Kemenkes: Butuh Revolusi Untuk kurangi Prevalensi Merokok

0
170

Jakarta, namalonews.com- Salah satu target Pemerintahan Jokowi-Kalla adalah penurunan prevalensi merokok. Namun, Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Anung Sugiantono menyebut akan sangat sulit terwujud. Lantas, Sugiantono mengimbau untuk melakukan revolusi yang keras dan masih untuk mengatasi masalah ini.

Perokok pemula, lanjut Sugiantono, berusia muda. Permasalah ini harus diatasi secara bersama demi mewujudkan upaya penurunan prevalensi merokok.

Tantangan ke depannya, katanya, adalah bagaimana membangun kesadaran dan komitmen kuat bersama masyarakat dan pemerintah akan pentingnya lingkungan yang sehat dan bebas asap rokok.

Berdasarkan hasil survei kesehatan Dasar 2013, proporsi perokok terbesar berada pada kisaran usia 15-19 tahun yaitu 7,1 persen perokok.

Dikabarkan penduduk usia 15 tahun ke atas, perilaku merokonnya meningkat dari 34,2 persen pada 2007 menjadi 36,3 persen pada 2013. Bila dilihat dari jenis kelamin, presentasi pengguna rokok adalah 64,9 persen untuk laki-laki dan 2,1 persen untuk perempuan.

Berdasarkan hasil rilisan Survei Sosial Ekonomi Nasional pada 2005, belanja bulanan rumah tangga perokok menempatkan belanja tembakau di urutan kedua yakin 10,4 persen dan pendapatan keluarga. Padi-padian tempati urutan pertama dengan 11,3 persen dari pendapatan keluarga.

Pembelanjaan tembakau setara dengan 5 kali belanja daging, telur, susu, tiga kali biaya pendidikan dan empat kali untuk keperluan kesehatan.

Penulis: Boni Ogur

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here