Ini Alasan Sudrajat-Ahmad Syaikhu Bawa Kaos #2019GantiPresiden di Debat Pilkada Jabar

0
468

Jakarta, namalonews.com- Debat publik putaran kedua dari pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Jawa Barat yang diselenggarakan  di Balairung Universitas Indonesia (UI), Depok, berakhir dengan situasi yang ricuh. Kericuhan tersebut terjadi pada saat debat  sudah memasuki sesi yang terakhir atau closing statement.

Awal mula kericuhan tersebut terjadi pada saat debat pilkada Jawa Barat di Balairung UI, Depok, Senin tanggal 14 Mei 2018 kemarin yang ditanggapi oleh pasangan nomor urut 3 yaitu Sudrajat-Ahmad Syaikhu sebagai contoh berdemokrasi.  Dan ketika itu, pasangan nomor tiga Sudrajat-Ahmad Syaikhu (Asyik) diberikan kesempatan untuk memberikan pernyataan penutup. Sudrajat pun juga menyatakan bahwa jika dirinya nanti terpilih maka pada tahun 2019, Indonesia akan ganti presiden.

Kemudian pada saat akhir debatnya, calon Wakil Gubernur Jawa Barat, Ahmad Syaikhu, juga mengungkapkan kata-kata dengan nada provokatif sambil membentangkan kaos yang berwarna putih yang ada tulisannya “2018 Asyik Menang, 2019 Ganti Presiden”. Sudrajat – Ahmad Syaikhu pun juga yakin  bahwa tindakan mereka tidak menyalahi peraturan KPU dan juga Bawaslu.

Karena telah diatur dalam UU kebebasan berekspresi bahwa semua berdemokrasi itu bebas untuk menyampaikan aspirasi.

Langsung saja aksi Syaikhu tersebut mengundang rekasi dari pendukung paslon TB Hasanuddin-Anton Charliyan (Hasanah). Mereka juga mulai ricuh dan meneriakan nama Jokowi. Kericuhan yang terjadi tersebut semakin meluas karena pendukung pasangan lain menyoraki pasangan Hasanah.

Tindakan pasangan yang didukung oleh  Partai Gerindra, PAN, dan juga PKS ini menjadikan situasi di lokasi debat menjadi sedikit panas, bahkan debat juga sempat ditunda selama  menit. Para calon pendukung yang pro dan kontra juga tampak saling bersahutan. Bahkan kedua moderator juga telah beberapa kali meminta pengunjung agar bisa lebih tenang.

Moderator Alfito Deannova Ginting juga sudah berkali-kali memberikan peringatan kepada para pendukung untuk tetap dalam situasi yang tenang. “Mohon tenang, mohon tenang. Bapak-bapak, ibu-ibu, acara tidak selesai kalau anda tidak tenang. Mohon tenang kita punya juri KPU dan Bawaslu mohon tenang,”  ungkapAlfito kepada para penonton yang ribut. Massa pendukung tidak juga mau berhenti dengan kericuhannya. Bahkan mereka terus saling bersahutan. Bahkan juga sempat terdengar suara-suara yang kasar.

Ketua KPU Yayat Hidayat akhirnya terpaksa naik ke atas panggung. Yayat juga meminta kepada semua untuk bisa bersikap tenang. Akan tetapi imbauan Yayat tak dihiraukan. Massa juga masih berteriak-teriak dengan mengeluarkan kata yang kasar. Pada akhirmya Cagub Tb Hasanuddin ikut menenangkan penonton yang ricuh.

Hal ini juga sempat membuat pasangan nomor empat yaitu Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi menjadi terdiam di atas panggung. Bahkan di antara riuhnya pendukung pasangan TB Hasanuddin-Anton Charliyan (Hasanah), Deddy Mizwar juga sempat mendekati sang istri untuk menenangkan.

Sebab istri Deddy Mizwar tersebut sempat terlihat khawatir dengan situasi kericuhan yang terjadi tersebut. Deddy Mizwar  pun juga mengaku bahwa dirinya merasa sudah tidak semangat lagi untuk menyampaikan penutup atau closing statement.

Sementara itu, massa pun masih terus meneriakkan emosinya dengan ucapan pasangan Asyik. Mereka juga meminta supaya Bawaslu mendiskualifikasi pasangan itu. Bahkan juga ada kader yang memaksa naik ke panggung. Akan tetapi justru dihalangi oleh petugas.

Massa baru bisa sedikit mereda setelah TB Hasanuddin mengeluarkan pernyataannya. “Semua tenang. Saudara jangan ikuti apa yang diterorkan kepada kita,” ungkap Hasan menenangkan kericuhan yang terjadi.

Dia pun juga meminta agar para pendukungnya kembali ke rumah dengan tenang. Dengan tegas Hasan juga menyatakan supaya tidak ada yang melakukan tindakan melanggar hukum. Hasan pun juga mengungkapkan “Jadi pulang kembali jangan merugikan diri sendiri, saudara pulang bersama saya. Ikuti perintah saya,”.

Hasan pun juga meminta para pendukungnya supaya bisa saling memaafkan atas apa yang terjadi tadi. Persoalan yang ada kata dia akan diselesaikan pada  jalur yang semestinya. Dia pun juga menghimbau supaya mereka tidak membiasakan main teror. Jangan lakukan kegiatan melanggar hukum kita bukan teroris, pulang. Kita selesaikan dengan Bawaslu. Kita belum masuk pada tahap pilpres.

Akibat dari kegaduhan  atau kericuhan yang terjadi itu, pasangan nomor urut empat, Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi sempat terhalang untuk menyampaikan closing statement.

Setelah proses debat selesai pada Senin malam, Sudrajat mengungkapkan jika disini kebebasan aspirasi itu dihargai dan kita belajar demokrasi yang pelan-pelan kita bangun, dengan demikian seluruh masyarakat Jawa Barat mengerti apa artinya demokrasi.

Sudrajat juga telah mengungkapkan jika proses pengenalan demokrasi ini diharapkan masyarakat mengetahui siapa paslon yang akan dipilih nantinya. Dengan demikian ungkapan seperti membeli kucing dalam karung itu tidak terjadi.

Sudrajat pun juga menjelaskan jika tujuannya dan Syaikhu membawa kaos yang bertuliskan “2018 Asyik Menang, 2019 Ganti Presiden” tersebut sebagai ungkapan aspirasi demokrasi. Kebijakan pemerintah provinsi selama ini dilangkahi atau dimunculkan oleh pemerintah pusat sehingga ini cenderung menyulitkan pengembangan yang ada di daerah.

Sudrajat juga mengungkapan bahwa contoh rencana pembangunan Jawa Barat seperti mau dibangun kawasan industri di 10 wilayah provinsi Jawa Barat. Terkadang Pemerintah Jawa Barat juga tidak diajak konsultasi jika akan dibangun wilayah industri tersebut dan juga soal penguasaan lahan, jadi harus ada pemerintah pusat yang sinkron dengan pemerintah daerah.

Sudrajat – Ahmad Syaikhu bahkan merasa yakin jika tindakan mereka tidak menyalahi peraturan KPU dan Bawaslu. Karena hal tersebut sudah diatur dalam UU kebebasan berekspresi. “Kita harus belajar semua ini adalah kebebasan berekspresi.

Sudrajat juga menjelaskan bahwa Kaos dengan tulisan “2018 Asyik Menang, 2019 Ganti Presiden” tersebut tidak berbeda dengan kaos di pinggir jalan dan ini hal yang wajar dalam era demokrasi. Dirinya juga mengungkapkan sebaiknya menyikapi dengan kepala dingin dan jangan terpancing emosi.

Bahkan jika nanti kedepannya Bawaslu akan menindak dirinya dan Ahmad Syaikhu, Sudrajat juga akan bersiap dengan tim advokasi. Dirinya juga berharap dasar hukumnya harus jelas.

Sudrajat juga menjelaskan bahwa kaos yang dikeluarkan dalam acarayang diselenggarakan di Balairung Universitas Indonesia (UI), Depok  sudah beredar sejak tanggal 12 kemarin. Bahkan ketika kampanye akbar di Bandung kaos tersebut katanya sudah sudah beredar, dan Bawaslu tidak melakukan apa-apa.

Awal mula acara debat pilgub Jabar sempat menjadi ricuh karena Akhmad Syaikhu membentangkan kaos “2018 Asyik Menang, 2019 Ganti Presiden”. Suasana itu berubah panas pada saat seluruh pendukung pasangan calon lain juga menyaksikan hal yang dilakukan tersebut.

Tampak dari para pendukung paslon dari kubu TB Hasanuddin dan Anton Charliyan yang diusung Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P)  merasa tidak terima dengan sikap yang dilakukan oleh Syaikhu tersebut. Sehingga mereka selanjutnya mencoba naik ke atas panggung untuk menanyakan maksud dari hal yang dilakukannya tersebut. Aparat kepolisian yang berjaga pun pada akhirnya meredam kejadian  di Balairung Universitas Indonesia (UI), Depok yang ricuh itu.

Penulis: Sulis Sutrisna/ Berbagai Sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here