Perahu Naga, Kebudayaan Inklusif yang Mendunia

0
270

Jakarta, namalonews.com- Festival perahu naga sampai saat ini masih mengundang daya tarik tersendiri. Tidak jarang kita temukan festivalnya di banyak belahan dunia termasuk Indonesia. Selain bertujuan untuk menarik minat para wisatawan juga merupakan salah satu cabang olahraga yang eksis dipertandingkan. Baik dalam skala lokal, nasional, bahkan internasional. Jika kita mencoba menoleh ke belakang, even perahu naga yang  kian populer ini menyimpan arti dan nilai peradaban Cina yang tinggi.

Sejarah dan cerita temurun dalam masyarakat Cina, festival ini  bertujuan sebagai peringatan kematian Que Yuan (339 SM – 277 SM). Yakni seorang menteri negara Chu di zaman negara-negara berperang. Yang notabene seorang pejabat  berbakat dan setia pada negaranya. Selain banyak memberikan ide juga memberi kemajuan negara Chu, bersatu dengan negara Qi untuk memerangi negara Qin.

Sayang, dalam perjalanannya Qu Yuan dikritik oleh keluarga raja yang tidak senang padanya dan berakhir pada pengusirannya dari negara Chu. Tumpukan kegalauan membuatnya bunuh diri dengan melompat ke sungai Miluo. Ini tercatat dalam buku sejarah Shi Ji. Dalam referensi lain menyebutkan kematian penyair Qu Yuan menenggelamkan dirinya karena merasa muak menjadi korban intrik dan korupsi pejabat.

Rakyat yang kemudian merasa sedih kemudian mencari-cari jenazahnya. Mereka lalu melemparkan nasi dan makanan lain ke dalam sungai dengan maksud agar ikan dan udang dalam sungai tersebut tidak mengganggu jenazah sang menteri. Kemudian untuk menghindari makanan tersebut dari naga dalam sungai maka mereka membungkusnya dengan daun-daunan yang kita kenal sebagai bakcang (sekarang-red). Para nelayan yang mencari-cari jenazah sang menteri dengan berperahu inilah yang akhirnya menjadi cikal bakal dari perlombaan perahu naga setiap tahunnya.

Festival yang telah berumur lebih dari 2.300 tahun ini dirayakan pada saat musim panas, yang banyak terjadi bencana dan manusia merasa tidak berdaya atas kekuatan alam. Juga menjadi simbol atas perlawanan manusia menghadapi alam dan pertarungannya melawan musuh. Termasuk perseteruan di laut.

Merah adalah warna dominan perahu yang bertanding, karena merah adalah warna dari angka lima dan merupakan simbol dari panas, musim panas, dan api. Panjang dari perahu naga antara 30 sampai 100 kaki. Beberapa ritual asli seperti memberikan tanda titik pada kepala naga di setiap perahu masih sampai saat ini dilakukan.

Seiring waktu, perayaan ini lebih sebagai hiburan, dan cabang olahraga. Indonesia pun memiliki beberapa prestasi gemilang pada cabang olahraga perahu naga, dengan persembahan medali emas di Asian Beach Games III, Haiyang, Cina tahun 2012. Kini perahu naga tidak lagi hanya dilakukan secara eksklusif  etnis Tionghoa, tapi menjadi salah satu kebudayaan inklusif yang mendunia.

Penulis: Sulis Sutrisna

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here