Kemenangan Mahathir di Malaysia Jadi Sumber Inspirasi di Indonesia

0
227

Jakarta, namalonews.com- Sejarah baru tercipta di Malaysia. Untuk pertama kalinya sesudah enam dasawarsa, koalisi Barisan Nasional (BN) mengalami kekalahan dalam pemilu legislatif. Al Jazeera pada hari Kamis (10/5/2018) mengabarkan kalau koalisi Pakatan Harapan (PH) yang dipimpin oleh Mahathir Mohammad berhasil mengumpulkan 113 dari 222 kursi parlemen.

Berdasarkan peraturan yang berlaku di Malaysia, suatu partai harus memiliki setidaknya 112 kursi di parlemen supaya bisa menjadi partai penguasa di parlemen. BN di lain pihak hanya berhasil mendapatkan jatah 79 kursi di parlemen. Sementara sebanyak lebih dari 30 kursi parlemen sisanya menjadi jatah partai-partai yang lain.

Berkat kemenangan ini, Mahathir yang sudah berusia 92 tahun berhak untuk kembali menduduki jabatan Perdana Menteri. Pengangkatan dirinya sebagai Perdana Menteri Malaysia yang baru akhirnya terwujud setelah pada hari Kamis pukul 21.58 waktu setempat, dirinya resmi dilantik oleh kepala negara Malaysia, Sultan Muhammad V.

Pelantikan dilakukan setelah Mahathir mengambil sumpah di hadapan sultan dan turut disiarkan langsung oleh Bernama, stasiun berita resmi pemerintah Malaysia. Dalam siaran yang sama, Mahathir terlihat didampingi oleh istrinya yang bernama Siti Hasmah Mohamad Ali.

Jabatan Perdana Menteri sendiri bukanlah jabatan yang asing bagi Mahathir. Pria yang sekarang berusia 92 tahun tersebut sempat menjadi Perdana Menteri Malaysia pada tahun 1981 hingga 2003. Di bawah kepemimpinannya, Malaysia mengalami pertumbuhan ekonomi dan modernisasi yang pesat.  Namun pencapaian tersebut sempat diusik oleh gelombang krisis ekonomi yang menimpa negara-negara di Asia Pasifik, termasuk Indonesia.

Selain istri Mahathir, Wan Azizah Wan Ismail juga tampak dalam acara pelantikan Mahathir. Wan Azizah adalah istri dari Anwar Ibrahim, bekas Deputi Perdana Menteri Malaysia di masa pemerintahan pertama Mahathir. Anwar sendiri sekarang tengah meringkuk di balik jeruji besi akibat tuduhan sodomi. Tuduhan yang menurut simpatisannya merupakan tuduhan yang dibuat-buat dan bermotif politik.

Sebelum pemilu legislatif digelar, PH memiliki rencana untuk membebaskan Anwar dari tahanan jika berhasil memenangkan pemilu. Rencana yang secara eksplisit didukung oleh Mahathir sendiri.

“Saya memahami perasaan Anwar. Dia dijebloskan ke dalam tahanan saat saya masih memerintah. Bukan hal yang mudah baginya untuk menerima saya dan saling berjabatan tangan,” kata Mahathir, yang diperkirakan bakal mengangkat Wan Azizah sebagai Deputi Perdana Menteri untuk menemani dirinya.

Di pihak yang berseberangan, Najib Razak selalu Perdana Menteri Malaysia sebelum pemilu nampak berlapang dada dalam menerima hasil pemilu ini. “(Barisan Nasional) akan menghormati apapun keputusan yang dibuat oleh sultan, dan saya meminta kepada rakyat Malaysia supaya tetap tenang dan menaruh kepercayaan kepada sultan,” kata Najib yang sudah menjadi Perdana Menteri Malaysia selama hampir satu dasawarsa.

Menurut analisa Bridget Welsh dari Universitas John Cabot  di Italia, kekakalahan BN dalam pemilu kali ini erat kaitannya dengan kemunculan Mahathir sebagai ujung tombak kubu oposisi. “Dialah sosok yang mengubah permainan. Dia menunjukkan kalau pengalihan kekuasaan adalah hal yang mungkin terjadi,” jelasnya.

Masalah skandal keuangan diperkirakan menjadi faktor lain di balik kemenangan Mahathir ini. Menurut Departemen Hukum Amerika Serikat (AS), Najib menggelapkan dana investasi 1MBD senilai 700 juta dollar (9,3 trilyun rupiah) pada tahun 2009 hingga 2014. Namun pernyataan tersebut dibantah oleh Najib, yang bersikeras kalau dirinya tidak bersalah.

Kemenangan Mahathir sekaligus membuktikan sekali lagi kalau tidak ada kawan dan musuh abadi di dunia politik. Sebelum diusung oleh PN untuk ikut serta dalam pemilu ini, Mahathir adalah anggota UMNO, parpol paling dominan dalam koalisi Barisan Nasional. Saat sudah tidak lagi menjabat sebagai Perdana Menteri, Mahathir sempat melayangkan kritikan kepada pemerintahan Najib.

“Dia sudah melakukan banyak hal yang salah. Dan sebagai akibatnya, dia sudah menempatkan negara ini dalam posisi yang sangat buruk, baik secara ekonomi maupun politik. Dia juga memiliki citra yang buruk di seluruh dunia,” kata Mahathir di tahun 2016 silam. “Jika Najib masih berkuasa, negara ini akan menjadi milik para anjing.”

Di luar Malaysia, kemenangan mengejutkan PN dan Mahathir turut menarik perhatian politikus-politikus di Indonesia. Fadli Zon dari Partai Gerindra tersebut memberikan ucapan selamat atas kemenangan Mahathir lewat Twitter. Ia lantas berharap kalau pergantian kekuasaan juga bisa terjadi di Indonesia.

“Tanda-tanda zaman, selamat pada Mahathir Muhammad yang menang dalam Pemilu dan jadi Perdana Menteri dalam usia 92 tahun. Semakin yakin #2019GantiPresiden,” tulis anggota DPR merangkap Wakil Ketua Umum Partai Gerindra tersebut.

Fahri Hamzah selaku rekan Fadli di DPR turut menaruh harapan serupa. “Tampak-tampaknya memang kita akan memiliki pemimpin baru, orang yang lebih mengerti perasaan masyarakat, yang akan sanggup menjurubicarai perasaan yang tidak terkatakan. Dan itu akan datang suatu kelompok yang mengerti apa yang sedang terjadi dan bagaimana kita melihat masa depan kita yang lebih baik dan optimistis,” kata Fahri seperti yang dikutip oleh Detik.

Andre Rosiade selaku anggota Badan Komunikasi DPP Gerindra meyakini kalau kemenangan mengejutkan Mahathir dalam pemilu Malaysia bisa ditiru oleh Prabowo Subianto – ketua umum Partai Gerindra – di Indonesia.

“Pak Prabowo insyaallah akan menang pada 2019, mengalahkan Pak Jokowi,” kata Andre di hadapan wartawan. “Oposisi Malaysia menang karena kemerosotan ekonomi dan isu investasi Tiongkok, persis seperti di Indonesia. Kalau rezim penguasa tidak mampu melaksanakan janji kampanye, tentu rakyat akan menghukum di pemilu berikutnya.”

“Kita tahu bahwa Pak Jokowi berjanji akan bikin ekonomi meroket, membuka 10 juta lapangan pekerjaan, dan membuat rakyat sejahtera. Tapi kenyataannya kan berbanding terbalik. Ekonomi terpuruk, kehidupan semakin susah,” tambah Andre lagi. “Bahkan saat ini serbuan buruh kasar dari Tiongkok pun terjadi di Indonesia.”

Masalah ekonomi dan serbuan tenaga kerja asing diperkirakan memang bakal menjadi isu yang ramai diangkat dalam kampanye pilpres mendatang. Menurut pengamat politik Pangi Chaniago, Jokowi berpotensi tergelincir dari kursi kepresidenan jika lawan-lawan politiknya berhasil memanfaatkan isu-isu tadi untuk mendapatkan dukungan rakyat.

“Contohnya, ibu-ibu ke pasar bawa uang 50 ribu itu enggak cukup. Ongkosnya saja pulang pergi sudah berapa. Itu belum harga beras yang dan kebutuhan pokok lain yang melonjak naik,” kata Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting tersebut, seperti yang dilansir oleh Tempo pada hari Senin (7/5/2018).

Pangi juga memprediksi kalau pilpres mendatang bakal diikuti oleh tiga pasangan calon. Jika hal tersebut benar-benar terjadi dan kemudian pilpres harus melalui putaran kedua, maka Jokowi berpeluang kalah. Pasalnya pendukung dari pasangan yang kalah nantinya akan bersatu dengan pendukung rival Jokowi supaya Jokowi tidak lagi menjadi presiden.

“Jadi, poros yang enggak masuk putaran kedua bergabung dengan lawan Jokowi. Jadi intinya asal bukan Jokowi,” tambah Pangi. Adapun selain Jokowi dan Prabowo Subianto, tokoh yang ia perkirakan bakal ikut maju dalam pilpres mendatang adalah bekas panglima TNI Gatot Nurmantyo.

Menurut Pangi, Gatot bisa maju sebagai capres ketiga ketika sejumlah parpol merasa tidak puas dengan sikap pendukung Jokowi maupun Prabowo. Pangi sendiri mengaku bisa mengajukan pendapat demikian karena sejumlah parpol hingga sekarang masih belum menyatakan ingin mendukung siapa. “Diperkirakan karena tarik-menarik kepentingan,” ujarnya.

Penulis: Sulis Sutrisna/ Berbagai Sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here