Penyanderaan Mako Brimob, Kelemahan atau Catatan Hitam Kepolisian?

0
198

Jakarta, namalonews.com- Jenderal Tito Karnavian Kepala Kepolisian Republik Indonesia mengungkapkan adanya kelemahan yang terjadi di rumah tahaman cabang Salemba di Mako Brimob Kelapa Dua Depok Jawa Barat beberapa hari silam. Pada insiden tersebut menyebutkan, anggotanya gugur sebanyak 5 orang.

Lebih lanjut, dalam keterangannya, 156 napi teroris terlibat insiden kerusuhan dan penyanderaan di dalam rutan. Lima personil anggotanya yang gugur adalah mereka yang bertugas di bagian pemberkasan data. Tercatat dari sembilan orang narapidana yang sempat disandera.

“Ya, anggota kita yang gugur ada lima orang. Ya kita semua berduka atas kejadian ini. Sebenarnya ini bukan anggota penindak, pemukul, namun mereka semua itu adalah tim pemberkasan,” ujar Kapolri dalam jumpa pers di Mako Brimob , Depok, Kamis 10/05/2018 pada media. Dalam keterangannya, Tito, kelima  polisi yang gugur tersebut adalah sehari-hari bertugas di bagian pemberkasan terhadap narapidana yang telah dipersiapkan untuk melakukan persidangan. Namun mereka tetap dibekali senjata api sebagaimana prosedur.

Mereka yang gugur bekerja pada bagian pemeriksaan, dan ruangan ini adalah tempat mereka mengintrogasi para narapidana yang sedang pemberkasan. Dan juga ada senjata di tempat ini sebagai barang bukti yang bisa ditunjukkan ke napi saat dilakukan pemberkasan tersebut.

Para narapidana teroris melakukan penyerangan, mereka langsung menyerang polisi yang bertugas melakukan pemberkasan. Merampas senjata api sandera, dan juga mnegambil senjata dari ruang pemeriksaan sebagai barang bukti.

“Terdapat beberapa barang bukti senjata yang diletakkan di situ untuk ditunjukkan kepada tersangka. Tak luput, itu juga dirampasnya. Karena selama ini disinyalir tidak ada masalah, hingga dilaksanakan, ya dari situlah sebenarnya ada kelemahan. Ya itulah yang dirampas,” ujar Kapolri.

Insiden tersebut, sebanyak 156 narapidana teroris terlibat dengan petugas kepolisian. 9 orang petugas yang disandera, 5 orang yang gugur. Sedangkan 4 lainnya bisa bebas namun dengan sejumlah luka-luka.

Fadli Zon, Wakil Ketua DPR mengevaluasi insiden terkait. Kasus tersebut menjadi catatan hitam bagi Polri. Dalam cuitannya di twitter, Fadli Zon menyampaikan bela sungkawa kepada keluarga lima orang polisi yang gugur.

“Saya turut berbela sungkawa atas gugurnya lima personil kepolisian kita dalam tragedi kerusuhan di Rutan Mako Brimob. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran dan ketabahan,” tulisnya.

Tidak dibiarkan begitu saja. Harus secepatnya diselidiki  penyebab meletusnya kerusuhan tersebut. Sehingga Polri bisa lebih waspada untuk menangkal kasus-kasus semacam ini di waktu yang mungkin saja bisa terjadi kembali.

Harusnya insiden tersebut bisa ditangani lebih cepat. Kasus ini baru pertama kali dalam sejarah Indonesia ada pembunuhan dan penyanderaan di lingkungan Mako Brimob dan menewaskan 5 orang anggota.

“Peristiwa ini, yang berjalan kurang lebih 36 jam patut kita sesalkan bersama. Sebab ini terjadi di komando khusus kepolisian Indonesia,” ujan Fadli Zon. Seharusnya lingkungan tersebut mempunyai pengawasan dan pengamanan  tinggi maupun penjagaan yang ekstra ketat. Hal tersebut menandakan ada masalah. Sehingga harus diselidiki secara serius.

Karena insiden terjadi di Rutan Mako Brimob semestinya penangannnya lebih cepat dan terkendali. Insiden ini harus menjadi refleksi penting untuk semua lapisan masyarakat Indonedia. Harus diselidiki secara mendalam dan kemprehensif. Jika terdapat kelalaian atau salah prosedur harus ada sanksi dan tindakan yang tegas. Sehingga kasus-kasus serupa tidak bakal terulang di negara tercinta ini.

Penulis: Sulis Sutrisna

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here