Prabowo di Kadar Kontestasi Pilpres 2019

0
664

Jakarta, namalonews.com- Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto bersua kembali. Pertemuan empat mata kedua purnawirawan jenderal tersebut terkesan diam-diam pada suatu restoran di sebuah hotel bintang lima  di Jakarta, Jumat (06/4/2018).

Sufmi Dasco Ahmad, Ketua DPP Partai Gerindra, “Betul ada pertemuan. Pertemuan itu pertemuan biasalah silaturahmi. Kenal udah lama biasa itu. Yang satu mantan komandan yang kedua bekas mantan teman bisnis,” terangnya pada media.

Menurutnya, sebelum ini pun mereka juga sudah sering bersua. Sementara itu, Wakil Sekjen Gerindra Andre Rosiade berpendapat pertemuan kali ini sebagai pertemuan empat mata dalam kontestasi pilpres 2019. Menurutnya, Prabowo ingin maju sebagai kandidat melawan petahana.

“Tapi yang jelas pertemuan Pak Prabowo dan Pak Luhut tidak akan berpengaruh apa pun kepada pencalonan Pak Prabowo sebagai Capres,” kata Andre. Menurutnya, Prabowo saat ini masih menunggu saat yang tepat untuk deklarasi. “Pertemuan antara sahabat lama ini, tidak akan mengubah rencana partai Gerindra mencalonkan Pak Prabowo sebagai capres,” tegasnya pada media.

Di lain pihak, beda dengan kenyataan. Peta politik Pilpres 2019 ini memunculkan dua kandidat yang santer. Yakni Joko Widodo dan Prabowo Subianto. Dua kontestasi diprediksi kuat dalam perebutan kursi RI 1.

Direktur Eksekutif Voxpol Center Pangi Chaniago mengungkapkan, ada perubahan yang cukup signifikan dalam perkembangan citra keduanya. Prabowo cenderung  bersikap blunder. Orasi Prabowo masalah Indonesia bubar tahun 2030 dan Elit Politik Bermental Maling disinyalir menggerus pemilih yang  berpihak ke dirinya.

“Karena anak milenial itu enggak suka dengan sikap-sikap pesimis, mereka suka sama optimisme. Begitu ada pidato Indonesia bubar tahun 2030, itu menggerus pemilih milenial Prabowo sendiri. Ada kemungkinan semakin tergerus karena pidatonya itu,” ujar Pangi dalam sebuah diskusi di Fx Sudirman, Jakarta, Jumat (6/4/2018).

“Bagi generasi milenial, itu membuat mereka tidak nyaman dan tidak suka, mengingat mereka adalah generasi yang optimis. Artinya, generasi milenial yang ada pada Pak Prabowo bisa bergeser,” tambahnya. Pada lain posisi, Pangi menilai Jokowi mampu meraih empati maupun simpati dari generasi melenial. Mereka akan berperhatian pada kandidat yang dianggapnya paling fleksibel.

Penulis: Sulis Sutrisna

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here