Sebut Indonesia Bangsa Pekok, Amien Rais Dicela dan Dibela

0
2161

Jakarta, namalonews.com- Amien Rais tengah menjadi sorotan. Ketua Dewan Kehormatan PAN tersebut menyebut bangsa Indonesia sebagai bangsa pekok (bahasa Jawa untuk bodoh). Pernyataan tersebut dilontarkan oleh Amin sebagai tanggapannya atas keberadaan UU Migas yang menurutnya terlalu memihak kepentingan asing.
“Ini ada UU yang aneh dan ajaib. Bahwa gas alam di perut bumi Indonesia, itu boleh digunakan oleh bangsa sendiri setelah bangsa lain dicukupi kebutuhannya,” kata Amien pada hari Kamis (10/5/2018) saat mengisi ceramah di Masjid Muthohirin, Yogyakarta. “Ini mesti bangsa pekok.”
Amien kemudian menjadikan kasus Pabrik Pupuk Iskandar Muda di Aceh sebagai contoh. Menurut penjelasannya, pabrik tersebut tidak bisa lagi beroperasi karena tidak mendapatkan pasokan bahan bakar yang dibutuhkan untuk menjalankan mesin. Padahal pabrik tersebut berjarak tidak jauh dari tambang gas alam.
“Ini sebuah keanehan yang tidak masuk akal. Itu (gas alam) berkontainer-berkontainer dibawa oleh truk dari koorporasi gas, sebelum dibawa ke China itu melewati (Pabrik) Pupuk Iskandar Muda,” jelas Amien. “Jadi pabrik pupuk di Aceh itu kelenger, tidak bisa berfungsi karena gasnya yang hanya beberapa puluh kilometer dari (pabrik pupuk) itu dijual dulu ke Cina.”
Amien tidak merinci UU mana yang ia maksud. Adapun Undang-Undang Migas yang sedang berlaku saat ini adalah UU No 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi. UU itu sendiri ditandatangani oleh Presiden kelima RI Megawati Soekarnoputri setelah bersepakat dengan DPR.
Amien juga mengkritik adanya kontrak antara pemerintah Indonesia dengan perusahaan Freeport. Pasalnya akibat kontrak tersebut, hanya sebagian kecil dari cadangan emas tersebut yang kekayaannya bisa dinikmati oleh bangsa Indonesia. “Kita ini, karena bangsa jongos membuat sebuah kesepakatan kontrak karya itu. Tidak ada bangsa yang lebih pekok dari pada bangsa kita,” ujarnya pedas.
Selain mengkritik masalah pengelolaan sumber daya alam, Amien juga meminta supaya umat Islam di Indonesia lebih aktif dalam politik nasional. Menurut Amien, umat Islam di Indonesia berada dalam kondisi terpinggirkan karena hanya sedikit dari mereka yang menempati posisi penting di pemerintahan.
“Umat Islam di Indonesia ini, itu perlu punya partisipasi, punya hak menentukan negeri ini di dalam kekuasaan politik,” tegasnya. “Sekarang ini jelas sekali umat Islam itu menjadi umat yang marjinal, di pinggiran. Karena hampir semua kehidupan nasional tidak ada di tangan umat Islam. Pertambangan di tangan mereka, pertanian di tangan mereka, perkebunan mereka.”
Komentar Amien dalam ceramah tersebut tak ayal langsung membuat sejumlah politikus pendukung kabinet Joko Widodo merasa tersengat. Wasekjen Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Achmad Baidowi adalah salah satunya. Ia balik menyindir kalau saat pembahasan UU Migas dilakukan, fraksi PAN di pemerintahan sebenarnya juga ikut terlibat.
“Kalau soal UU Migas itu kan produk hukum periode sebelumnya yang dibahas DPR bersama pemerintah. Dan dari DPR terdiri dari fraksi-fraksi yang di dalamnya ada anak buah Amien Rais,” kata tokoh yang juga akrab disapa Awiek tersebut pada hari Jumat (11/5/2018).
Terkait kritikan Amien mengenai kontrak pemerintah dengan Freeport, Awiek menjelaskan kalau pemerintah sekarang tengah berusaha supaya kontrak tersebut bisa lebih menguntungkan negara.
“Terkait Freeport itu juga kontrak lama. Saat ini Jokowi berusaha melakukan negoisasi ulang dengan skema divestasi 51 persen. Dan untuk dikelola sendiri, perlu transisi dari kesiapan SDM (Sumber Daya Manusia) maupun infrastruktur,” paparnya seperti yang dilansir oleh Detik.
Sarmuji dari partai Golkar juga turut melontarkan kecaman serupa kepada Amien. “Apalagi Pak Amien menyebut UU Migas sebagai dasar kepekokan. UU Migas yang ada sekarang lahir pada tahun 2001 di mana Pak Amien berada pada puncak kekuasaan sebagai Ketua MPR,” sindirnya pada hari Jumat (11/5/2018).
“Jika undang-undang Migas bermasalah, mengapa Pak Amien tidak menggunakan kekuasaannya yang besar waktu itu untuk mengecegahnya?” kata Wasekjen Golkar tersebut mengingatkan. “Pak Amien sebaiknya berhenti memaki bangsa sendiri. Yang disebut bangsa pekok tadi adalah bangsanya sendiri, yang warganya juga termasuk Pak Amien sendiri.”
“Apalagi Pak Amien adalah juga tokoh partai yang partainya juga ikut menyusun undang-undang. Akan lebih bagus jika Pak Amien mengikuti ikhtiar Muhammadiyah untuk melakukan jihad konstitusi melakukan koreksi terhadap undang-undang jika memang ada undang-undang yang dianggap bermasalah,” sambung Sarmuji lagi.
Dicela bertubi-tubi oleh politikus lain, Daeng Muhammad akhirnya angkat bicara membela Amien. Politikus PAN tersebut menjelaskan kalau hanya karena Amien berposisi sebagai Ketua MPR saat pembahasan UU Migas dilakukan, bukan berarti UU tersebut bisa langsung dikaitkan dengan Amien.
“UU itu dibahas antara eksekutif dan legislatif, kalau UU dikaitkan langsung sama Pak Amien itu orang yang (bicara) tidak paham hukum tata negara,” kata Daeng pada hari Sabtu (12/5/2018). “UU itu kan bukan kitab suci. Kalau dianggap sudah tidak sesuai dengan rasa keadilan rakyat, apa salahnya kita ubah, dan tidak perlu dipersoalkan itu UU dibuat pada zaman siapa.”
Daeng menambahkan kalau penggunaan kata pekok untuk menyebut bangsa Indonesia bukan dimaksudkan sebagai hinaan. Tetapi sebagai tamparan agar bangsa Indonesia segera bangkit dari keterpurukan.
“Karena faktanya, sebagai sebuah bangsa, kita memang belum berdaulat. Banyak aturan dan kebijakan saat ini yang dianggap pro-asing dan merugikan rakyat,” tandas Daeng. “Harusnya bangsa ini bersyukur, masih ada Amien Rais yang terus memupuk nasionalisme sebagai bangsa yang berdaulat di negeri sendiri.”
Menurut informasi yang dihimpun oleh Detik, bukan sekali ini saja Amien Rais menggunakan istilah yang kontroversial untuk mengkritik pemerintah. Sebelumnya pada hari Minggu (6/5/2018), Amien diketahui sempat menyebut pemerintahan sekarang sebagai pihak yang sontoloyo (konyol).
“Bung Karno dulu mengatakan kalau ada pemimpin yang tidak memikirkan rakyatnya malah menjadi agen kekuatan tenaga asing itu pemimpin sontoloyo. Jadi kan yang sontoloyo itu siapa,” kata Amien pada waktu itu.
Jika mundur lebih jauh ke belakang, Amien juga sempat berujar kalau PAN dan partai-partai sekutunya adalah partai pembela Allah yang sedang berjuang melawan setan. Pernyataan tersebut dibuat oleh Amin saat mengisi ceramah seusai shalat subuh di Masjid Baiturrahim, Jakarta.
Sekarang ini kita harus menggerakkan seluruh kekuatan bangsa ini untuk bergabung dan kekuatan dengan sebuah partai. Bukan hanya PAN, PKS, Gerindra, tapi kelompok yang membela agama Allah, yaitu hizbullah. Untuk melawan siapa? Untuk melawan hizbutsy syaithan (partai setan),” kata Amien dalam ceramahnya kala itu.
“Orang-orang yang anti-Tuhan, itu otomatis bergabung dalam partai besar, yaitu partai setan. Ketahuilah, partai setan itu mesti dihuni oleh orang-orang yang rugi. Rugi dunia rugi akhiratnya. Tapi di tempat lain, orang beriman bergabung di sebuah partai besar namanya Hizbullah, partai Allah. Partai yang memenangkan perjuangan dan memetik kejayaan,” tambahnya.
Belakangan seusai acara, Amien berkilah kalau pernyataan tersebut hanyalah kiasan semata. Menurut Amien, yang dia maksud dalam ceramah bukanlah partai politik dalam artian yang sesungguhnya, melainkan cara berpikir.
“Jadi ini bukan partai, tapi cara berpikir. Cara berpikir yang untuk Allah, dan yang diikuti oleh setan. Yang cara berpikir gelombang manusia yang prosetan itu pasti akan merugi, sementara gelombang besar yang didikte oleh kehendak Allah pasti menang,” kata Amien mengklarifikasi.

Penulis: Sulis Sutrisna/ Berbagai Sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here