Dituding Pengkhianat, PAN Mati-Matian Bela Amien Rais

0
296

Jakarta, namalonews.com – May Day dimanfaatkan politikus senior Partai Amanat Nasional (PAN), Amien Rais untuk melakukan orasi. Orasi Amien Rais di depan gedung DPR ini menyebutkan bahwa pemerintahan Jokowi-JK menerapkan kebijakan yang membuatnya heran karena tidak masuk akal. Tepatnya kebijakan dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 20 Tahun 2018.
Menurut Amien, TKA (tenaga kerja asing) tak seharusnya mendapat izin bekerja di Indonesia tatkala TKI (tenaga kerja Indonesia) kelimpungan mencari kerja. Bahkan disebutkan bahwa jumlah TKA di Indonesia telah mencapai angka ratusan ribu.
Saat penutupan orasinya, Amien mengajak massa aksi untuk menuntut pemerintah supaya segera mencabut Perpres TKA. Ketua Dewan Kehormatan PAN tersebut pun merobek topeng yang bertuliskan buruh kasar aseng sebagai simbol TKA. Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk penolakan terhadap Perpres TKA.
Dibalik orasi May Day Amien Rais tersebut, banyak pihak yang menilai kontroversial dan akan menjadi bumerang. Bahkan menurut Ketua DPP PDI Perjuangan Hendrawan Supratikno, pernyataan Amien akan mempengaruhi penjajakan koalisi menjelang Pemilu Serentak pada tahun 2019 yang dilakukan oleh PAN.
Hendrawan juga menilai bahwa kepimpinan Hatta Rajasa di PAN jauh lebih solid dibandingkan Zulkifli Hasan saat ini. Hal inilah yang membuat Amien resah. Menurutnya, tiap pernyataan Amien yang sering menyerang pemerintah membuat kebingungan di pihak partai koalisi pendukung Jokowi.
Ketua Umum PAN, Zulkifli Hasan, sempat menyebutkan bahwa partainya memiliki potensi untuk bergabung ke koalisi partai politik pendukung Prabowo maupun Jokowi. Di lain sisi, Amien dengan tegas menyebutkan bahwa PAN tak mungkin mendukung Jokowi pada Pemilu 2019 mendatang.
Hendrawan pun merasa heran dengan sikap Amien yang malah menuding Zulkifli tengah bersandiwara dengan menyebutkan memiliki peluang dalam mendukung Jokowi. Menurutnya, Amien selalu membuat pernyataan yang susah untuk diikuti.
Tak jeda lama dari orasi Amien yang kontroversial tersebut, Amien kembali diterpa kabar yang tak mengenakkan. Kabar tersebut datang dari aktivis Sri Bintang Pamungkas. Amien dianggap sebagai pengkhianat reformasi karena dinilai tidak konsisten dalam memperjuangankan reformasi.
Pernyataan tersebut disampaikan Sri Bintang dalam acara diskusi yang bertajuk ‘Peringati Lengsernya Soeharto, Amien Rais Bapak Reformasi?’ dan diadakan di Cikini, Jakarta Pusat, Senin (7/5).
Tak hanya itu, Aktivis 98, Wahab Talaohu juga menilai Amien tak konsiten dalam sikap politiknya. Sejak tahun 1998 pun para aktivis telah menolak Amien Rais.
Pernyataan serupa juga disampaikan oleh aktivis 1998 Faizal Assegaf. Menurutnya, Amien Rais tidak layak sebagai Bapak Reformasi. Faizal juga menilai bahwa Sri Bintang Pamungkas adalah Bapak Reformasi yang sesungguhnya karena sudah memperjuangkan reformasi serta selalu konsisten.
Baru-baru ini pun aktivis ’98 Desmond J Mahesa menilai Amien Rais sebagai pecundang terkait amendemen UUD ’45 tak lama sesudah reformasi. Menurutnya, tokoh utama reformasi yang tepat adalah mahasiswa. Dimana mahasiswa mau turun ke jalan serta mengadakan demo di banyak kota di Indonesia. Puncaknya saat gedung DPR RI Jakarta diduduki mahasiswa.
Desmond tidak setuju jika Amien disebut PAN sebagai penggerak reformasi. Aktivis ’98 yang tengah duduk di parlemen saat ini pun menganggap bahwa Amien hanya dimanfaatkan mahasiswa dalam reformasi. Menurutnya, Amien kala itu adalah tokoh yang berani berbicara dengan menggunakan panggung mahasiswa di DPR.
Bela Amien Rais
Kabar bertubi-tubi yang menyudutkan Amien Rais membuat pihaknya bersuara. Salah satu pembela Amien tersebut ialah Waketum PAN Totok Daryanto. Menurutnya, Amien adalah penggerak reformasi dan hal tersebut harus diakui.
Pembelaan serupa juga datang dari anggota DPR RI dari PAN Daeng Muhammad. Daeng sangat tidak setuju dengan pernyataan Sri Bintang Pamungkas cs yang menyebutkan bahwa Amien sebagai pengkhianat reformasi.
Bahkan menurut Daeng, Sri Bintang tidak sepantasnya mengatakan hal demikian. Daeng juga menilai bahwa rakyat sudah cerdas tentang bagaimana mengikuti perjalanan sejarah. Hal ini juga tak terkecuali tuntutan terjadinya reformasi.
Daeng juga menegaskan bahwa reformasi banyak menghasilkan dampak positif bagi bangsa Indonesia. Adapun dampak tersebut seperti halnya pembatasan masa jabatan presiden, pemilihan presiden yang dilakukan secara langsung, kebebasan pers, dan termasuk amandemen UUD 1945.
Menurutnya, kala itu reformasi adalah keharusan sekaligus tuntutan semua orang, dan amandemen terhadap UUD 1945 menjadi salah satu amanat reformasi. Ditegaskan juga bahwa rumusan amandemen UUD 1945 adalah hasil kesepakatan seluruh fraksi, tak terkecuali fraksi ABRI.
Daeng juga menyatakan bahwa hal tersebut menjadi bukti kalau Amien yang kala itu menjabat sebagai Ketua MPR sudah pasti tak bisa mendikte seluruh anggota MPR. Dipastikan juga bahwa hal tersebut bukan keputusan Amien sendiri. Bahkan dengan adanya amandemen, sistem demokrasi Indonesia menjadi lebih terbuka.
Amandemen terhadap UUD 1945 memberikan kesempatan dalam mengisi jabatan-jabatan politik yang terbuka lebar untuk semua pihak. Bahkan semua orang memiliki peluang yang sama untuk menjadi pemimpin bangsa ini. Berbeda dengan zaman dulu yang karena keniscayaan sepihak.
Pembelaan untuk Amien Rais juga disampaikan oleh Wasekjen PAN Saleh Partaonan Daulay. Sama halnya Daeng Muhammad, Saleh juga menegaskan bahwa amendemen UUD ’45 bukan dari Amien Rais sendiri, yang saat itu menjabat sebagai Ketua MPR.
Disamping itu, Saleh mempertegas bahwa amendemen konstitusi juga disampaikan sebagai salah satu agenda reformasi. Dilihat dari sisi kelembagaan, amendemen itu terjadi dikarenakan MPR hendak menjawab tuntutan tersebut. Walaupun amendemen itu sendiri memang sulit dilakukan, menurutnya, mengingat ada kepentingan ABRI yang seharusnya dipikirkan, akan tetapi amendemen tetap berjalan.
Saleh pun menyebutkan bahwa jika amendemen yang ada sekarang ini dianggap telah melewati batas, tentu ada kesempatan untuk seluruh kekuatan politik guna meninjau kembali. Dalam kesempatan ini, Saleh pun menantang Desmond untuk bisa mewujudkannya.
Saleh mempertanyakan siapa yang dianggap pecundang dalam ujaran Desmond. Menurutnya, jika Desmond berhasil menginisiasi amendemen, berarti Desmond hebat. Bahkan Desmond dianggap bisa melebihi tokoh-tokoh revolusi politik yang pernah ada. Lain halnya jika Desmond tidak bisa melakukannya, maka Desmond dianggap Saleh sebagai pecundang.
Saleh juga menegaskan bahwa Desmond sebagai anggota parlemen nyatanya tak bisa melakukan amendemen supaya kembali seperti yang diinginkannya.
Sepaham dengan Saleh, Ketua DPP PAN Mulfachri Harahap juga menyampaikan pembelaan untuk Amien. Bahkan ia menyebut Sri Bintang sebagai pecundang. Awalnya Mulfachri menanggapi pernyataan Desmond J Mahesa yang menyebutkan bahwa Amien adalah pecundang karena mengamendemen UUD 45. Bagi Mulfachri, hal tersebut keliru. Lalu dia menyerang Sri Bintang.
Mulfachri menganggap Sri Bintang bukanlah siapa-siapa dalam sejarah Indonesia. Jauh berbeda dengan Amien. Mulfachri menilai Sri Bintang sebagai pecundang karena tidak berkontribusi dalam hal pembangunan Indonesia.
Bahkan Mulfachri juga menyebutkan bahwa jika ada orang yang mengatakan Amien Rais adalah pecundang dalam konteks reformasi, maka orang tersebut tidak paham dan tidak mengikuti setiap perkembangan.

Penulis: Sulis Sutrisna/ Berbagai Sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here