Menurut Lembaga Ini, Malaysia Lebih Kuat dari Indonesia

0
7884

Jakarta, namalonews.com- Indonesia merupakan negara terbesar di Asia Tenggara. Jumlah penduduknya pun terbanyak keempat di dunia. Jadi wajar-wajar saja jika Indonesia pun memiliki militer berjumlah besar. Menurut situs militer Global Fire Power, Indonesia memiliki militer berkekuatan hampir 1 juta personil.
Di atas kertas, hal tersebut nampaknya menjadikan Indonesia sebagai negara dengan militer terkuat di Asia Tenggara. Namun Lowy Institute ternyata tidak sependapat. Menurut lembaga studi internasional yang berbasis di Australia tersebut, Indonesia dari segi kekuatan masih berada di belakang negara-negara tetangganya seperti Singapura dan Malaysia.
Hal tersebut disampaikan oleh Lowy Institute melalui lembar hasil penelitian terbarunya yang berjudul Indeks Kekuatan Asia (Asia Power Index) 2018. Berdasarkan laporan tersebut, Indonesia menempati peringkat 10 dari total 25 negara Asia Pasifik yang diikutsertakan dalam daftar.
Malaysia yang notabene jumlah penduduk dan luas wilayahnya kalah jauh dibandingkan Indonesia justru berada satu peringkat lebih baik dibandingkan Indonesia. Sementara Singapura yang wilayahnya masih kalah luas dibandingkan Jakarta, justru menempati peringkat 8. Di peringkat teratas, Amerika Serikat (AS) dan Cina secara berturut-turut dianggap sebagai dua negara terkuat di kawasan Asia Pasifik.
Ada 8 kategori yang digunakan oleh Lowy Institute saat membuat daftar ini. Kedelapan kategori tersebut adalah sumber daya ekonomi, kemampuan militer, ketahanan, tren masa depan, pengaruh diplomatik, hubungan ekonomi, jaringan pertahanan, dan pengaruh dalam hal budaya.
Kombinasi dari kedelapan kategori tersebut kemudian digunakan untuk menyusun daftar ini. Masing-masing kategori memiliki bobot penilaian yang berbeda dibandingkan kategori lainnya. Sumber daya ekonomi dan kemampuan militer menjadi dua kategori dengan bobot penilaian tertinggi.
Berdasarkan perhitungan tersebut, Indonesia mendapatkan nilai sebesar 20,0. Jumlah tersebut masih jauh di bawah AS dan Cina yang masing-masingnya memperoleh nilai 85,5 dan 75,5. Singapura sendiri mendapatkan nilai 27,9. Malaysia di lain pihak memiliki nilai sebesar 20,6 alias hanya sedikit lebih tinggi dibandingkan Indonesia. Nepal menduduki posisi terbawah dengan hanya mengumpulkan nilai 3,1.
Dalam daftar yang sama, AS dan Cina sama-sama digolongkan sebagai negara adidaya (super power). Di bawah keduanya, terdapat Jepang dan India yang digolongkan sebagai negara berkekuatan besar (major power). Yang menarik adalah Rusia — seperti halnya Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara lainnya — justru hanya digolongkan sebagai negara berkekuatan menengah (middle power).
Penggolongan itu sendiri dibuat berdasarkan batasan nilai yang sudah ditetapkan oleh Lowy Institute. Berdasarkan patokan mereka, suatu negara baru digolongkan sebagai adidaya jika mendapatkan nilai minimum 70 poin, dan dikategorikan sebagai negara berkekuatan besar jika memperoleh nilai minimum 40 poin.
Rusia berdasarkan perhitungan Lowy Institute hanya mengumpulkan 33,3 poin. Menurut penjelasan Lowy Institute dalam bab Temuan Penting (Key Findings), buruknya hubungan ekonomi Rusia dengan sejumlah negara menjadi penyebab mengapa Rusia hanya mendapatkan nilai rendah untuk kategori tersebut.
Selama beberapa tahun terakhir, hubungan Rusia dengan negara-negara Barat memang kian memanas. Masalah sengketa Krimea, konflik di Ukraina dan Suriah, serta intervensi kawanan hacker Rusia terhadap pemilu di negara lain menjadi penyebab utamanya. Sebagai tanggapan dari negara-negara Barat atas tindakan Rusia tersebut, mereka menjatuhkan beragam sanksi ekonomi kepada Rusia sejak tahun 2014.
Singapura yang notabene merupakan negara terkecil dalam daftar ini oleh Lowy Institute ditetapkan sebagai pemain dengan pencapaian lebih (overperformer). Adapun selain Singapura, Korea Selatan, dan Australia juga memperoleh predikat demikian untuk kawasannya masing-masing.
“Kota merangkap negara ini, dengan populasi hanya 5,6 juta jiwa, memiliki jaringan yang sangat baik dan berfokus pada hubungan luar — menempati peringkat keempat dalam hal hubungan ekonomi,” jelas Lowy Institute dalam laporannya mengenai Singapura.
“Namun, keberhasilan Singapura dan ukuran kecilnya memberikan tantangan strategis yang unik: ketergantungannya yang tinggi akan perdagangan global ibarat pedang bermata dua, dan, dikombinasikan dengan lokasinya yang rentan karena dikelilingi oleh tetangga-tetangga raksasa, menjelaskan kenapa Singapura hanya menempati peringkat 14 dalam kategori ketahanan,” tambah Lowy.
Lantas bagaimana dengan Malaysia? Jika dibandingkan dengan Indonesia, Malaysia sebenarnya kalah unggul untuk kategori sumber daya ekonomi dan kemampuan militer. Namun di sisi lain, Malaysia mengungguli Indonesia untuk kategori hubungan ekonomi dan jaringan pertahanan. Hal tersebut lantas menunjukkan kalau kekuatan suatu negara tidak semata-mata ditentukan oleh sumber daya.
Kemampuan militer dan jaringan pertahanan Indonesia tergolong rendah karena hanya berada di luar 10 besar. Namun militer Indonesia saat ini tengah mengalami proses modernisasi yang diharapkan sudah bisa selesai pada tahun 2024. Jika hal tersebut sudah tercapai, kekuatan militer Indonesia pada tahun tersebut diperkirakan sudah berada dalam posisi yang jauh lebih baik.
Hal itu pulalah mungkin yang menjadi penyebab mengapa Indonesia menempati peringkat 4 untuk kategori tren masa depan. Mengungguli negara-negara lain yang lebih maju seperti Rusia, Jepang, dan Australia. Sebagai perbandingan, tiga negara di atas Indonesia untuk kategori tersebut secara berturut-turut adalah Cina, AS, serta India. Dan entah berhubungan atau tidak, keempat negara tersebut — termasuk Indonesia — tergolong sebagai negara-negara terbesar dalam hal populasi penduduk.
AS menjadi satu-satunya negara di luar Asia yang disertakan dalam daftar ini karena AS memiliki pengaruh signifikan di kawasan Asia Pasifik. Kendati AS merupakan negara dengan peringkat tertinggi dengan selisih cukup jauh dari peringkat kedua, AS tidak menempati peringkat pertama di semua kategori.
Untuk kategori tren masa depan contohnya, AS hanya menempati peringkat kedua di bawah Cina. Cina juga mengungguli AS untuk kategori pengaruh diplomatik dan hubungan ekonomi.
“Pengaruh diplomatik AS di kawasan tersebut dirusak oleh kegelisahan terhadap administrasi Trump dan kebijakan-kebijakan luar negerinya, termasuk penarikan diri (AS) dari perjanjian ekonomi Persekutuan Trans-Pasifik. Kepemimpinan politik AS di Asia berada di ambang ketidakpastian,” jelas Lowy mengenai alasan kenapa AS dianggap memiliki pengaruh luar negeri dan ekonomi yang lebih rendah ketimbang Cina.
Alasan lain mengapa Cina di masa depan terancam balik mengungguli AS adalah karena Cina bisa fokus melebarkan pengaruhnya untuk kawasan Asia semata. AS di lain pihak memiliki perhatian yang terpecah-pecah ke banyak kawasan sekaligus. “Proyek-proyek seperti Inisiatif Sabuk dan Jalan menguntungkan Beijing sebagai mitra dagang utama dan sumber dana bantuan asing untuk kawasan setempat,” ulas Lowy.
Namun hal tersebut tidak serta-merta membuat Cina tidak memiliki kendala sama sekali untuk menyalip AS sebagai negara adidaya di kemudian hari. Dari dalam negeri, Cina terancam kehilangan 42 juta tenaga kerja produktif pada tahun 2030 mendatang akibat faktor penuaan.
Dari luar negeri, ancaman untuk pertumbuhan Cina datang dari masalah sengketa perbatasan dan ketergantungan Cina akan bahan bakar import. Cina juga memiliki peringkat yang rendah untuk kategori jaringan pertahanan akibat orientasi pembangunan militernya yang terlalu memperhatikan aspek pertahanan maritim.
Laporan Indeks Kategori Asia yang dibuat oleh Lowy mengulas beragam aspek dari negara-negara Asia Pasifik, dan kemudian menggunakannya untuk membuat perkiraan mengenai seperti apakah kondisi masing-masing negara pada tahun 2030 mendatang. Laporan setebal 20 halaman tersebut dapat diunduh secara bebas di situs lowyinstitute.org.

Penulis: Sulis Sutrisna/ Berbagai Sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here