Aksi Bela Palestina Jadi Magnet untuk Ormas Hingga Pedagang Pita

0
204

Jakarta, namalonews.com- Lautan manusia yang sebagian besarnya berbaju serba putih nampak memadati kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta pada hari Jumat (11/5/2018). Mereka adalah massa demonstran Aksi 115 yang tergabung dalam Koalisi Indonesia Bela Baitul Maqdis.
Tujuan para demonstran menggelar aksi ini adalah untuk memprotes tindakan Amerika Serikat (AS) yang memindahkan Kedutaan Besarnya ke kota Yerusalem dari awalnya bertempat di Tel Aviv, Israel. Tindakan tersebut memicu kontroversi dunia internasional karena dengan memindahkan Kedubesnya ke Yerusalem, AS secara tidak langsung mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel.
Untuk menunjukkan solidaritas mereka terhadap Palestina, sejumlah demonstran terlihat mengenakan syal dan mengibarkan bendera bergambar Palestina. Umbul-umbul raksasa yang terdiri dari beragam warna dan menampilkan tulisan syahadat juga terlihat dikibarkan oleh sejumlah demonstran. Sesekali mereka menyerukan takbir saat mendapatkan arahan dari pemimpin mereka yang berorasi.
CNN Indonesia mengabarkan kalau aksi ini sudah berlangsung sejak pukul 04.00 WIB. Untuk mencegah timbulnya hal-hal yang tidak diinginkan, polisi menerjunkan 35 ribu personilnya untuk mengawasi aksi ini. Arus lalu lintas juga dialihkan supaya pengendara tidak terjebak macet.
“Insya Allah acara ini lancar. Mari lakukan aksi dengan santun dan baik supaya situasi bisa kondusif,” ujar Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya Inspektur Jenderal Idham Azis seperti yang dikutip oleh Tempo.
Aksi ini sendiri diawali dengan shalat subuh berjamaah di Lapangan Monas. Selain melakukan shalat berjamaah, massa juga melakukan dzikir dan pembacaan ayat-ayat Al-Quran secara bersama-sama. Acara kemudian berlanjut hingga siang hari dengan diisi oleh beragam orasi.
Dalam aksi yang sama, Sekjen Koalisi Bela Baitul Maqdis Ustaz Syaefudin Ahmad Suhada membacakan enam pernyataan sikap di hadapan puluhan ribu demonstran. Poin-poin pernyataan sikap yang ia bacakan kemudian ditirukan oleh para demonstran yang memadati Monas.
“Sejak keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota penjajah zionis Israel, seluruh dunia mengadakan perwakan baik ditingkat masyarakat maupun negara bahkan di sidang darurat majelis umum PBB ada sebanyak 128 negara mendukung resolusi yang menolak keputusan Trump yang provokatif ini,” ucap Syaefudin seperti yang dilansir oleh Tribunnews.
Adapun secara lengkap, inilah enam pernyataan sikap yang diutarakan oleh Syaefudin :
Kepada Majelis Umum PBB untuk bersikap tegas atas pelanggaran donald trump ini yang bertentangan dengan sembilan resolusi dewan keamanan PBB.

Kepada Organisasi Kerjasama Islam atau OKI untuk bersatu dan menentang keras keputusan Donald Trump tersebut, serta menggelar sidang darurat sebagai suara aspirasi umat Islam global.

Kepada pemerintah Amerika Serikat untuk membatalkan pengakuan terhadap eksistensi negara Israel dan rencana pemindahan kedutaannya di Yerusalem, serta keputusan provokatifnya yang mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel.

Kepada pemerintah Indonesia untuk berjuang keras mempergunakan haknya dengan menekan, mengarahkan OKI dan PBB untuk bersama melawan keputusan Donald Trump sebagaimana janji pemerintah melalui Kementerian Luar Negeri selama ini bahwa Palestina di jantung hati kebijakan luar negeri Indonesia.

Kepada seluruh rakyat Indonesia, agar terus bersatu dalam perjuangkan hak-hak rakyat Palestina hingga mencapai kemerdekaan yang sesungguhnya dari penjajah zionis Israel.

Khusunya kepada umat Islam indonesia untuk memperkokoh Ulkuwah Islamiah (Persaudaraan antara sesama umat Islam) dan tetap berada di bawah bimbingan ulama kami agar tercapainya tujuan seluruh perjuangan Baitul Maqdis dan Masjid Al-Aqsa kembali ke pangkuan kaum Muslimin.

Saat Wakil Ketua Umum Front Pembela Islam (FPI) Ja’far Shodiq mendapat kesempatan untuk berorasi, ia turut melontarkan kritikan kepada pemerintahan sekarang. “Jangan ngomong dua periode, 2019 ganti presiden, betul? Takbir! Sudah cukup, FPI tinggal tunggu komando guru kita di Mekah kapan pulang,” serunya.
“Kita buktikan sekarang, kita buktikan sekarang. Kenapa? Karena konstitusi negara, setiap penjajahan harus dihapuskan. Kalau pemerintah kita tak mau ikut serta, kepada kita serahkan senjata kepada kita, serahkan senjata ke umat Islam,” tambahnya lagi.
Aksi ini terus berlangsung hingga siang hari. Saat tiba waktunya shalat Jumat, massa kemudian menggelar shalat Jumat bersama-sama. Mereka berwudhu dengan menggunakan air mineral dan kemudian duduk di atas tikar serta sajadah yang sudah digelar. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan nampak ikut serta dalam shalat tersebut.
Aksi 115 awalnya direncanakan untuk hanya berlangsung hingga selesai shalat Jumat. Namun ternyata masih ada sejumlah demonstran yang enggan berhenti. Sesudah shalat Jumat, mereka pergi menuju Gedung Kedubes AS. Dari yang awalnya hanya berjumlah lima orang, massa yang berkumpul di depan Kedubes semakin lama semakin banyak.
“Kami datang ke sini agar apa yang disampaikan di Monas dapat didengar para pemimpin Amerika. Kami sangat mengutuk apa yang dibuat Amerika. Dia memperkosa hak manusia. Tidak memperdulikan manusia dia hanya mempedulikan egonya. Usir Israel dari Palestina,” seru orator yang memimpin aksi di depan Kedubes.
Kedubes AS sendiri pada hari itu sedang diliburkan untuk mengantisipasi keriuhan dari timbulnya aksi protes ini. Hal tersebut disampaikan oleh pihak Kedubes lewat situs resminya. Pihak Kedubes juga meminta warga negara AS yang sedang berada di Jakarta untuk menjauhi kerumunan demi menghindari timbulnya hal-hal negatif yang mungkin bakal terjadi.
Aksi 115 ternyata bukan hanya menarik mereka yang ingin turut serta mengecam kebijakan pemindahan Kedubes AS. Sejumlah orang juga melihat aksi ini sebagai ladang bisnis yang menguntungkan. Ade adalah salah satu orang tersebut. Pedagang asal Bandung, Jawa Barat tersebut sengaja datang jauh-jauh ke Monas untuk menjual pita bertema Palestina.
“Saya biasanya bawa 200 helai (pita), biasanya selalu habis. Rata-rata saya bisa dapat 800-900 ribu. Yang paling tinggi waktu aksi 212, saya bisa bawa pulang 1,2 juta,” ujar Ade saat diwawancara oleh wartawan Detik. Ade menambahkan kalau pita-pita tersebut ia beli dari sentra produksi sablon di Pasir Koja secara borongan dengan harga Rp 600.000,00 untuk 200 helai pita.
Berjualan pita sebenarnya bukanlah profesi asli Ade. Saat tidak ada aksi demonstrasi seperti Aksi 115 ini, pria yang mengenakan topi ini biasa berjualan di depan sekolah dasar. “Biasanya kita dapat info dari broadcast kalau mau ada aksi. Kalau nggak, biasanya juga pengajian-pengajian di Bogor, Purwakarta. Di mana-mana kalau ada info kita jalan,” ujarnya menjelaskan.
Wacana kalau AS bakal memindahkan Kedubesnya untuk Israel pertama kali diutarakan oleh juru bicara Trump pada bulan Desember 2016 silam, alias saat Trump masih belum menjabat sebagai presiden. Namun pemindahan Kedubes AS ke Yerusalem secara resmi rencananya baru akan dilakukan pada tanggal 14 Mei nanti.
Jika Israel merasa senang dengan kebijakan Trump tersebut, maka tidak demikian halnya dengan dunia internasional. Pemimpin Perancis mencela tindakan Trump tersebut sebagai hal yang melanggar kesepakatan internasional. Kecaman juga muncul dari negara-negara anggota OKI yang kemudian menggelar sidang untuk mendeklarasikan kalau Yerusalem Timur adalah ibukota Palestina.

Penulis: Sulis Sutrisna/ Berbagai Sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here