Obligasi Bank, Bagaimana Dengan Kredit?

0
197

Jakarta, namalonews.com- Ditegaskan, Bank Indonesia  meyakini bahwa perbankan di Indonesia akan mengurangi penyaluran kredit bagi UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah). Hal terkait karena adanya pelemahan penyaluran pembiayaan yang melalui obligasi dengan risiko yang relative lebih kecil.

Dody Budi Waluyo, Asisten Gubernur Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia menegaskan, “Risiko pembiayaan melalui obligasi memang relative kecil dibanding kredit. Namun keuntungan terbesarnya untuk perbankan yaitu melalui pendapatan dari bunga kredit. Terkait hal ini, perbankan juga sudah mengantisipasi risiko yang mungkin terjadi dari kredit bermasalah di tahun ini.”

Tidak usah repot lagi, semestinya perbankan telah memiliki cara dan strategi dalam hal penyaluran kredit. “Pada suatu saat nanti saya tidak melihat perbankan akan beralih mmebeli surat-surat berharga (SSB) jika dibangdingkan penyaluran kreditnya,” tambahnya pada media Kamis, 12/04/2018.

Pendapatan dari bunga kredit lebih baik daripada dari bunga obligasi. Sehingga perbankan dipandang sebagai salah satu sumber utama laba dari perbankan, karena pendapatan dari bunga kredit tersebut sumber utama maka perbankan tidak akan meninggalkan intermediasi melalui kredit.

Kredit sangat vital bahkan sebagai rohnya bagi bisnis perbankan. Sehingga tidak bisa menggunakannya relaksasi pembiayaan melalui obligasi. Pembiayaan obligasi akan dihitung sebagai kredit bagi obligasi dengan peringkat tertentu. Yakni layak investasi.yang diterbitkan lewat korporasi nonbank dan nonindustri keuangan nonbank.

Sebagai pengganti ketentuan rasio pendanaan terhadapan simpanan, bank sentral telah menerapkan RIM (Rasio Intermediasi Makroprudensial). Perbedaannya antara RIM dan LFR yakni perbankan dapat menyalurkan kredit ataupun pembiayaan dengan memberi obligasi korporasi dan bukan dengan cara menyalurkan biaya kredit pada para nasabah. RIM dan LFR sama-sama mempunyai rasio 80-92%. Namun jika perbankan mempunyai RIM di bawah 80% atau bahkan di atas 92% maka bank Indonesia akan menerapkan sanksi penambahan setoran giro.

Menyikapi hal terkait, Bank Indonesia juga telah menerbitkan regulasi tentang Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM). Sehingga bank sentral mempersilakan para perbankan untuk membeli surat- surat berharga.

Beda lagi dengan Bhima Yudhistira Adhinegara, Ekonom dalam keterangannya, “Kebijakan itu akan membuat  perbankan akan lebih memilih surat-surat berharga dibanding dengan menyalurkan kredit. Bank sentral belum memberi limit pembelian SSB. Sehingga bank akan lebih memilih pembelian obligasi yang berisiko kecil.”

Penulis: Sulis Sutrisna

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here