Sehari Setelah Penyanderaan di Mako Brimob, Seorang Anggota Polisi Tewas Ditusuk Terduga Teroris

0
411

Jakarta, namalonews.com- Teror yang dilakukan kepada para aparat kemanan kembali terjadi. Pada waktu itu, kamis malam (10/5), Bripka Marhum Prencje, yang termasuk salah satu dari anggota Satuan Intel Korps Brimob telah ditusuk dengan menggunakan pisau oleh terduga teroris yang disebut-sebut bernama Tedy Sumarmo (TS).

Peristiwa tersebut terjadi beberapa jam sesudah pemindahan narapidana teroris yang melakukan kerusuhan serta penyanderaan. Yang awalnya dari rutan cabang Salemba di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok menuju ke Nusakambangan, Jawa Tengah.

Prencje yang saat itu bertugas berjaga jaga di pos keamanan di luar Mako Brimob Depok mencurigai karena melihat seorang laki-laki sibuk mengabadikan foto kompleks rutan itu. Pada saat ditanya identitasnya, orang tersebut tidak bisa menunjukkan. Prencje dengan dua rekannya selanjutnya membawa laki-laki itu ke kantor Satuan Intel Korps Brimob yang ada di dalam area Mako.

Pada konferensi pers di Jakarta Jumat siang 11 Mei kemarin, Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Mabes Polri irjen Setyo Wasisto menjelaskan, pada saat diamankanserta diperiksa saat itu tidak ditemukan senjata tajam. Namun pada saat dibawa ke salah satu ruangan, TS selanjutnya mengeluarkan pisau serta menusuk Bripka Marhum Prencje.

Setyo Wasisto menjelaskan dengan tiba tiba orang yang mengaku bernama TS itu mengeluarkan pisau yang ternyata disimpan pada bawah alat kemaluan. Dan ketika berjalan menuju ruangan dengan posisi Bripka Marhum Prencje berada di depan selanjutnya adaTS dan dibelakangnya Briptu Gustri serta Briptu Rahmat. TS akhirya mengejar Bripka Marhum dan menusuk bagian perut dengan menggunakan pisau.

Pada saat itu Marhum sempat berteriak meminta tolong . Setelah itu TS, berbalik mengejar serta menyerang Briptu Gustri menggunakan pisau. Dengan sigap Briptu Gustri bisa menghindar serta bisa mengambil tindakan tegas terukur dengan cara menembak TS.

Prencje saat setelah penusukan sempat dilarikan ke RS Bhayangkara, akan tetapi akhirnya dinyatakan meninggal dunia tak lama kemudian. Akan tetapi, TS juga tewas sesudah ditembak oleh anggota polisi.

Sementara itu tepatnya di Tambun, Bekasi, polisi juga telah menembak tersangka dua terduga teroris yang melawan pada saat akan ditangkap. RA dan JG yang juga diduga termasuk anggota jaringan Jamaah Ansharut Daulah Bandung juga sempat dilarikan ke RS Bhayangkara, akan tetapi RA meninggal, sedangkan JG masih dirawat. Tak hanya itu saja, polisi juga menangkap dua terduga lain pada lokasi yang sama.

Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Mabes Polri irjen Setyo Wasisto juga mengungkapkan penindakan diambil sesudah memperoleh informasi intelijen mengenai adanya sekelompok orang yang menuju Mako Brimob guna membantu para napi terorisme untuk menjalankan aksi perlawanan pada petugas di rutan Mako Brimob.

Setyo juga menambahkan jika dari hasil pemeriksaan sementara menghasilkan informasi jika keempat terduga teroris itu termasuk jaringan Jamaah Ansharut Daulah atau JAD Bandung yang akan bergerak menuju Jakarta, terutama di Mako Brimob, Kelapa Dua. Mereka juga akan menjalankan aksi pada waktu insiden kerusuhan di Rutan Salemba cabang Mako Brimob, Kelapa Dua.

Ridlwan Habib selaku pengamat teroris dari Universitas Indonesia mengungkapkan jika harus ada penguatan personil serta markas satuan kepolisian pada tiap level. Kemudian juga evaluasi sistem pemenjaraan teroris secepat mungkin. Berhubungan dengan kerusuhan yang terjadi di Mako Brimob sebaiknya dijelaskan secara rinci kronologi secara detail.

Sebab sekarang ini telah mulai berkembang serangan balik opini dari kelompok-kelompok pro teroris yang mengatakan serangan di Mako Brimob itu terjadi sebab kedzaliman polisi. Diantaranya polisi memeriksa istri mereka yang akan berkunjungan dengan semena-mena atau para polisi yang terlebih dahulu melepaskan tembakan pada kejadian itu.

Ridwan juga mengungkapkan bahwa harus ektra ketat, khususnya kemampuan personil, seperti halnya kerja penjagaan yang lebih dari satu orang. Mekanisme pengamanan, setelah serangan ini diperkirakan juga akan ada aksi balas dendam dari kelompok-kelompok tersebut.

Kerusuhan yang terjadi antara napi kasus terorisme dengan polisi di rutan cabang Salemba di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok mengakibatkan lima orang anggota polisi tewas. Ridlwan Habib juga mengatakan jika sebaiknya diselidiki dengan intensif siapa saja sebenarnya yang telah membunuh kelima anggota Polri itu.

Apabila mereka tidak ada yang mengaku maka seluruh 155 napi teroris tersebut wajib disidik ulang. Apabila hal ini tidak dilakukan, masyarakat umum akan menilai bahwa anggota polisi takut terhadap anggota teroris.

Kepala Staf Presiden Moeldoko juga memberikan usulan pada Bapak Presiden Joko Widodo untuk kembali mengaktifkan kembali Organisasi Komando Gabungan Grup Khusus Anti Teror. Yang mana organisasi tersebut berisikan pasukan-pasukan elite di Indonesia seperti Kopassus, Denjaka, dan juga Denbravo.

Kepala Staf Presiden Moeldoko juga menjelaskan jika maksudnya status operasi itu semua kebutuhan dengan standar operasi. Namun untuk pekerjaannya adalah latihan mapping situasi misalkan di Bali dan latihan dengan cara terus menerus. Dengan demikian nanti begitu ada kejadian di Bali bisa langsung proyeksikan prajurit ke tempat tersebut, sehingga dengan mudah bisa diatasi.

Ditambahkan lagi oleh Kepala Staf Presiden Moeldoko, melihat situasi kerusuhan dan penyanderaan di Mako Brimob Kelapa Dua Depok itu, pembentukan kembali Komando Gabungan Grup Khusus Anti Teror ini bisa dinilai cukup signifikan.

Kerusuhan yang terjadi Selasa tanggal 8 Mei di Mako Brimob itu memang terjadi secara tiba tiba. Sekelompok tahanan teroris dengan kejamnya mengamuk serta menyandera aparat polisi. 5 orang polisi memngalami luka yang parah hingga tewas, sedangkan yang lainnya mengalami luka-luka. Ada yang terkena luka bacok, ada yang terkena luka sayat, hingga ada juga yang diterjang dengan senjata timah panas. Para napi yang membuat kerusuhan tersebut bahkan sempat menguasai rumah tahanan. Mereka sebelumnya telah melakukan perampasan senjata dan juga amunisi aparat. Mereka juga ingin menguasai blok-blok tahanan yang lainnya untuk menunjukkan keberingasan dan kekejaman mereka.

Aksi tersebut memang begitu kejam dan sadis. Bahkan Ketua DPR telah mengutuk aksi brutal dari para anggota napi tersebut. Mereka sepantasnya mendapat tumpahan kemarahan dari seluruh rakyat Indonesia. Meskipun kenyataannya mereka sudah ditahan sebagai hukuman yang dianggap sebagai musuh masyarakat dan kemanusiaan, akan terapi masih juga masih bisa mendapat ruang untuk me-lakukan kebrutalan yang dinilai sungguh di luar batas akal kemanusiaan.

Para napi teroris tersebut telah melakukan pembangkangan pada hukum negara, sebab mereka melawan aparat yang saat itu sedang menjaga dan juga mempertahankan sendi-sendi keamanan serta perlindungan kepada masyarakat, bangsa dan juga Negara Indonesia ini. Mereka juga sudah melukai atau menciderai rasa kemanusiaan dan juga perasaan publik melalui aksi yang mereka lakukan pada aparat yang tewas ataupun aparat kepolisian yang mengalami luka-luka dan juga mengalami trauma yang begitu mendalam.

Penulis: Sulis Sutrisna/ Berbagai Sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here