Gara-Gara #2019GantiPresiden, Orang Ini Sempat Ikut Kebanjiran Rezeki

0
469

Jakarta, namalonews.com- Tahun depan pemilihan presiden bakal digelar. Pendukung dari masing-masing tokoh sudah mulai mengambil ancang-ancang sedari sekarang. Menggunakan tanda pagar (tagar) berbau dukungan kepada jagoan mereka menjadi salah satu caranya. Tagar-tagar seperti #2019GantiPresiden dan #DiaSibukKerja adalah contoh dari tagar macam itu.
Tagar sendiri normalnya hanya digunakan di media sosial seperti Twitter dan Facebook. Namun bagi para pendukung kandidat pilpres, tagar yang bersangkutan juga bisa digunakan untuk mengekspresikan dukungan mereka di dunia nyata. Misalnya dengan memakai kaus bertuliskan tagar tadi di pusat-pusat keramaian.
Kasus yang terjadi bulan April lalu di acara Car Free Day (CFD) Jakarta menjadi contoh dari penggunaan tagar demikian di dunia nyata. Massa dari kedua belah pihak memakai kaus bertuliskan tagar untuk mengekspresikan dukungan mereka di ruang publik.
Peristiwa tersebut lantas membesar menjadi kontroversi di kala massa yang memakai tagar #2019GantiPresiden tertangkap kamera terlihat mengintimidasi seorang ibu dan anaknya yang memakai kaus bertagar #DiaSibukKerja. Akibat kasus tersebut, Satpol PP Jakarta terpaksa mengambil tindakan lebih tegas dan melarang penggunaan kaus bertagar politik di area penyelenggaraan CFD.
Jika bagi para simpatisan kandidat, tagar bisa menjadi senjata ampuh untuk menunjukkan dukungan sekaligus memikat simpatisan baru, maka pebisnis pakaian yang membuat kaus bertagar demikian memiliki pandangan berbeda. Mereka menganggap kaus bertagar sebagai prospek tambang uang baru.
Teguh adalah contoh dari kasus tersebut. Bisnis pakaian yang dioperasikan oleh pria asal Cianjur, Jawa Barat, tersebut sempat ikut merasakan limpahan rezeki dari ramainya perang tagar bertema pilpres.
Bisnis pakaian sendiri aslinya bukanlah bisnis utama Teguh. Pria berusia 31 tahun tersebut aslinya berprofesi sebagai guru pendidikan kewarganegaraan di SMK Tirta Walatra sejak tahun 2009.
Namun karena gaji yang diterimanya sebagai guru dianggap tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya, Teguh pun kemudian mulai menjajal bisnis kaus. Untuk mendapatkan keterampilan yang dibutuhkannya, ia menimba ilmu terlebih dahulu kepada pemilik bisnis konveksi yang sudah lebih dulu aktif di Cianjur.
Setelah merasa kalau ilmu yang didapatnya sudah cukup, Teguh pun memulai bisnis pakaiannya di tahun 2014 dengan nama TeguhKaosPolos. Tempat usahanya diberikan nama demikian karena bisnis yang ditekuni Teguh aslinya bisnis produksi kaus polos, sementara urusan penyablonan ia serahkan kepada tukang sablon di daerahnya.
Untuk kebutuhan promosi dan pemasaran, Teguh memanfaatkan layanan aplikasi chatting BlackBerry Messenger (BBM) yang kebetulan pada waktu itu memang masih populer. Ia juga memasarkan produknya di media sosial Instagram, Facebook, dan aplikasi chatting WhatsApp.
Seiring berjalannya waktu, usaha pakaian yang dilakoni Teguh bertumbuh menjadi kian besar. Ia pun lantas mulai melebarkan sayap usahanya ke kota Bandung. Sekarang ini ia memiliki total 8 orang karyawan yang tersebar di Bandung dan Cianjur.
Rumah merangkap tempat usaha Teguh sendiri berlokasi di tempat yang relatif sulit dijangkau. Pasalnya rumah Teguh berada di sebuah gang sempit yang hanya muat dilintasi oleh satu sepeda motor. Untungnya Teguh sendiri cukup terkenal di kalangan warga setempat, sehingga mereka yang hendak menyambangi kediamannya bisa meminta diantarkan kepada warga lokal.
Menurut pengakuan Teguh kepada wartawan detik X, ia awalnya terdorong membuat kaus bertagar setelah melihat foto Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Keadilan Sejahtera Mardani Ali Sera di media sosial. Dalam foto tersebut, Mardani terlihat mengenakan kaus bertuliskan #2019GantiPresiden.
Teguh lantas melihat tagar tersebut sebagai peluang bisnis yang menggiurkan. Ia pun berpromosi kepada langganannya kalau mereka yang tertarik untuk memiliki kaus bertagar demikian bisa memesan kepada dirinya.
“Jadi, saya itu kan biasanya kirim foto dan video ke konsumen. Nah, kebetulan pas buat kaus itu, saya kirim foto dan video ke Om Pendi (pelanggan). Dia sebetulnya yang bikin viral di medsos, kemudian diangkat detik.com, jadi makin ramai,” jelas Teguh.
Prediksi Teguh terbukti jitu. Hanya dalam hitungan jam sejak dia mulai berpromosi, dirinya langsung kebanjiran orderan dari mereka yang menginginkan kaus bertagar demikian. Teguh mengaku kalau dalam rentang waktu seminggu, dirinya bisa menjual kurang lebih 300 kaus bertagar #2019GantiPresiden.
Teguh menambahkan kalau kaus #2019GantiPresiden ini diproduksi di tiga tempat berbeda, yaitu di rumahnya sendiri, di rumah pegawainya, dan di tempat usahanya yang lain di Bandung. Ia juga membantah kalau dirinya memiliki motif politik saat memproduksi kaus ini.
Di saat popularitas hal-hal bertagar #2019GantiPresiden kian menjulang, bisnis kaus Teguh pun semakin terkenal. Namun layaknya pepatah “semakin tinggi pohon, semakin kuat angin menerjang”, semakin meroketnya popularitas usaha yang dilakoninya justru malah membuat dirinya merasa semakin tidak nyaman.
Teguh mengaku kalau dirinya khawatir jika suatu hari nanti, simpatisan Jokowi bakal mendatangi kediamannya dan mengintimidasinya. Terlebih lagi tahun depan sudah memasuki tahun penyelenggaraan pilpres. Ia juga khawatir kalau masyarakat awam bakal memandangnya secara berbeda dan menganggapnya sebagai pendukung golongan politik tertentu.
Jika hal tersebut benar-benar terjadi, Teguh khawatir kalau bisnis pakaiannya bakal ikut terpengaruh. Lalu orang-orang yang selama ini menjadi pelanggan setianya bakal pergi. Pasalnya kendati menjual pakaian bertagar pilpres mendatangkan pemasukan yang besar, hal tersebut hanya bersifat musiman. Jika musim pemilu sudah lewat, maka pesanan secara otomatis akan menghilang dengan sendirinya.
Teguh juga mengaku kalau dirinya sempat menerima wejangan dari guru mengajinya. “Kata guru ngaji, saya takut kena istidraj (menjauh dari Allah saat rezeki tengah berlimpah). Takutnya rezeki istidraj,” ujarnya. Atas pertimbangan dari hal-hal itulah, Teguh membulatkan tekadnya untuk tidak memproduksi kaus bertema ganti presiden sama sekali.
Saat Teguh memutuskan untuk berhenti memproduksi kaus bertema ganti presiden, dirinya sempat menerima pesanan dari WhatsApp. Pelanggan tersebut meminta Teguh untuk membuatkan 6.000 potong pakaian bertagar #2019GantiPresiden. Namun karena tekad Teguh sudah bulat, ia memutuskan untuk menolak pesanan tersebut.
Keputusan Teguh tersebut lantas membuat orang-orang di sekitarnya sempat bertanya-tanya. Mereka penasaran apakah Teguh melakukan hal tersebut karena dirinya diancam oleh simpatisan golongan politik tertentu.
Namun Teguh menampik hal tersebut. Ia menegaskan kalau keputusan ini diambil murni atas kemauannya sendiri. “Kemarin juga ada yang ke sini tuh, pembeli, tanya, Kenapa berhenti? Apakah ada yang mengintimidasi? Saya jawab, Nggak ada. Dari polisi juga nggak ada,” tegasnya.
Kendati sekarang Teguh lebih memilih untuk memproduksi pesanan kaus biasa, ia tidak benar-benar menolak memproduksi kaus bertema politik sama sekali. Ia mengaku kalau dirinya masih bersedia membuatkan pesanan kaus bertema pilkada Jawa Barat yang kebetulan bakal berlangsung pada tahun ini.
Kendati bisnis pakaian yang digekuti oleh Teguh sudah berkembang cukup besar, Teguh mengaku kalau dirinya belum berminat meninggalkan profesi guru SMK. Pasalnya menurut Teguh, jika bukan karena profesinya sebagai guru, maka tempat usahanya tidak akan bisa berjalan lancar seperti sekarang. Dia mengaku baru akan berhenti mengajar jika itu merupakan keputusan dari yayasan tempatnya mengajar.

Penulis: Sulis Sutrisna/ Berbagai Sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here