Merugi, SPBU Tak Siap Pasok Premium

0
766

Jakarta, namalonews.com- Kehadiran premium kini kian langka. Ketersediannya kian menurun sejak tahu 2015 silam. Tren penurunan premium terus diikuti peningkatan penggunaan pertalite yang harganya berkisar premium.

Syahrial Mukhtar, Corporate Secretary Pertamina dalam keterangannya, mengenai penurunan premium, pihaknya dalam hal ini pertamina harus mengganti kembali infrastruktur di SPBU. Hal ini dilakukan agar terjadi kompatibel dengan pertalite.

“Ketika ada peralihan penggunaan pertalite ke premium karena perbedaan harga yang melebar, SPBU tidak langsung siap,” terang Syahrial di gedung DPR Selasa (10/04/2018).

Lebih lanjut, Syahrial menyebut, ”Ini menunjukkan komsumsi premium turun. Konsumsi turun itu sifatnya alamiah. Karena masyarakat memilih pertalite atau pertamax yang merupakan produk yang dipandang lebih ramah lingkungan.”

Ada penurunan dari 12,5 juta KL menjadi 7,5 juta KL. Disinggung penurunan permintaan terhadap pertalite karena peningkatan harga, Syahrial mengelaknya. Bukan itu, komsumsi tidak berubah terlalu jauh.

“Perbandingan premium di seluruh Indonesia pada kuartal pertama tinggal 27%, pertalite 50% lebih. Sisanya pertamax dan pertamax turbo,” jelas M. Iskandar, Direktur Pemasaran dan Ritel Korpoarat Petamina, kemarin.

Tentang penyediaan premium, ”Ketika tiba-tiba harga premium ditahan dan pertalite naik, lalu orang kembali ke premium, pasokannya sudah rutin,” terang Iskandar.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM, Djoko, ”Pendistribusian premium memang mengalami penurunan dibanding tahun lalu. Periode Januari hingga Maret, tahun lalu penyaluran di Jawa, Madura, dan Bali mencapai 1,54juta KL dan di luar area tersebut sebesar 2 juta KL,” terangnya. Dibanding dengan tahun ini terjadi penurunan sekitar 50% untuk Jawa, Madura dan Bali. Dan 35% di luar daerah itu.

M.Iskandar mengaku masih merugi berjualan pertalite meskipun sudah menaikkan harga BBM sebanyak dua kali pada tahun berjalan. Harga pertalite yang beredar di pasaran masih di bawah harga keekonomian dibanding dengan premium dan solar. “Saat ini seperti pertalite kami jual rugi. Selisihnya Rp 200 lebih sedikitlah, Rp 280,” tutup Iskandar di Gedung DPR RI pada media, Selasa (10/04/2018).

Penulis: Sulis Sutrisna

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here