Mahathir Mohamad Terpilih Jadi PM Malaysia, Tidak Akan Ada Politik Balas Dendam

0
245

Jakarta, namalonews.com- Mahathir Mohamad telah terpilih menjadi Perdana Menteri Malaysia mengalahkan pesaingnya yaitu Najib Razak. Terpilihanya Mahathir tersebut menujukan pada masyarakat di dunia bahwa dalam dunia politik, partai berkuasa pun bisa dikalahkan oleh partai koalisi.
Kemenangan Muhathir ini tentu dapat memberikan dampak positif terhadap politik bilateral antara Indonesia dengan Malaysia. Hal tersebut karena Muhathir ini merupakan politisi senior asal Malaysia yang sudah kenal dengan para politisi Indonesia seperti Megawati, Prabowo, SBY dan juga Habibie.
Banyak yang menyebutkan jika hal ini akan menjadi suatu efek yang positif bagi kedua Negara termasuk juga soal hubungan dengan negara Melayu Serumpun. Hal ini pun diharapkan dapat dibarengi dengan efek positif lainnya misalnya di bidang ekonomi, investasi dan lain sebagainya.
Bahkan ditengarai jika kemenangan Mahathir ini bisa berdampak luas di kawasan Asia Tenggara juga. Hal tersebut dikarenakan Mahathir merupakan politisi senior dan pejabat negara di generasi Mahathir sendiri sudah tidak menjabat lagi seperti misalnya Suharto dari Indonesia, Lee Kuan Yew dan Singapura dan Ferdinan Marcos dari Filiphina.
Namun, meskipun begitu diharapkan jika Mahathir nantinya dapat menjadi seseorang yang membantu menentukan arah pengembangan kebijaksaan terutama dalam bidang politik di Asia Tenggara terutama di organisasi ASEAN.
Sementara Najib Razak sang Mantan Perdana Menteri Malaysia yang tidak bisa melanjutkan kepemimpinannya tersebut nampaknya sudah tidak bisa berlanjut di pemerintahan karena harus berkutat dengan masalah dugaan pidana korupsi yang ia lakukan.
Akan tetapi, disebutkan jika perannya mungkin akan tetap kuat di UMNO atau United Malaysia National Organization dan koalisi BN atau Barisan Nasional yang merupakan tempat dimana ia dibesarkan.
Terkait dengan masalah kekisruhan yang terjadi di Malaysia saat ini, nampaknya tidak akan terjadi hal-hal seperti serangan politik balas dendam. Itu artinya Najib Razak tidak akan mempersalahkan kekalahannya dan akan menerima Mahatir dengan kemenangan yang ia raih tersebut.
Hal tersebut tidak berhubungan jauh dengan kekalahan partainya dalam Pemilihan Umum ke-14 Malaysia tersebut. Ia menyatakan jika dirinya mempunyai tanggung jawab moral untuk mengundurkan diri setelah peristiwa kekalahan partainya tersebut.
Kemenangan Mahathir Mohamad sendiri memang bisa dibilang sebagai suatu hal yang mengejutkan dunia karena ia diusung oleh tim koalisi yang kemudian dapat terpilih menjadi Perdana Menteri Malaysia. Dan ia juga menunjukan bahwa umur bukanlah sebuah halangan untuk dirinya menjadi Perdana Menteri. Seperti yang diketahui, saat ini Mahathir berusia 92 tahun.
Perubahan di Malaysia ini pun tidak lepas dari pengamatan masyarakat Indonesia. Sebab, bagaimana pun kedua negara memang selalu dihubung-hubungkan satu sama lainnya. Ada yang beropini jika apa yang terjadi di negeri Jiran tersebut akan berdampak bagi Indonesia.
Sebaliknya, ada juga yang menilai jika peta politik di Malaysia tersebut tidak akan ada pengaruhnya sama sekali terhadap politik Indonesia.
Misalnya menurut Zulkifli Hasan yang saat ini menjabat sebagai Ketua MPR RI tersebut kemenangan Mahathir bisa jadi inspirasi bagi Indonesia dalam menyongsong Pemilihan Umum 2019 yang akan datang.
Menurut Zulkifli, masyarakat Malaysia ingin negara mereka berdaulat secara penuh terutama dalam bidang ekonomi. Dan kemudian kekhawatiran intervensi asing lah yang kemudian menurut Zulkifli sebagai pemicu yang membuat tim oposisi menang pada Pemilu tersebut.
Ketua MPR RI tersebut juga menyebutkan jika salah satu yang menjadi perjuangan dari Koalisi Pakatan Harapan atau PH yang dipimpin oleh Mahathir ini adalah kemandirian dan kedaulatan masyarakat di negerinya sendiri. Menangnya Mahathir juga disebut Zulkifli sebagai buah dari perjuangan kedaulatan yang bersih dari korupsi.
Selanjutnya, kemenangan Mahathir ini menurut Zulkifli juga bisa menjadi suatu inspirasi bagi Indonesia agar bisa menegakkan kedaulatan bangsa ini di atas segalanya. Ia menyebutkan bahwa jika saat ini pengangguran masih tinggi maka perlu untuk mengutamakan tenaga kerja dari negara sendiri bukan malah mementingkan tenaga kerja asing.
Hasil Pemilihan Umum di Malaysia ini juga menunjukan bahwa kerja politik meskipun berumur tua ternyata tetap ampuh. Dan Zulkifli juga menyebutkan jika ternyata isu soal TKA juga ampuh dalam pemilihan umum tersebut.
Malaysia saat ini secara resmi telah melantik Perdana Menterinya yang baru yaitu Mahathir Mohamad yang menggantikan Najib Razak. Dalam pemilihan umum, kelompok Mahathir memenangkan suara tersebut secara telak dengan jumlah 122 kursi parlemen menggusur kelompok yang sebelumnya memegang kekuasaan.
Hal tersebut tentu mengguncangkan berbagai survei yang sebelumnya telah dilakukan. Karena pada survei-survei yang sudah dilakukan, Barisan Nasional, partai penguasa pada saat itu, diprediksi akan menang dalam pemilu tersebut.
Terkait dengan hal tersebut, Charles Honoris yang merupakan politikus asal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan menyatakan bahwa kekalahan Najib Razak tersebut tidak bisa disamakan dengan peta politik di Indonesia saat ini.
Menurut Charles, menangnya Mahathir yang merupakan pemimpin oposisi ini merupakan dampak dari evaluasi kinerja pemerintahan dibawah pimpinan PM Najib Razak yang kurang memuaskan menurut mayoritas rakyat yang ada di negeri jiran tersebut.
Ditambah lagi dengan adanya dugaan korupsi yang melibatkan PM Najib Razak yang sebelumnya memerintah sejak tahun 2009 tersebut. Skandal korupsi 1MDB yang melibatkan Najib Razak tersebut diperkirakan merugikan Malaysia hingga jutaan dollar Amerika.
Charles menambahkan jika pemilih akan lebih cenderung untuk memilih tim oposisi jika partai yang saat itu menguasai tidak bisa menjalankan pemerintahan sesuai dengan yang diharapkan.
“Rumus politik yang rasional selalu seperti itu. Semakin baik kinerjanya, kelompok oposisi akan semakin tidak laku. Sebaliknya jika pemerintahnya tidak becus, oposisi akan semakin mendapat angin segar untuk menumbangkannya (partai penguasa),” jelas Charles saat ditemu pada Jumat (11/5).
Menurut Charles, rumus tersebut lah yang bisa diterapkan di Indonesia. Akan tetapi, mengingat bahwa di Indonesia ini kepuasaan masyarakat terhadap pemerintahan Jokowi terlihat semakin tinggi, seperti yang banyak ditunjukan oleh sebagian besar survei, kejadian yang sama dengan Malaysia, menurut dia akan sulit terjadi di Tanah Air.
Dalam hal ini, Charles menyebutkan salah satu hasil survei yang ditunjukan oleh salah satu lembaga survei di Indonesia yang menunjukan jika lebih dari 70 persen masyarakat di Indonesia puas dengan kinerja yang diberikan oleh pemerintahan saat ini.
Terkait dengan kemenangan Mahathir, Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri ikut mengucapkan selamat atas kemenangan Mahathir dalam Pemilu dan diresmikannya Mahathir sebagai Perdana Menteri atau PM Malaysia.
Senada dengan komentar lain dari para politikus di Indonesia, Megawati juga turut sepakat jika masyarakat Malaysia telah menunjukan demokrasi pada esensi yang paling dasar dengan kemenangan Mahathir tersebut.
Megawati juga menyebutkan bahwa keteguhan sikap serta kepemimpinan Mahathir ini akan membawa kemajuan yang besar bagi Malaysia. Pelantikan Mahathir Mohamad sebagai PM Malaysia sendiri telah berlangsung pada Kamis (10/5) menyusul kemenangannya pada Pemilu Malaysia mengalahkan pesaingnya, Najib Razak.

Penulis: Sulis Sutrisna/ Berbagai Sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here