Efek Kenaikan Harga Batu Bara Terhadap PLN

0
141

Jakarta, namalonews.com- Kenaikan biaya energi primer, khususnya batu bara sejak akhir 2016 kemarin, sangat berdampak pada pemasukan untuk perusahaan listrik negara (PLN).

Sepanjang 2017, Perusahaan listrik negara Persero hanya menggaet keuntungan bersih Rp 4,42 triliun. Pemasukan ini mengalami penurunan 45,7 persen atau Rp 8,15 triliun jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Sejak akhir 2016, harga batu bara melonjak signifikan. Padahal, 58 persen produk listrik PLN bersumber dari energi primer batu bara tersebut Sementara itu, pada 2017, biaya pokok produksi PLN meningkat Rp 16,46 triliun. Hal ini disebabkan karena harga batu bara mengalami kenaikan.

Demikian disampaikan oleh Direktur Human Capital Management Perusahaan Listrik Negara (PLN), Muhamad Ali di Jakarta pada Kamis (29/03/2018).

Selain itu, kurs dollar Amerika, Indonesia Crude Price, dan Inflasi juga meningkat drastis sepanjang 2017 jika dibandingkan dengan acuan pada Anggaran Pendapatan Belanja Negara.

Kondisi makro ini pun sangat berdampak pada tarif tenaga listrik sesuai Peraturan Menteri (Permen) ESDM nomor 18 tahun 2017.

Sementara, PLN telah berjuang melakukan efisiensi operasional untuk mengatasi masalah kondisi keuangan perusahaan. PLN telah mempertahankan tarif dan mengendalikan biaya pokok penyediaan di tengah perubahan asumsi makro serta menjaga stabilitas harga gas dan batu bara tersebut.

Dalam 3 tahun, khususnya 2015-2017, penambahan pinjaman PLN secara kumulatif tercatat Rp 83,6 triliun, jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan tambahan penyerapan investasi yang diprediksi Rp 190,7 triliun.

Selama 3 tahun itu juga, PLN berperan dalam memberikan kontribusi fiskal kepada negara yang diperkirakan mencapai Rp 239,5 triliun dari peningkatan pajak dan deviden sebesar Rp 96 triliun serta penghematan subsidi yang telah dibukukan Rp 143,5 triliun.

Total aset PLN sepanjang 2017 meningkat menjadi Rp 1.335 triliun atau naik 250 persen dari 2014.

“Peningkatan tersebut dilakukan setelah adanya evaluasi aset pada 2015. Evaluasi ini dilakukan untuk meningkatkan kemampuan pendanaan PLN,” kata Ali.

Sedangkan, sepanjang 2017 pendapatan usaha melonjak 14,6 persen menjadi Rp 255,29 triliun. Pendapatan usaha perseroan  menguat seiring dengan adanya pertumbuhn penjualan yang diprediksi mencapai 7,1 Twn jika dibandingkan 2016.

“Seiring dengan pertumbuhan produksi listrik, beban usaha perusahaan naik 8,15 persen pada 2017,” katanya.

Penulis: Boni Ogur

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here