Inilah Penyebab ‘Gairah’ Perempuan Tinggi

0
340

Jakarta, namalonews.com- Siapa bilang laki-laki itu memiliki gairah bercinta lebih agresif dibanding perempuan? Benarkah gairah perempuan itu lebih tinggi dibanding laki-laki? Jika kita mengacu pada kacamata sains dan terbukti gairah perempuan bisa tinggi.

Untuk lebih jelasnya, seyogianya anda harus tahu dulu yang namanya hormon testosteron. Banyak orang berpendapat bahwa hormon ini adalah hormon seks pada pria. Tidak ada kaitannya dengan  gairah pada pria. Hormon tersebut ternyata  yang berpengaruh terhadap hasrat pada perempuan.

Hasil studi yang terbit dalam jurnal Arcchieves of Sexual Behavior, yang dipimpin Sari Van Anders, pakar Neuroendokrinologi dari University of Michigan, “ Perempuan sehat yang punya tingkat testoteron tinggi memiliki hasrat atau ketertarikan untuk melakukan masturbasi ketimbang melakukan hubungan dengan pasangannya, meski unik temuan ini tak bisa dijadikan rujukan untuk berhubungan dengan pasangannya.”

Tim berhasil mengungkap factor bahwa hasrat untuk melakukan hubungan dipengaruhi pelbagai factor.Terkecuali hormon testosterone. Pada perempuan, hormon ini dihasilkan di kelenjar adrenal. Hormon ini bertugas mengatur tumbuhnya tanda-tanda kelamin sekunder serta pengendapan lemak di sekitar pinggang perempuan.

Nafsu wanita lebih besar dibanding pria.  Barangkali secara ekspresif, wanita lebih malu untuk meunjukkan nafsu yang muncul. Kelihatannya cenderung menutupi dan akhirnya akumulasi nafsunya akan dikeluarkan secara meletup pada sat melakukan hubungan dengan pasangannya. Sedangkan pria dalam kesehariannya lebih cenderung terbuka dan blak-blakan soal seks, sehingga membuat nafsu yang mereka tunjukkan terkesan biasa-biasa saja.

Wanita dengan ras tertentu memiliki nafsuy ang lebih, ini dipengaruhi banyak fakor. Di antaranya gizi yang cukup, kondisi tubuh yang sehat, pikiran yang bersih dan sehat, serta pengaruh lingkungan yang juga dominan. Sebagai contoh, seseorang yang sering mengakses sesuatu yang membuatnya cepat terangsang akan meningkatkan dorongan seks yang lebih progress. Hal ini membuat kondisi yang terbiasa terstimulus oleh sesuatu yang erotis sehingga tidak perlu lagi mendapatkan rangsangan yang signifikan.

Penulis: Sulis Sutrisna

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here