Tahun Politik, Intensitas Aksi Teror Meningkat

0
209

Jakarta, namalonews.com- Aksi terorisme kembali mengguncang negeri ini. Kali ini bom mengguncang Surabaya, Jawa Timur pada hari Minggu (13/5) sekitar pukul 7 pagi. Ledakan bom terdengar dari tiga lokasi dalam waktu yang kurang lebih bersamaan yaitu di Gereja Kristen GKI Diponegoro, Gereja Kristen GPPS Arjuna dan Gereja Katholik Santa Maria Tak Bercela, Ngagel.

Ketua Setara Institute Hendardi mengutuk keras aksi yang dilakukan oleh para teroris ini. Ia menyebutkan bahwa aksi ini merupakan aksi biadab yang tidak memiliki sisi kemanusiaan.

“Aksi biadab yang tidak berperikemanusiaan ini tak akan pernah dapat dibenarkan dengan alasan apa pun,” terangnya di depan awak media ketika mengomentari aksi bom bunuh diri yang terjadi di beberapa gereja di Kota Surabaya tersebut.

Selanjutnya, Hendardi mengimbau supaya masyarakat di tanah air tidak terpecah belah karena upaya-upaya provokasi ini. Yaitu provokasi dengan bentuk kekerasan yang menjadikan tempat-tempat ibadah sebagai sasaran.

“Tunjukan jika masyarakat tak takut dan dapat saling bergandengan tangan mengatasi masalah intoleransi, terorisme dan radikalisme ini,” jelasnya.

Ia juga menambahkan jika sebaiknya aksi bela sungkawa terhadap korban tak perlu ditunjukan dengan mengunggah video, gambar atau material lainnya untuk di sebar di media sosial. Karena hal ini justru menyebarluaskan ketakutan yang akan semakin meluas.

Menurut Hendardi, pesan ketakutan itulah yang diinginkan oleh terorisme tersebut atau lebih tepatnya apa yang dikehendaki setiap aksi kekerasan.

Setara Institute, lanjut Hendardi, akan mendukung pihak Polri, aparat keamanan dan juga intelijen untuk menindak aksi terorisme secara terus menerus. Hendardi juga menyebutkan bahwa pihaknya akan terus membantu dalam mendeteksi apapun gejala permulaan yang bersifat mencurigakan.

“Tak perlu ragu mengambil langkah hukum dan langkah koersif lainnya, sepanjang (hal tersebut) secara faktual dan juga aktual diperlukan aparat keamanan,” tambah Hendardi.

Keberhasilan Polri dalam menindak aksi teror yang dilancarkan di Mako Brimob Kelapa Dua Depok pada Rabu (9/5) serta prestasi-prestasi sebelumnya juga dapat menjadi bekal untuk Polri dalam mengendalikan situasi dan memastikan bahwa aksi-aksi teror bisa diatasi.

Sejalan dengan tindakan yang dilakukan oleh Polri, institusi intelijen negara yang telah tersebar di berbagai institusi pemerintah dan institusi keamanan lainnya harus meningkatkan tingkat waspada hingga maksimum.

“Supaya tindakan preventif dapat dilakukan dengan bekal informasi dari intelijen yang lebih jelas,” ungkapnya.

Hendardi juga menyebutkan jika pemerintah sebaiknya melalui kementerian terkait perlu memastikan adanya suatu program pemulihan yang tepat dan memadai untuk para korban aksi terorisme supaya mereka para korban terorisme dan juga keluarganya bisa mendapatkan keadilan serta layanan yang memadai dari negara.

“Cara ini merupakan bagian tanggung jawab negara untuk hadir melindungi para korban kekerasan,” imbuhnya.

Peningkatan intensitas aksi teror di tanah air belakangan ini ditengarai sebagai bagian dari usaha para teroris untuk mengganggu kestabilan keamanan nasional di antara kontestasi elit menjelang tahun politik di 2018 dan 2019.

Karena itulah, Hendardi mengingatkan agar para elit politik di negeri ini untuk tidak main-main dengan masalah intoleransi, terorisme dan radikalisme yang sedang marak di tahun politik ini.

“Dengan menyediakan ruang-ruang inkubasi yang memadai untuk kelompok intoleran-radikal yang melakukan aksi-aksi kekerasan,” jelasnya.

Di waktu yang sama, Hendardi menyebutkan jika elit politik yang saat ini berkuasa untuk secara sungguh-sungguh mengatasi adanya bibit-bibit perpecahan, aksi intoleransi, serta gejala segregasi sosial-keagamaan yang bisa jadi muncul.

“Sekecil apa pun gejala tersebut perlu dianggap sebagai titik permulaan pada aksi yang lebih berbahaya di kemudian hari,” katanya.

Terkait dengan bom tersebut, beberapa politikus ikut berkomentar dengan kejadi tersebut. Salah satu politik yang mengundang perhatian adalah Ruhut Sitompul dalam cuitannya di akun Twitter pribadinya @ruhutsitompul.

Bukannya mendapatkan tanggapan positif dari warganet, cuitan Ruhut tersebut malah mendapat banyak kecaman karena dinilai memanfaatkan aksi bom di Surabaya tersebut untuk kepentingan politiknya sendiri.

Dalam hal ini Ruhut dianggap memprovokasi pihak tertentu dengan cara mengaitkan tragedei terorisme tersebut dengan politik. Apalagi cuitannya tersebut terkesan menyudutkan pihak tertentu dalam Pilpres 2019.

Dalam cuitannya tersebut, Ruhut sependapat jika teror bom tersebut merupakan aksi yang sangat biadab dan telah menyebabkan orang yang tidak bersalah menjadi korbannya. Ia juga menyuarakan jika masyarakat Indonesia tidak akan takut dengan aksi tersebut.

Dan dalam menutup cuitannya tersebut dia menyebutkan bahwa aksi terorisme ini menunjukan ketakukan para pelaku teror jika Presiden Jokowi kembali terpilih menjadi Presiden di Pilpres 2019 mendatang.

Karena cuitannya tersebut, Ruhut malah dianggap tidak memiliki empati terhadap tragedi terorisme di beberapa gereja di Surabaya tersebut.

Warganet banyak yang mengungkapkan ketidaksetujuan mereka mengenai cuitan Ruhut di Twitter tersebut. Mereka menganggap jika sebaiknya Ruhut berempati terlebih dahulu dengan tragedi ini dibanding mencampuradukannya dengan masalah politik.

Terkait dengan hal tersebut, Sekretaris UmumPersekutuan Gereja-Gereja Indonesia atau PGI, Golmar Gultom mengimbau agar seluruh elit politik dan juga masyarakat untuk menghentikan segala bentuk komentar yang justru memperkeruh masalah teror bom di Surabaya tersebut maupun yang beberapa hari lalu terjadi di Mako Brimob.

“Kami mengimbau agar seluruh elit politik serta masyarakat menghentikan komentar yang hanya memperkeruh keadaan,” ungkap Golmar pada Minggu (13/5).

Golmar berharap agar seluruh elit politik tidak memanfaatkan peristiwa terorisme dan peristiwa kekerasan ini untuk kepentingan politik sesaat saja karena baginya hal tersebut mempertaruhkan masa depan bangsa.

Selain itu, Golmar juga mengimbau agar masyarakat berhenti untuk menyebarkan video maupun foto terkait dengan aksi teror yang ada di Surabaya tersebut. Karena menurutnya hanya akan memuluskan tujuan aksi terorisme itu sendiri yaitu untuk menyebarkan rasa takut pada masyarakat.

“Saya justru lebih mengimbau warga untuk menebarkan rasa damai dan kasih melalui beragam media,” ungkap Golmar.

Pada kesempatan ini, Golmar juga menyampaikan imbauan pada masyarakat agar tidak takut dengan ancaman teror baik yang terjadi di Surabaya maupun di Markas Komando Brimob beberapa waktu lalu.

“Kita tidak perlu takut ancaman terorisme in, serahkan sepenuhnya pada penanganan yang dilakukan oleh negara,” ujarnya.

Bukan hanya itu, Golmar juga mengimbau para pemimpin agama untuk lebih serius dalam mewaspadai hal-hal seperti ini. Misalnya para pendukung aksi teror dan kekerasan yang berkedok pendakwah atau penginjil.

Karena akan tidak ada gunanya program deradikalisasi jika ternyata masyarakat menyediakan panggung bagi para pemimpin agama yang mendukung terorisme dan kekerasan menyebarkan paham mereka tersebut melalui dakwah-dakwahnya.

Golmar juga mengungkapkan jika kekerasan bukanlah hal yang dapat menyelesaikan masalah justru hanya akan mengakibatkan lingkaran yang tidak pernah akan berakhir dan bermuara pada kehancuran.

Ia juga yakin jika tidak ada agama satupun yang mengajarkan kekerasan serta pembunuhan karena agama manapun pasti mengajarkan kemanusiaan, cinta kasih dan damai.

Penulis: Sulis Sutrisna/ Berbagai Sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here