Heboh! Media Asing Sebut Jokowi Butuh Uang Tunai Dari China

0
409

Jakarta, namalonews.com- Hal biasa ketika sebagai seorang tokoh publik, apalagi seorang presiden, selalu dalam pengawasan atau sorotan sehingga  menjadi bahan pemberitaan media massa. Bukan saja media massa dalam negeri, melainkan juga media massa luar negeri atau asing. Hal itu juga berlaku bagi Presiden Joko Widodo (Jokowi). Perilaku dan kebijakan  seorang presiden berada dalam pengawasan masyarakat dan media massa.

Beberapa media asing yang sering memberitakan kebijakan Presiden Jokowi di antaranya  The Economist, TIME, Asia Time, News Week, dan Fortune, The Straits Times, The Star Online, South China Morning, Wall Street Journal, dan CNN.

Pada umumnya, media asing-media asing tersebut nge-fans kepada Jokowi ketika mantan Gubenur DKI Jakarta itu menjadi presiden pada pilpres 2014. Namun, sekarang sikap media asing-media asing itu berubah. Sejumlah media asing mulai mengkritisi kebijakan Presiden Jokowi.

Media massa asing-media massa asing tersebut, dalam salah satu laporannya menyatakan bahwa Presiden Jokowi membutuhkan dana dari asing untuk menyukseskan pilpres 2019.

Dilansir tribunnews.com, salah satu laman berita di Shouth China Morning Post (SCMP) yang dirilis pada Sabtu (12/5/2018), menyoroti Jokowi dan hubungannya dengan China.

Dalam artikel berjudul “A Catch-22 From China That Could Derail Indonesia’s Widodo,” media asal Tiongkok ini bahkan menyebut Presiden Jokowi membutuhkan uang tunai dari China untuk memenangkan suara dalam pemilu mendatang. Uang tersebut nantinya digunakan untuk membangun kereta api dan pelabuhan.

Namun, sebagai syarat untuk mendapatkan uang dan membangun infrastruktur tersebut, Jokowi harus menerima pekerja dari China. Sayangnya, hal ini justru membuat suara pemilih terhadap Jokowi menurun.

Kenapa seorang presiden membutuhkan dana yang besar? Karena seorang calon presiden perlu biaya sosialisasi, baik iklan di televisi mupun koran, membayar saksi-tim sukses-konsultan, dan biaya-biaya lainnya untuk seluruh wilayah Indonesia.

Pada pilpres periode sebelumna, seorang pengamat ekonomi memprediksi bahwa seorang kandidat presiden harus menyiapkan US$ 600 juta (sekitar Rp 7 triliun), seperti dikutip situs Forbes, 20 November 2013. Itu lima tahun yang lalu. Biaya untuk seorang capres pada saat ini tentu akan bertambah besar.

Sementara itu, Bank Pembangunan China mencairkan pinjaman sebesar $170 juta untuk memulai pekerjaan teknis kereta api cepat, guna mensukseskan janji Jokowi pada Pilpres 2014 lalu. Dengan menyalurkan dana, China telah memberikan Jokowi bantuan kepada pemilih yang ragu dengan menghadirkan kemajuan proyek.

“China sedang mencoba untuk memastikan bahwa janji Jokowi berada di jalurnya,” kata peneliti di Pusat Studi China di Jakarta, Pattiradjawane.

“Uangnya ada di sana dan pekerjaan dimulai,” imbuhnya. Akan tetapi, ketergantungan Jokowi pada investasi China dinilai berisiko menjadi bumerang di tengah banjirnya TKA China. China merupakan investor terbesar ketiga Indonesia setelah Singapura dan Jepang.

Penulis: Sulis Sutrisna

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here