2,2 Juta Orang Meninggal Akibat Polusi di Pasifik Barat

0
164

Jakarta, namalonews.com- 2,2 juta dari 7 juta kematian pradini setiap tahun akibat polusi udara di Pasifik Barat. Demikian hasil rilisan terbaru dari organisasi kesehatan dunia (WHO) pada Rabu (2/5/2018).

Wilayah Pasifik Barat dihuni oleh seperempat penduduk dunia. Perkiraan WHO terbaru itu menunjukkan 9 dari 10 orang menghirup udara yang berpolusi tinggi dari rumah tangga atau di luar rumah.

“Udara yang tercemar menembus paru-paru dan jantung warga,” tulis WHO.

Dari 2,2 juta orang yang meninggal pada 2016 tersebut, WHO menyebut 29 persen karena penyakit jantung, 27 persen stroke, 22 persen penyakit paru-paru kronis, 14 persen kanker paru-paru, dan 8 persen radang paru-paru.

“Polusi udara adalah ancaman kesehatan lingkungan hidup yang paling mematikan bagi keberlangsungan kehidupan manusia,” kata Shin Young Soo, Direktur regional WHO Pasifik Barat.

Young-Sho mendesak semua pihak segera bekerja sama menangani masalah polusi udara dan perubahan iklim tersebut.

“Masalah ini tidak bisa diselesaikan oleh orang per orang atau sektor kesehatan semata, tapi harus melibatkan seluruh sektor kehidupan manusia. Di antaranya energi, pertanian, transportasi, perumahan dan lain-lain guna mewujudkan masa depan yang sehat,” lanjutnya.

Polusi udara, tambahnya, lingkungan hidup bisa mempengaruhi daerah kota dan desa. Sumber utama munculnya polusi tersebut adalah penggunaan energi yang berlebihan dalam industri rumah tangga, dan lain-lain.

Selain itu, WHO juga menyebut bahwa pasar dan gurun serta pembakaran sampah menjadi sumber terjadinya polusi udara. Faktor geografik, meteorologi, dan musim juga turut berpengaruh dalam mencemari lingkungan hidup.

WHO menyatakan bahwa lebih dari 40 persen penduduk dunia masih belum memiliki akses ke bahan bakar masak yang bersih dan terjamin. WHO menilai perempuan menjadi korban yang rentan alami dampak pencemaran udara tersebut.

“Polusi udara mengancam kita semua, tapi orang paling miskin dan tersisih harus memikul berat ini,” kata direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom. Adhanom meminta semua pihak terlibat aktif untuk segera mengatasi masalah ini jika ingin meneruskan pembangunan berkelanjutan.

Penulis: Boni Ogur

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here