Timor Leste Gelar Pemilu Dini, Ini Kata Jose Ramos Horta

0
400

Jakarta, namalonews.com- Rakyat Timor Leste kembali berkumpul dan memenuhi tempat-tempat pemungutan suara setelah kurang dari setahun Pemilu 2017 diselenggarakan. Pemungutan suara yang digelar Sabtu (12/5) lalu tersebut dikatakan sebagai bentuk kedewasaan politik Timor Leste oleh Jose Ramos Horta.
Jose Ramos Horta sendiri merupakan tokoh penting dalam politik Timor Leste. Pemenang Nobel Perdamaian dan mantan pejuang kemerdekaan Timor Leste tersebut saat ini menduduki kursi Menteri Negara dan Penasehat Urusan Keamanan Nasional.
Pemilihan Umum yang digelar pada Sabtu lalu tersebu merupakan Pemilu kedua di Timor Leste setelah Pemilu 2017 yang diselenggarakan pada 22 Juli. Kala itu, koalisi Partai Demokrat dan Fretilin di bawah pimpinan Marie Alkatiri di luar dugaan dapat mengungguli satu kursi lebih banyak dari koalisi yang dipimpin CNRT yang di dalamnya mengusung tokoh karismatik yang juga menjabat sebagai PM pada waktu tu, Xanana Gusmao.
Setelah itu, Marie Alkatiri selaku pemimpin Fretilin ditetapkan menjadi Perdana Menteri. Akan tetapi program serta anggaran yang dibuat ditolak oleh politikus dari tim oposisi yang dipimpin CNRT.
Setelah dilakukan berbagai perundingan dan tak ada hasil, akhirnya pada 26 Januari lalu Francisco Gueterres selaku Presiden dengan julukan Lu-Olo tersebut membubarkan parlemen dengan anggota 65 orang tersebut dan mengumumkan akan menyelenggarakan Pemilu dini yang baru berlangsung pada Sabtu lalu tersebut.
Pemilu dini yang diselenggarakan Timor Leste tersebut melibatkan kurang lebih 784.000 pemilih yang terdaftar di 13 distrik. Para pemegang hak suara tersebut memilih 65 anggota parlemen baru yang diharapkan dapat membentuk pemerintah yang stabil.
Terkait dengan digelarnya Pemilu dini tersebut, Jose Ramos menyebutkan bahwa terjadi kebuntuan politik di negaranya.
“Kami mengalami kebuntuan politik,” kata Ramos.
Ia juga menjelaskan jika kebuntuan politik tersebut hanya dipertarungkan di parlemen saja dan bukan dilakukan di jalanan. Seluruh perbedatan tersebut dikatakan Ramos berlangsung secara moderat dan beradab.
Dan karena adanya kemustahilan untuk terbentuk sebuah hasil diantara perbedatan berbagai pihak tersebut, Presiden Lu-Olo pun memutuskan untuk membentuk pemerintahan yang baru.
“Dan akhirnya ia (Presiden Lu-Olo) menetapkan diselenggarakannya pemilu dini. Dan semua pihak kala itu menerimanya,” jelas Ramos.
Terkait dengan kesepakatan berbagai pihak tersebut, Ramos menjelaskan jika awalnya kalangan oposisi khususnya CNRT menginginkan jika presiden menunjuk saja pemerintahan yang dipimpin olehnya. Akan tetapi presiden menolak.
“Presiden menolak, dan sepatutnya memang demikian. Dan ya akhirnya semua pihak menerima,” tambah Ramos.
Ramos sendiri merasa senang dengan keputusan tersebut. Menurutnya, hal ini adalah sebuah pencapaian tingkat lanjut dari demokrasi yang ada di Timor Leste. Ia sepakat jika segala sengketa dan segala perbedaan diperjuangkan di dalam parlemen saja, di dalam kerangka perundang-undangan yang sah.
“Jadi kami melangsungkan pemilihan umum. Kita lihat apa yang akan diputuskan rakyat,” tandasnya.
Ramos sendiri juga menyatakan prediksinya terkait dengan perolehan suara pada pemilihan umum tersebut. Menurutnya, saat ini indikasi banyak yang menunjukan bahwa koalisi Fretilin dan Partai Demokrat di pemerintahan sekarang akan memperoleh peningkatan kursi di parlemen.
“Saya melihat sendiri di pelosok negeri mengenai gelombang simpati terhadap Fretilin dan Partai Demokrat,” katanya.
Akan tetapi dia juga menambahkan jika demokrasi tetapilah demokrasi. Jika Pemilu tersebut diselenggarakan sepenuhnya secara transparan, adil dan bebas dari korupsi maupun kolusi, maka segalanya tidak akan ada yang bisa diduga.
“Jadi siapa tahu? Bisa saja koalisi pimpinan CNRT yang akan menang,” tambah Ramos.
Mengenai Fretilin sendiri, Ramos menceritakan bahwa Fretilin tetapi parpol nomor satu di Timor Leste meskipun partai tersebut belum pernah mencapai perolehan suara 30 persen dalam setiap Pemilihan Umum di Timor Leste.
Ia mencoba menggambarkan hal tersebut dengan Pemilu 2007 saat Xanana Gusmao yang dengan segala kharismanya ternyata kalah padahal dianggap bisa memenangkan Pemilu tersebut secara telak.
Saat itu, Ramos merupakan Presiden Timor Leste dan ia pun menceritakan bahwa dirinya harus berundung mengenai pembentukan pemerintahan sampai satu bulan. Hingga khirnya, Ramos mengundang Xanana yang saat itu sudah berhasil mengajak empat hingga lima partai lain untuk membuat sebuah koalisi pemerintahan. Tetapi, partai-partai tersebut masih kalah dari Fretilin.
Dan barulah pada Pemilu 2012, Xanana dan CNRT dapa memenangkan suara mayoritas. Dan tahun lalu, dengan programnya yang bernilai jutaan dolar, Xanana kembali kalah.
“Ini positif, dalam arti pemilih kami sangat berwawasan dan politis. Mereka tidak terbuai hanya dengan kharisma. Mereka tak mudah diyakinkan dengan janji-janji gampangan,” ujar Ramos.
Karena itulah menurutnya, Fretilin tetap sebuah partai politik terkuat di Timor Leste. Mereka bisa menang dalam Pemilu 2017 lalu meski secara tipis karena hanya unggul satu kursi saja di parlemen dari koalisi yang dipimpin CNRT.
Jose Ramos Horta sendiri awalnya adalah salah satu anggota yang ikut mendirikan Fretilin. Tetapi, saat ini ia sudah bukan bagian dari partai manapun setelah keluar dari Fretilin pada tahun 1987. Artinya ia keluar dari partai tersebut tidak berselang lama dari keluarnya Xanana.
“Saya sekarang bukan anggota parpol. Dulu saya keluar dari Fretilin untuk bisa bekerjasama dengan semua pihak, tidak ada faskionalisme atau sektarianisme,” jelasnya.
Saat ditanya apakah dirinya saat ini mendukung Fretilin, Ramos Horta menjelaskan bahwa setelah ia tak terlibat dengan panggung politik selama beberapa tahun menyelesaikan jabatannya sebagai presiden, ia memutuskan bahwa ia harus mendukung pemimpin Fretilin, Marie Alkatiri.
“Saya mendukung Marie Alkatiri karena saya percaya padanya. Saya juga percaya pada Partai Fretilin yang sudah saya kenal betul, saya ikut mendirikan (Partai Fretilin) tahun 1974,” jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa Partai Fretilin adalah partai yang sudah melintasi banyak hal selama 10 tahun sebagai oposisi dan saat ini sudah menjadi dewasa karena telah belajar banyak.
Ramos juga menjelaskan bahwa salah satu kepemimpinan Alkatiri adalah adanya pembangunan di area Oeccussi. Dalam empat tahun, jelas Ramos, di bawah kepemimpinan Alkatiri, kawasan dengan penduduk mencapai 75 ribu orang tersebut ditransformasikan dari nol besar.
“Kita bisa bandingkan kualitas infrastruktur disana dengan kawasan lain di Timor Leste. Itu alasannya saya percaya pada Alkatiri. Ia merupakan pejabat publik yang bagus,” tambahnya.
Ramos sendiri juga menyebutkan bahwa kembalinya ia ke panggung politik merupakan sebuah proyeksi ke depan. Ia menganggap bahwa ini adalah tahun-tahun terakhir dimana generasi politiknya mengakhiri kehidupan politik.
“Pak Xanana sedikit lebih tua dari saya, dan Pak Alkatiri seumuran dengan saya, tetapi kami semua berasal dari generasi politik yang sama,” katanya.
Karena itulah, menurutnya, sudah sepantasnya pada tahun 2022 mendatang generasi tersebut mulai meninggalkan panggung politik utama sepenuhnya. Dengan ini, artinya generasi tersebut harus memperbaiki pemerintahan, harus memberantas korupsi, pemborosan anggaran dan memperkuat sistem peradilan sebelum keluar dari panggung politik, tutupnya.

Penulis: Sulis Sutrisna/ Berbagai Sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here