Ini Strategi Indonesia Hadapi Uni Eropa Terkait Sawit

0
161

Jakarta, namalonews.com- Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kementerian Luar Negeri Siswo Pramono menyebut pemerintah Indonesia siap menghadapi Uni Eropa untuk pentahapan keluar atau phasing out biofuel berbasis kelapa sawit.

Pramono mengatakan bahwa pemerintah Indonesia menyiapkan berbagai strategi di antaranya dengan pembentukan Council for Palm Oil Producing Countries (CPOPC) untuk menciptakan posisi bersama negara-negara penghasil kepala sawit. Selain itu, pemerintah Indonesia juga berupaya mencari pasar baru, meningkatkan penyerapan pemakaian dalam negeri, dan mengelola pasar yang telah ada.

“Kelapa sawit merupakan komoditas utama ekspor Indonesia. Pasar terbesar itu adalah India, Cina, dan juga Pakistan,” kata Pramono pada Senin (23/4/2018).

Saat ini tercatat 40 persen perkebunan kelapa sawit dilimpahkan ke petani kecil. Dalam hubungan dengan ini, kelapa sawit memiliki peran penting untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan. Misalnya, kita, petani kecil, harus bisa menjaga lingkungan, dan membebaskan petani dari belenggu kemiskinan.

Pemerintah Indonesia, lanjutnya, telah meneruskan apsirasi tersebut kepada Uni Eropa dan mengharapkan dukungan penuh Uni Eropa dalam upaya mewujudkan pembangunan berkelanjutan.

Pemerintah Indonesia juga mengajak para duta besar dan perwakilan kedubes negara anggota Uni Eropa untuk melihat pengelolaan industri sawit lestari.

Para delegasi negara Uni Eropa tersebut juga diajak mengunjungi pembangkit listrik tenaga biogas yang dibangun sebagai bagian dari Zero Waste Management.

Kegiatan kunjungan itu merupakan hasil koordinasi dan kerja sama antara kementerian luar negeri, Badan pengelola dana perkebunan sawit, dan Universitas Jambi. Kegiatan yang berlangsung selama 3 hari itu bertujuan untuk memperlihatkan praktik pengelolaan kelapa sawit di Indonesia.

Penulis: Boni Ogur

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here