Awasi Peluang Monopoli Grab Usai Gaet Uber

0
151

Jakarta, namalonews.com- Komisi pengawas dan Persaingan Usaha (KPPU) akan memantau dan mengawasi perkembangan dan perjalanan bisnis Uber usai diakuisisi Grab. Pengawasan ini dinilai untuk menjamin kepastian akan berlangsungnya bisnis yang sehat dalam transportasi online.

KPPU pastikan jika ada kecurangan salah satu di antaranya, maka regulator akan turun tangan mengatasinya. Kecurangan yang dimaksudkannya adalah adanya kebijakan monopoli harga dari satu pihak tertentu.

“Praktik ini akan kami pastikan untuk terus memantau dari sisi perilaku. Misalnya, apakah nanti Grab mengambil tindakan secara monopoli atau tidak. Karena, Undang-Undangan persaingan usaha tidak boleh adanya berperilaku monopoli,” kata komisioner KPPU Saidah Sakwan pada Senin (9/4/2018).

Selain itu, KPPU juga akan mencermati dan mengawasi proses transisi pengemudi Uber ke Grab. Hal ini bertujuan untuk menghindari terjadinya kerugian pada pengemudi selaku rekan sebagaimana yang tertera dalam Undang-Undang nomor 20 tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah.

Sumber foto: istimewa

“Kami dari KPPU akan memantau dan mengawasi kemitraan uber dan grab bisa memberikan keadilan bagi pengemudi atau berlangsung secara sehat atau tidak, eksploitati atau tidak. Kami akan terus menelesuri hingga mendapat kepastian,” katanya.

Peresmian adanya akuisisi Grab terhadap Uber menjadi sorotan Komisi Persaingan Usaha di Kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Untuk Indonesia, lanjut Saidah, Grab yang telah mengakuisi Uber masih memiliki pesaing ketat. Di antaranya gojek, perusahan aplikator lokal yang bisa bersaing sekarang.

Yang menjadi prioritas untuk dipertimbangkan sekarang adalah sejauh mana efek akuisi Grab terhadap Uber bagi masyarakat selaku pengguna jasa. Pelaku usaha, Yuswohady, menduga akuisisi ini akan berpengaruh pada kebijakan akan kenaikan tarif.

Oleh karena itu, ia selaku pengusaha akan terus berupaya untuk menekan adanya kenaikan tarif demi menggaet ketertarikan konsumen sekaligus menjebolkan pesaingnya sebagaimana yang dilakukan Grab terhadap uber saat ini.

Uber hengkang dari Kawasan Asia Tenggara lantaran terus mengalami kerugian dan selalu kalah bersaing dengan Grab dalam hal subsidi tarif.

Pada 2017, tercatat Uber mengalami kerugian diprediksi mencapai Rp 60 triliun. Oleh karena itu, Yuswohady berharap pemerintah mengantisipasi agar persaingan usaha tidak sehat dalam berbisnis di Indonesia tidak terjadi.

Penulis: Boni Ogur

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here