Tensi Politik Melonjak: Awas Media & Wartawan Abal-Abal

0
294

Jakarta, namalonews.com- Tahun ini tahun politik. Tensi politik pun kian melonjak. Pelbagai kondisi disinyalir cepat berubah dan selalu dinamis. Termasuk pemberitaan informasi. Banyak dijumpai kabar hoax yang tidak bertuan. Daalm kondisi yang ini, Ketua Dewan Pers, Yosep Adi Prasetyo menghimbau agar media massa berhati-hati dalam pemberitaan seputar pemilihan kepala daerah, “Minimal dengan deklarasi ini kita mengingatkan pada mereka untuk hati-hati dalam meliput dan lebih menyuarakan kepentingan public,” terangnya selepas deklarasi liputan media professional untuk pemilu berkualitas, Selasa(10/04/2018).

Lebih lanjut, Dewan Pers menemui sejumlah media abal-abal yang mewarnai perhelatan pilkada tahun ini. Di beberapa daerah ditemukan indikasi tersebut. “Praktik abal-abal, media yang kurang dan tidak jelas, yang melanggar etik, dan medianya bekerja menjadi bagian tim sukses pasangan calon di pilkada. Itu banyak kita temuai,” terangnya.

Ironis sekali. Mestinya hal ini tidak terjadi. Karena merugikan media massa pada umumnya. Selain itu, tentunya bisa menjadi salah satu pemicu hoax. “Banyak sumber yang menjadi hoax tanpa verifikasi maupun konfirmasi.”

Selain hoax, mungkin juga ujuran kebencian. Ini bakal berbaur dengan tingginya tensi politik saat ini. “Biasanya partai-partai sedang bertarung, pasang calon sedang bertarung, selanjutnya hoax menjadi abal-abal juga penyebaran kebencian melalui media social. Itu saling berhubungan satu dengan yang lainnya.”

Dewan Pers masih mengumpulkan data dari jumlah media massa di Indonesia. Sementara ditaksir, ada 47 ribu media.  2 ribu media cetak, 600-an media televisi, 600-an media radio dengan siaran berita dan sisanya media online sebanyak 43.300.  Namun demikian, dari 43.300 hanya 168 yang terverifikasi oleh Dewan Pers.

Ketua Dewan Pers mengajak, lewat deklarasi ini agar media massa bisa memberikan guideline pada politik untuk meilih pasangan calon pemimpinnya, “Ini loh visi misi pasangan calon, silakan dipilih. Apa pun hasilnya ,orang yang terpilih diharapkan bisa mewujudkan wilayahnya menjadi lebih baik dan mensejahterakan masyarakatnya. Dan Pers harus bisa mengawal itu,” terangnya.

Disinggung jikalau ada wartawan yang mengikuti kontestasi pilkada 2018 hendaknya dia mundur dari profesinya, “Suratnya sama dengan tahun 2015 lalu dan sudah kami edarkan kemarin. Begitu juga wartawan yang menjadi tim sukses juga harus mengundurkan diri. Berlaku untuk pemilihan legislative dan pemilihan presiden 2019,” tutupnya.

Penulis: Sulis Sutrisna

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here