Jalan Pintas Akses Jaminan Sosial

0
158

Jakarta, namalonews.com- Akses jaminan sosial masih mengalami kesulitan. Diperkirakan 50 persen penduduk dunia belum mendapatkan akses ke jaminan sosial. Sedangkan, pekerja migran hanya 20 persen yang telah memiliki akses tersebut.

Hal ini terjadi karena prosedur penyelesaian jaminan sosial masih susah dan membutuhkan waktu berminggu atau bahkan berbulan-bulan. Demikian disampaikan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan.

Selain itu, Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan Agus Susanto menyebut pihaknya juga mengalami hambatan untuk merambah seluruh pelosok Indonesia terkait jaminan sosial tersebut.

Menyikapi persoalan tersebut, pihak BPJS Ketenagakerjaan mulai gencar melakukan transformasi digital pada sistem teknologi informatika. Susanto menyebut transformasi digital bisa meningkatkan kapasitas dan memperbarui kanal e-service layanan.

“Tujuan peningkatan sistem yang berbasis digital ini adalah tingkatkan pelayanan para peserta dan stakeholders secara mandiri. Dengan demikian, para peserta bisa mengakses informasi, mencetak kartu, mengecek saldo, melakukan pembayaran, pengaduan, dan mendaftar antrian,” kata Susanto pada Senin (23/4/2018).

Saat ini, BPJS Ketenagakerjaan telah mulai menerapkan otomasi proses bisnis sistem aplikasi perluasan kepesertaan dan aplikasi pendaftaran pekerja migran Indonesia. Kedua aplikasi ini hanya bisa terlaksanakan dengan smartphone. Dengan demikan, peserta tidak lagi membutuhkan dokumen dalam bentuk kertas.

Dalam transformasi digital tersebut, peserta dan pihak terkait saling menceritakan visi dan tujuan yang ingin dicapai.

Selain itu, Susanto berharap pemimpin juga harus terlibat aktif dalam mengawal komitmen akan terwujudnya perubahan. Dalam hubungan ini, pemimpin harus menguasai arah dan proses transformasi dalam teknologi tersebut.

Susanto menambahkan bahwa keterlibatan pemimpin untuk memastikan relevansi solusi saat ini dan mendatang. Semangat mulia ini harus diboncengi dengan proses berpikir dan perspektif digital.

Transformasi teknologi yang berbasis digital, lanjut Susanto, sebagai tindak lanjut atas reformasi sistem jaminan sosial Nasional seperti yang dicetuskan pemerintah Indonesia pada 2014. Selain itu, tranformasi digital juga bisa memangakas biaya dan meningkatkan efektifitas pekerjaan.

Sekretaris Jenderal Internasioanl Sosial Security Association Hans Horst Konkolewsky memprediksi 45 persen pekerjaan akan dilakukan secara otomatis pada masa mendatang. Seiring dengan langkah maju itu, administrasi jaminan sosial harus juga mampu menyamai harapan publik.

Penulis: Boni Ogur

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here