Pertemuan Jokowi dengan Persaudaraan Alumni 212, Agenda Politik?

0
91

Jakarta, namalonews.com- Pertemuan antara Presiden Joko Widodo dengan deretan pemimpin PA (Persaudaraan Alumni) 212 dianggap sebagai langkah Jokowi dalam melunakkan organisasi-organisasi yang berhaluan Islam. Sedangkan pihak dari PA 212 sendiri dinilai mengambil manfaat untuk memperbesar ruangnya dalam kepentingan serta tuntutannya.
Disisi lain, Noorhaidi Hasan, Guru Besar Politik Islam di Universitas Negeri Sunan Kalijaga menilai bahwa pertemuan yang dilakukan oleh Presiden Jokowi tersebut merupakan suatu langkah yang sudah semestinya dilakukan oleh seorang presiden saat tensi politik kian memanas karena dibawanya agama dalam ranah politik.

Kelompok Persaudaraan 212 ini sendiri merupakan salah satu dari mereka yang sebelumnya ada di balik gerakan menurunkan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok dari kursinya sebagai Gubernur DKI Jakarta karena isu penistaan agama.
Pertemuan yang sebelumnya menjadi rahasia tersebut disinyalir menguntunkan presiden Jokowi dalam hal menambah dukungan dari kelompok atau pihak yang selama ini telah bersebarangan secara politik dengannya. Apalagi, setelah pencalonan dirinya dan Prabowo yang sudah menjadi lawan politiknya sejak beberapa waktu lalu mulai mewacana.

“Logika yang dibuat Presiden Joko Widodo adalah untuk merangkul pihak yang selama ini menjadi oposisi dan tergabung dalam 212 yang berpusat pada ketokohan Prabowo. Kita dapat membacanya sebagai sebuah usaha untuk merangkul semua itu,” tutur Noorhaidi.

Meskipun demikian, petinggi Persaudaraan Alumni 212 membantah bahwa dalam pertemuan tersebut terjadi pembahasan politik. Muhammad al Khatthat selaku Sekretaris dari Tim 11 Ulama Alumni 212 menegaskan bahwa yang dibahas adalah isu kriminalisasi ulama setelah rangkaian aksi yang telah dilaksanakan.

“Kita tidak membahas mengenai politik, kita lebih fokus untuk menyampaikan informasi yang akurat terkait dengan fakta kriminalisasi terhadap Presiden,” ujar Muhammad al Khatthat.
Muhammad juga menambahkan bahwa pihaknya meminta Presiden untuk menghentikan kebijakan soal kriminalisasi ini dan hal ini tidak ada kaitannya dengan suhu politik.

Sedangkan dari pihak Presiden Jokowi sendiri, ia menyebutkan bahwa pertemuan yang berlangsung di Istana Bogor tersebut diselenggarakan untuk menjalin tali silaturami, sama seperti pertemuanpertemuan yang sering dilakukannya bersama dengan para ulama lain.
Pertemuan tersebut sebenarnya merupakan pertemuan tertutup yang dilaksanakan di Bogor. Setelah beredarnya foto pertemuan tersebut di dunia maya lah kemudian dilakukan konferensi pers oleh PA 212 untuk mengonfirmasi kebenaran pertemuan tersebut.

Misbahul Anam, selaku ketua Tim 11 dari Ulama Alumni 212 menyatakan bahwa bocornya foto tersebut serta kabar mengenai pertemuan pihaknya dengan Presiden Joko Widodo sangat disayangkan. Menurutnya, ada pihak ketiga yang bermaksud mengadu domba umat Islam dengan presiden Jokowi dengan adanya foto tersebut.

Dalam konferensi pers yang dilakukan beberapa waktu lalu tersebut, Anam menegaskan bahwa pertemuan tersebut bertujuan untuk memberikan informasi yang akurat mengenai kasus-kasus yang ada kaitannya dengan kriminalisasi ulama serta aktivis 212.
“Pertemuan ini bertujuan agar presiden dapat mengambil kebijakan untuk menghentikan kriminalisasi ulama serta aktivis 212. Dan kemudian mengembalikan hak-hak mereka sebagai warga negara,” tutur Anam.

Dalam hal ini, Usamah Hisyam juga menjelaskan bahwa pertemuan tersebut juga merupakan bentuk tindak lanjut dari Persaudaraan Alumni 212 untuk menemui presiden terkait Rizieq Shihab yang dianggap sebagi korban dari kriminalisasi ulama.

“Presiden Jokowi menanyakan soal rencana pertemuan, selain untuk silaturahmi, juga agar kriminalisasi ulama dihentikan. Hal ini penting untuk mencairkan masalah miskomunikasi antara presiden dan para ulama,” ujar Usamah Hisyam.

Saat ditanya soal respons dari Presiden Jokowi terkait dengan tuntutan tersebut, Muhammad Al Khattat selaku sekretaris mengungkapkan bahwa pihak istana masih dalam tahap mempertimbangkan atas tuntutan yang mereka bawa tersebut.

Pihak Presiden Jokowi pun mengiyakan terkait dengan tujuan dari pertemuan tersebut yaitu untuk silaturahmi dengan ulama seperti yang biasa ia lakukan. Ia juga menambahkan bahwa pertemuan ini diharapkan bisa menemukan solusi dari persoalan yang saat ini ada di masyarakat.

Dan terkait dengan pandangan bahwa adanya maksud politik di dalam kegiatan tersebut, Noorhaidi menyebut bahwa kegiatan tersebut bisa dianggap sebagai langkah politik untuk merangkaul kekuatan politik yang cerdas.

Penulis: Sulis Sutrisna/ Berbagai Sumber

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here