Perjalanan Spritual Syekh Nawawi al-Bantani Akan Difilmkan

0
609

Jakarta, namalonews.com- Syekh Nawawi al-Bantani merupakan ulama besar Indonesia, yang juga adalah kakek buyut dari Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia, Maruf Amin. Perjalanan spiritual Syekh Nawawi ini rencananya akan dibuat menjadi sebuah film layar lebar.

Hal tersebut sudah direstui oleh Ketua Umum MUI Maruf dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Rais Aam.  Film yang akan diberi judul Cahaya di Langit Hijaz ini mengisahkan kehidupan Syekh Nawawi al-Bantani (1813-1897), seorang ulama terkemuka Indonesia.

Film Cahaya di Langit Hijaz akan diproduseri Iskandar Siregar yang bekerja sama dengan Max Pictures, rumah produksi yang menghasilkan film-film box office, seperti Dilan 1990.

Tujuan diproduksinya film ini adalah untuk mengenalkan kembali sosok dan kiprah Syekh Nawawi al-Bantani kepada masyarakat Indonesia. Serta memperluas wawasan masyarakat tentang ketokohan ulama-ulama tanah air.

“Syekh Nawawi al-Bantani adalah seorang ulama besar di masanya, yang tidak hanya dikenal di Nusantara, juga di dunia Islam,” kata Maruf Amin.

Sosok Syekh Nawawi juga dikenal sebagai cendekiawan yang memiliki kedalaman ilmu, serta penulis kitab lebih dari 100 judul yang terdiri dari beragam tema dan disiplin ilmu.

Kitab yang masih dipelajari di berbagai pesantren di seluruh Nusantara adalah Tafsir al Munir li Ma’alim at-Tanzil, yang lebih dikenal dengan judul lain Marah Labid Tafsir an-Nawawi.  Atas kedalaman ilmunya Syekh Nawawi al-Bantani dianugerahi gelar : Sayyid Ulama al-Hijaz.

Menurut Amin, kakek buyutnya tersebut merupakan mahaguru ilmu keislaman, tak heran jika  banyak ulama terkemuka negeri ini pernah berguru.

Murid-murid Syekh Nawawi al-Bantani di antaranya KH Mahfuz at-Tirmisi (Pesanteren Tremes, Pacitan), KH Khalil Bangkalan (Madura), KH Hasyim Asyari (Pesantren Tebu Ireng, Jombang, pendiri Nahdlatul Ulama); KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), KH Ilyas  (Serang, Banten), Syekh Sulaiman ar Rasuli (Candung, Sumatra Barat),  Syekh Hasan Maksum (pendiri Al Wasliyah, di Sumatra Utara), dan KH Tubagus Muhammad Asnawi (Caringin).

Penulis: Agus Yanto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here