Tim Pemantau Harga Pangan Incar Pedagang Nakal

0
168

Jakarta, namalonews.com- Sumatera Barat mengumumkan telah membentuk tim khusus untuk memantau harga pangan harian di pasar. Pembentukan tim ini disebabkan maraknya kartel pangan harian yang mematok harga tinggi.

Oleh karena itu, Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno mendesak tim pemantau harga pangan meringkus para pedagang nakal yang tidak sesuai dengan patokan harga eceran tinggi yang dikeluarkan pemerintah.“Begitu terjadi lonjakan harga di pasar, pemerintah daerah akan gandeng perum Bulog untuk siap mengamankan pasokan atau melakukan intervensi berupa operasi pasar,” demikian Irwan pada Selasa (11/04/2018).

Irwan melanjutkan bahwa pemerintah, khusus kementerian perdagangan, telah menetapkan harga eceran tertinggi sebagai rujukan bagi pedagang dalam menjual komoditas. Berdasarkan kebijakan tersebut, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat mengingatkan para pedagang pasar dan pengelolah ritel modern untuk tidak menjual bahan pangan stategis di atas harga eceran tertinggi.

Misalnya, gula pasir harus dijual dengan harga eceran tertinggi mencapai Rp 12.500 per kilogram. Daging beku harus berkisar Rp 80 ribu per kilogram, dan minyak goreng curah kemasan tercatat Rp 11 ribu per liter.

Sementara, beras premium harus dijual dengan harga eceran tertingginya Rp 13.300 per kilogram, beras medium berkisar Rp 9.850 per kilogram, dan daging Rp 80 ribu per kilogram.

Di samping itu, Pemerintah provinsi Sumatera Barat juga pernah mengupayakan kestabilan pasokan cabai merah. Di antaranya, pemerintah provinsi memberikan benih cabai merah kepada warga. Bahkan, penanaman cabai merah pernah dikampanyekan di kalangan masyarakat Sumatera Barat.

Gubernur Sumatera Barat menilai penanaman cabai merah secara mandiri bisa memangkas ketergantungan masyarakat terhadap pasokan cabai merah di pasaran.

“Karena cabai juga rentan dengan cuaca. Jadi, besar-kecil jumlah penghasilan cabai sangat ditentukan juga oleh perubahan cuaca,” kata Irwan.

Oleh karena itu, pemerintah provinsi, lanjut Irwan, menyiapkan sejumlah jalan keluar untuk mengatasi kekurangan pasokan cabai merah tersebut.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa pemerintah provinsi juga menggalakkan cabai giling yang bisa disimpat dengan aman. Semua ini, menurut Irwan, sebagai langkah antisipatif terhadap terjadinya kekuarang pasokan atau persediaan cabai merah.

Penulis: Boni Ogur

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here