Pertemuan Jokowi dan Alumni 212, Bengkok: Kontestasi Kurang Sehat?

0
272

Jakarta, namalonews.com- Suhu politik  cepat memuai di tahun politik. Kedinamisan begitu cepat menggeliat seolah membangunkan mentari pagi segera memulai aktivitasnya. Perang politik maupun perang pena terus berkibar dalam informasi yang kian canggih dan terkini.

Seperti yang disampaikan Ari Nurcahyo, Direktur Eksekutif PARA Syndicate, mensinyalir pertemuan antara Presiden Joko Widodo dengan Persatuan Alumni 212 dalam rangka komuikasi politik tersebut mampu dan bisa membuat terciptanya kedamaian antara beberapa pihak.

Lebih lanjut beliau memberi penerangan bahwa jikalau hasil pertemuan kemarin dianggap ada sesuatu yang bengkok, ya harusnya kita bisa luruskan dan fokuskan ke arah depannya. Meski ada berapa partisipan yang menganggap pertemuan tersebut hanya sebuah manuver politik dalam melobi suatu kubu untuk pemenangan pilpres mendatang. Namun hal itu dianggapnya biasa terjadi. Karena memang di tahun politik suhu politik ikut fluktuatif.

“Ya waktu pertemuan berlangsung ya kita harap kita bisa meluruskan apa yang kemarin dianggapnya ’bengkok’  kita harus fokuskan ke arah depannya,” tuturnya pada media, Kamis 26/04/2018.

Lebih lanjut beliau menambahkan, hasil pertemuan tersebut positif dikarenakan mampu mengkonstruksi demokrasi ke depan yang kian beradap. Dalam hal ini kita tetap dalam wadah satu bangsa. Hari ini pembelahan public antara yang pro dan yang kontra kepada BapakPresiden Joko Widodo, termasuk Alumni 212, dapat diselesaikan secara damai dan mufakat baik.

Setelah didapati komunikasi antara dua pihak, yang pro dan kontra, disinyalir hal tersebut dapat mencairkan dari pembelahan yang menggelayuti masyarakat yang sangat kental. Jadi tidak ada lagi anggapan masyarakat yang mengecap mereka itu kelompok bebuyutan. Dan hal itu tidak ada ada dan pernah terjadi di negara demokrasi tercinta ini.

Sebaliknya dengan adanya komunikasi ini bakal menciptakan optimisme dan solidaritas bersama – sama. “Berangkulanlah. Kita ini satu bangsa, mari kita melaksanakan demokrasi kerakyatan yang professional dan merakyat. Mari kita berkontestasi secara sehat dan mengedepankan rasionalitas, tapi bukan malah SARA maupun politik identitas,” tambahnya.

Lebih lanjut lagi, pertemuan antara Presiden Joko Widodo dengan Alumni 212 dinilai mengafirmasi adanya hubungan politik bersama guna menciptakan ke depan yang lebih kondusif. Hal ini seharusnya tidak hanya berlaku di elit politik saja yang saling menghormati dan mengendalikan diri, tetapi juga berlaku di masyarakat pendukung lapisan bawah.

Sebelumnya Bapak Presiden Joko Widodo  dalam keterangan kepada media mengaku dirinya bertemu dengan Alumni 212.  Tak lain pertemuan tersebut untuk menjalin tali silaturahmi semata dengan pelbagai ulama, kiai, ustaz, dari seluruh provinsi yang ada di Indonesia.

Di sisi lain, Kepala Staf Presiden Joko Widodo, Moeldoko menerangkan, pertemuan Joko Widodo dengan Alumni 212 sebagai rekan demokrasi. Dan bukan lawan tanding. Mereka adalah partisipan dari kompenen suata bangsa, yakni Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Penulis: Sulis Sutrisna

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here