahan dan kemurahan tarif tol untuk mendukung logistik yang lebih murah,” kata Budi Karya di Istana Negara Pada Kamis (22/03/2018).

Lebih lanjut, penurunan tarif tol itu sudah ditelaah di kementerian. Dengan demikian, tarif tol bisa langsung dipangkas jika aturannya sudah diresmikan. Budi menjelaskan skema penurunan tarif tol bisa menggunakan berbagai cara termasuk di antaranya menurunkan golongan kendaraan.

Dia menyebut bahwa penurunannya bisa mencapai 50 persen dari tarif sebelumnya.

“Contohnya, jadi ini kan ada tarif di satu tempat di Jawa Timur, misal dari Rp 180 ribu menjadi Rp 96 ribu. Jadi, hampir separuh ini,” kata Budi.

Sebelumnya, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menyebut penyesuaian tarif di 5 ruas tol itu tidak adil. Ketua pengurus harian YLKI Tulus Abadi berharap penyesuaian tarif tol harus seimbang dengan pelayanan.

Dia menilai kenaikan tarif tol dalam kota tidak seiring dengan kualitas pelayanan tol dan berpotensi melanggar standar pelayanan jalan tol.

“Kenaikan tarif tol seharusnya diiringi dengan kelancaran lalu lintas dan kecepatan kendaraan di tol. Sehingga, jika ada penyesuaian tarif maka ada hal yang positif dirasakan langsung oleh pengguna tol,” katanya.

Dia pun menyebut bahwa fungsi jalan tol terkadang menjadi sumber kemacetan baru. Hal itu seiring dengan peningkatan volumen kemacetan dan minimnya rekayasa lalu lintas untuk mengendalikan kendaraan pribadi.

Penulis: Boni Ogur

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here