Besok, Tim Pencari Fakta Masuki Wilayah Konflik Suriah

0
165

Jakarta, namalonews.com- Rabu 17 April, Tim Pencari Fakta dari organisasi pelarangan penggunaan senjata kimia akan memasuki lokasi dugaan serangan senjata kimia di Douma Suriah. Hal ini berarti penyidik berada dan tiba di lokasi tersebut setelah 11 hari terjadinya serangan senjata kimia oleh pasukan Suriah terhadap lokasi wilayah pemberontak itu.

Dilansir dari BBC pada Selasa (16/04/2018), tim pencari fakta dari lembaga internasional itu sudah berada di Suriah sejak Sabtu (14/4/2018). Namun, mereka belum diizinkan untuk memasuki wilayah konflik Douma.

Tim pencari fakta tersebut diimbaukan agar mempersiapkan sampel berupa tanah dan lainnya untuk mengidentifikasi kemungkinan penggunaan senjata kimia di Douma tersebut.

Namun, upaya ini dikhawatirkan oleh Amerika Serikat. Amerika Serikat menduga bahwa Rusia telah terlebih dahulu menghapus jejak penggunaan senjata kimia untuk menghalangi proses penyelidikan selanjutnya.

Sementara itu, pihak Rusia membantah tuduhan sekaligus kekhawatiran Amerika Serikat tersebut. Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menegaskan bahwa dirinya menjamin Rusia tidak merusak wilayah Douma yang diduga menjadi bukti penggunaan senjata kimia Suriah.

Dia mengatakan bahwa komentar AS, Inggris, dan Perancis hanya bersumber pada laporan media dan media sosial. Dia menyayangkan sikap ketiga negara tersebut karena belum memiliki bukti yang akurat dan belum memulai investigasi.

Sebelumnya, Rusia dan Suriah membantah telah menghapus atau merusak wilayah Douma untuk menghalangi proses investigasi.

Pada 7 April 2018, pasukan pemberontak diserang oleh tentara Suriah yang diduga menggunakan senjata kimia. Sehingga, puluhan warga sipil tewas di Douma.

Tim Medis melaporkan bahwa meraka menemukan banyak korban yang mengeluarkan busa dari mulut, kulit menghitam, dan kornea yang terbakar.

Pihak Amerika Serikat mengklaim bahwa mereka telah memerika sampel darah dan urin dari korban. Hasil pemeriksaan tersebut dilaporkan positif terpapar klorin dan racun saraf.

Sejauh ini, Douma berada di bawah kekuasaan pemerintahan dan militer Suriah.

Dugaan penggunaan senjata kimia tersebut memicu adanya serangan militer dari Amerika Serikat dan negara sekutu pada Sabtu (14/4/2018). Amerika Serikat mengklaim telah meluncurkan 105 rudal yang tidak bisa dihalangi dan diantisipasi oleh militer Suriah.

Salah satu lokasi yang dibanjiri rudal adalah kompleks barzeh, dan diyakini oleh Amerika Serikat sebagai pusat pengembangan, produksi, dan uji coba senjata kimia dan biologi. Namun, pihak Suriah kembali menyangkal tuduhan tersebut.

Penulis: Boni Ogur

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here