Nilai Rupiah Anjlok, Bagaimana Nasib Jokowi?

0
21285

Jakarta, namalonews.com- Hari Selasa (8/5/2018) ini kurs spot rupiah terhadap dollar Amerika Serikat kembali melemah di awal perdagangan hingga menyentuh angka Rp. 14.043 per dollar AS. Pelemahan tersebut, secara mikro jelas sangat memberatkan masyarakat, kelas menengah bawah yang paling merasakan dampaknya.

Pelemahan rupiah saat ini dipengaruhi oleh tren penguatan dollar AS. Sebagian besar mata uang global pun ikut melemah. Hal itu terjadi di tengah potensi kenaikan suku bunga acuan AS yang bisa mencapai tiga kali lagi di tahun 2018.

Pelemahan rupiah tersebut berdampak terhadap ekonomi Indonesia. Tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal I-2018 yang kurang sesuai dengan ekspektasi pelaku pasar membuat rupiah sulit bangkit dari keterpurukannya. Selain itu, pelaku pasar juga masih menanti rilis data cadangan devisa.

Pelemahan rupiah tersebut tentu saja menjadi lampu kuning bagi pemerintahan Presiden Jokowi. Jokowi harus segera bertindak karena permasalahan ekonomi bisa menjadi penyebab jatuhnya suatu pemerintahan. Hal itu pernah diingatkan oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla.

“Kita bersyukur. Kita tidak ada masalah politik dan juga masalah konflik. Tetapi, ekonomi harus dijaga betul agar tidak jatuh. Tidak menimbulkan efek sosial. Itulah lembaga ketahanan nasional. Jadi, Anda tidak berpikir pertahanan, tetapi ketahanan. Beda. Ketahanan adalah aspek-aspek negara. Bagaimana menjaga negara itu tidak jatuh,” jelas Jusuf Kalla saat memberikan Kuliah Umum Peserta PPRA LIV dan PPRA LV Tahun 2016 Lemhanas di Istana Wakil Presiden, Jakarta.

Oleh karena itu, tambah Jusuf Kalla, kestabilan ekonomi harus dijaga betul agar tidak menimbulkan efek sosial yang akan mengganggu keamanan negara.

Jadi, ketika nilai rupiah kembali turun terhadap dollar AS pada kisaran Rp 14.000 per dollar AS, tentu ini menjadi “lampu kuning” bagi pemerintah. Sebagai valuta resmi yang digunakan Indonesia untuk transaksi luar negeri, penurunan nilai rupiah tentu akan berimbas ke berbagai sektor.

Atas pelemahan rupiah tersebut, Presiden Jokowi telah meminta para menterinya, terutama yang berkaitan dengan perekonomian untuk berhati-hati. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution, yakin bahwa pelemahan rupiah ini masih dalam tahap aman.

“Jadi, jangan melihat sebagai sesuatu yang aneh dan mengkhawatirkan. Ya, memang, hari ini tembus 14.000. Tetapi, mestinya tidak berarti akan bertahan di angka itu,” ujar Darmin. Darmin yakin bahwa nilai rupiah akan dapat kembali stabil setelah reaksi pasar saham dunia mereda.

Sebagai negara yang menggunakan nilai mata uang internasional dengan dollar AS, Indonesia harus menghadapi risiko fluktuasi. Meski begitu, baik Pemerintah maupun Bank Indonesia telah mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan ini dengan melakukan berbagai langkah, salah satunya intervensi.

Jika masalah ekonomi ini, khusunya pelemahan rupiah tidak segera diatasi oleh Jokowi, nasib pemerintahannya dipertaruhkan.

Penulis: Sulis Sutrisna

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here