Di Era Jokowi, Rupiah Kalah Dibanding Baht

0
339

Jakarta, namalonews.com- Nilai tukar rupiah mengalami fluktuasi cukup tinggi terhadap dollar Amerika Serikat (AS) di masa kepemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Faktor eksternal dan internal menjadi salah satu penyebab melemahnya nilai tukar rupiah.

Pelemahan rupiah sebenarnya sudah terjadi pada era Jokowi menjadi presiden, namun berfluktuasi. Pada 20 Oktober 2014 atau bertepatan saat Jokowi dilantik sebagai Presiden, dollar AS berada di Rp 12.030. Posisi tersebut terpantau lebih tinggi. Pada 21 Agustus 2013, saat itu dolar AS ditukar dengan Rp 11.288.

Sempat menyentuh Rp 14.710, penguatan dollar AS sempat mereda di 20 Oktober 2015 yakni di 13.645. Dollar AS kembali menyentuh level Rp 14.000-an lagi pada 14 Desember 2015 yakni di kisaran 14.077.

Sejak saat itu dollar AS bergerak pada rentang yang tak terlalu jauh dari Rp 13.300-13.400. Pada 20 Oktober 2017, dollar AS parkir di 13.500 sebelum akhirnya mereda di 25 Januari 2018 yang tercatat di Rp 13.288. Hinnga hari ini, 12 Mei 2018, masih berada di kisaran Rp 14.000-an.

Kondisi berbeda justru dialami oleh, Baht, yang cenderung mengalami penguatan. Baht merupakan mata uang Thailand. Salah satu keunikan Baht adalah seluruhnya bergambar raja Thailand, Bhumibol Adulyadej. Dibandingkan dengan rupiah, Baht ternyata lebih kuat. Nilai tukar Baht lebih kuat daripada nilai rupiah.

Drajad Wibowo, ekonom INDEF (Institute for Development of Economic and Finance (Institut pengembangan ekonomi dan keuangan) dan mantan anggota DPR RI dari Partai Amanat Nasional periode 2004-2009, merasa heran akan keadaan tersebut.

“Thailand tidak lebih stabil. Padahal, di sana banyak kudeta, banyak demo segala macam kok bisa relatif menguat dibandingkan dengan rupiah kita di zaman Pak Jokowi,” ujarnya.

Drajad menjelaskan, jika di Thailand kurs turun dari 36 Bath ke dollar AS turun sampai sekitar 32 dan baru menguat lagi sampai sekitar 31,5 walaupun terakhir-terakhir Bath Thailand sedikit goyang.

Dia melanjutkan, jika nilai tukar rupiah turun karena melemahnya pertumbuhan konsumsi rakyat.

“Tapi rupiah kita lihat nih terus habis itu langsung Oktober 2017 trand-nya langsung melemah, kenapa bisa demikian, karena itu tadi konsumsi rakyat jadi anjlok pertumbuhannya,” tukasnya.

Dia juga menyebut beberapa faktor mengapa konsumsi rakyat dapat anjlok. Salah satunya adalah kenaikan harga BBM.

“Di mana ketika uang riil rakyat diambil pembelian jadi drop,” demikian tambah Drajad.

Penulis: Sulis Sutrisna

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here