Soal Bagi-bagi Sembako di Monas, Kuasa Hukum: Ini Bukan Kegiatan Politik

0
384

Jakarta, namalonews.com- Hendri Indraguna selaku pengacara dari Panitia Kegiatan Sembako Forum Untukmu Indonesia atau FUI menyebutkan bahwa kegiatan bagi-bagi sembako yang diselenggarakan di Monas, Jakarta Pusat tersebut bukanlah sebuah kegiatan politik.

Kegiatan pembagian sembako yang menyebabkan tewasnya dua orang korban tersebut dikatakan Hendri tak ada hubungannya dengan Charles Honoris yang merupakan salah satu anggota parlemen RI dari Fraksi PDI Perjuangan.

Menurutnya, kupon sembako yang diduga membuat gambar Charles Honoris dan tersebar di masyarakat adalah tidak benar. Sebab, kupon acara pembagian sembako yang terselenggara oleh FUI tersebut tidak ada gambar atau pun foto apa pun karena di dalamnya hanya ada tulisan saja.

“Itu bukan kupon (pembagian sembako) kita, kupon kita tak ada gambar, foto atau yang lainnya. Cuma ada tulisan saja Rp 5.000 dan Rp 10.000 serta kupon sembako,” jelas Hendri ketika dihubungi pada Sabtu, 5 Mei 2018 lalu.

Selain itu, Hendri juga menjelaskan bahwa kegiatan pembagian sembako yang terselenggara pekan lalu tersebut juga bukan sebuah kegiatan politik yang dilakukan oleh satu pihak. Karena, kegiatan tersebut memang murni hasil dari iuran pengusaha-pengusaha yang ingin berbagi pada warga di Jakarta.

“Acara tersebut tak ada hubungannya dengan politik, itu tak ada sama sekali. Ini (Acara pembagian sembako) murni dari pengusaha, mereka ingin menyumbangkan kepada masyarakat khususnya warga Jakarta,” tambahnya.

Oleh karena itu, Hendri berharap agar tidak ada yang menarik kesimpulan bahwa kegiatan bagi-bagi sembako yang telah digelar oleh FUI tersebut merupakan suatu bentuk kegiatan untuk kepentingan politik.

Apalagi dengan mengatakan bahwa FUI menyebarkan kupon dengan foto atau gambar Charles Honoris di dalamnya. Sebab, kegiatan tersebut memang murni kegiatan sosial.

“Ini murni acara sosial tak ada urusannya dengan politik manapun juga, sudah dijelaskan juga di pintu masuk jika semua atribut parpol tidak ada yang boleh masuk. Kami ada foto-foto semua (bukti),” jelas Hendri.

Sementara itu, Hendri mengaku bahwa pihaknya juga pernah mengutus beberapa orang untuk melakukan kunjungan ke keluarga korban dalam rangka memberikan santunan duka. Akan tetapi, dia tidak tahu kebenaran pengakuan mereka yang menyebutkan bahwa mereka adalah relawan Merah Putih.

“Itu sebenarnya utusan dari kami, tetapi dikatakan sebagai uang tutup mulut yang itu adalah salah. Sebab itu adalah titipin saja untuk uang duka, kami berniat baik,” jelasnya lagi.

Sebelumnya, pembagian sembako yang dilaksanakan oleh Forum Untukmu Indonesia tersebut telah menewaskan dua orang bocah di bawah umur berinisial A (11) dan M (13). Karena hal tersebut lah, keluarga korban pun melaporkan pihak panitia penyelenggara agar bisa mendapat keadilan yang mereka berhak dapatkan.

Pihak kepolisian sendiri tengah menyelidiki kasus tersebut untuk mencari tahu apa sebenarnya dibalik penyelenggaraan kegiatan yang berujung maut tersebut. Saat ini polisi sedang menyelidiki izin dari kegiatan yang berlangsung di Monumen Nasional tersebut.

“Izin kegiatan sedang diselidiki,” ungkap Komisaris Besar Polisi Argo Yuwono yang menjabat sebagai Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya pada Kamis (3/5).

Argo sendiri menyebutkan bahwa pihaknya masih belum bisa merinci soal kematian dua anak tersebut karena saat ini masih dalam proses penyelidikan dan pengumpulan informasi. Argo mengatakan bahwa Mabes Polri akan melimpahkan laporan yang dibuat oleh salah satu orang tua korban kepada tim gabungan dari penyidik Polda Metro Jakarta Pusat dengan Polda Metro Jaya.

Kronologis dari kejadian tersebut adalah saat petugas kepolisian mendapatkan laporan bahwa seorang remaja berumur 13 tahun tak sadarkan diri di kawasan Mabes TNI Angkatan Darat, Jakarta Pusat pada Sabtu, 28 April lalu.

Pada saat itu, petugas Satpol PP (Satuan Polisi Pamong Praja) melintasi tempat kejadian dengan membawa mobil ambulans. Kemudian, remaja tersebut pun dilarikan ke Rumah Sakit Tarakan di Jakarta Pusat.

Ketika sampai di Rumah Sakit Tarakan, korban masih dalam keadaan hidup dan setelah menjalani perawatan beberapa waktu setelah itu nyawa remaja tersebut ternyata tidak bisa ditolong lagi.

Dugaan sementara, korban tersebut meninggal dunia karena suhu badannya meningkat dan mengalami dehidrasi karena kurangnya cairan. Kemudian, politi juga menerima laporan jika seorang remaja berumur 11 tahun juga meninggal dunia di rumah sakit yang sama pada Minggu, 29 April sekitar pukul 5 pagi.

Salah satu politisi PDI Perjuangan, Gembong Warsono yang merupakan Ketua Fraksi PDI Perjuangan di DPRD DKI Jakarta mengungkapkan bahwa pihak keluarga agar bisa mendapatkan keadilan dari panitia penyelenggara. Ia ingin penegak hukum agar mengusutnya sampai ke akarnya.

“Apapun itu, keluarga korban harus mendapat keadilan,” sebut Gembong saat ditemui di DPRD DKI Jakarta pada Jumat (3/5).

Sebelumnya, ayah korban kegiatan bagi-bagi sembako tersebut pun sudah diminta hadir untuk memberikan keterangan soal kronologis kematian anaknya.

“Saya memenuhi panggilan polisi saja untuk klarifikasi kronologis kejadian,” jelas Djunaedi, ayah korban di Polda Metro Jaya.

Djunaedi sendiri mengaku bahwa dirinya sudah mengikhlaskan kepergian anaknya yang meninggal setelah acara pembagian sembako yang dilakukan oleh FUI tersebut.

“Sebagai orang tua, saya dan istri serta keluarga sudah mengikhlaskan. Mungkin memang sudah jalan Allah,” ucapnya.

Oleh sebab itu, Djunaedi menyebutkan bahwa pihaknya tidak akan melanjutkan kasus tersebut ke ranah hukum. Ia tidak ingin menuntut panitia penyelenggara bagi-bagi sembako tersebut terkait dengan kematian anaknya.

“Kami ikhlas, tidak akan melanjutkan. Pihak terkait sudah memperhatikan juga. Dari staf dinas pariwisata datang ke rumah, wali kota, staf pemkot yang mewakili gubernur dan wakil gubernur serta camat sudah mengucapkan belasungkawa,” kata Djunaedi.

Dalam kesempatan tersebut, Djunaedi juga mengungkapkan bahwa ada pihak yang mengatasnamakan diri mereka sebagai relawan untuk memberikan uang belasungkawa kepadanya. Bahkan, ada juga pihak dari panitia yang mengatasnamakan sebagai relawan.

“Ada perhatian ke keluarga kami. Saya sudah ikhlas, tak ada tekanan,” tambahnya.

Terkait dengan kasus pembagian sembako tersebut, Sandiaga Uno selaku Wakil Gubernur DKI Jakarta menyebutkan bahwa Pemprov DKI selanjutnya akan memperketat perizinan terkait dengan penyelenggaraan acara apapun di Monas. Hal tersebut dikatakan untuk menanggulangi insiden pembagian sembako tersebut tidak terulang lagi.

“Perizinan akan betul-betul diteliti dengan baik,” jelas Sandiaga saat ditemui di Balai Kota Jakarta pada Kamis (3/5).

Sandiaga mencotohkan jika mendekati Ramadan biasanya banyak acara serupa yaitu bagi-bagi sembako. Oleh karena itu, pihaknya akan memberikan izin dengan catatan jika dilakukan di kawasan atau wilayah masing-masing dan diselenggarakan sesuai prosedur.

“Kita akan mengkoordinasikan bagaimana prosedurnya, kita kan pengalaman,” kata Sandiaga.

Ia juga menjelaskan bahwa KJP juga sudah dilakukan oleh pihaknya setiap bulan. Pemerintah Provinsi itu bukan hanya mempunyai pengalaman, tetapi juga memiliki sistem tata cara yang sudah baku. “Jadi, siapa saja yang akan membagi-bagi sembako akan dikoordinasikan dengan kita,” jelas Sandi.

Penulis: Sulis Sutrisna/ Berbagai Sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here