Masih Panas: Pro Kontra Aksi Pasangan “Asyik” Bentangkan Kaos #2019GantiPresiden

0
204

Jakarta, namalonews.com- Seperti yang diketahui bahwasannya dalam debat Pilkada Jawa Barat, Pasangan calon Gubernur dan calon Wakil Gubernur Sudrajat- Ahmad Syaikhu memamerkan kaos‘2019 Ganti Presiden’ di panggung debat.

Tindakan aksi berani paslon nomor urut tiga itu sontak saja langsung membuat suasana di dalam gedung menjadi ricuh. Massa pendukung pro dan kontra saling bersahutan hingga ini membuat moderator sangat kesulitan untuk menertibkan massa.

Terkait aksi tersebut, hingga saat ini pro kontra masih menjadi perbincangan panas. Apakah itu pantas dilakukan, atau memang itu sudah menjadi strategi curi start kampanye Pilpres? Banyak tanggapan berdatangan untuk masalah tersebut.

Koordinator dari Tim Pemenangan Pilpres 2019 Gerindra, Sandiaga Uno membantah adanya pernyataan soal aksi pasangan “Asyik” pamer kaos#2019GantiPresiden saat debat Pilkada Jawa Barat kemarin sebagai strategi pesanan Partainya.

Ditemui di Balai Kota Selasa (15/5), Sandiaga merasa kaget melihat kejadian tersebut. Pria yang saat ini menjabat sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta itu membantah aksi Sudrajat-Syaikhu di panggung debat kedua Pilgub Jabar 2018 itu sebagai upaya Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto untuk mencuri start kampanye Pilpres 2019.

Meskipun demikian, memang partainya tak mempermasalahkan aksi yang cukup memicu kericuhan antar pendukung yang turut hadir menonton di Balairung Universitas Indonesia, Depok kemarin.

Sandiaga Uno sebagai Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra menyebut bahwa aksi pernyataan dan pamer kaus #2019GantiPresiden berdasarkan aspirasi masyarakat yang ada di Jawa Barat yang dihimpun oleh pasangan ‘Asyik’ dan partai pengusungnya.

Dari kubu yang kontra akan hal ini Ketua DPP PDI-P Hendrawan Supratikno menilai bahwa aksi membentangkan kaos #2019GantiPresiden yang dilakukan pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat, Sudrajat-Ahmad Syaikhu, ini sebagai sebuah blunder.
Menurutnya aksi tersebut tak pantas untuk dilakukan oleh Pasangan “Asyik” dalam acara debat. Karena hal itu dinilai tidak relevan dengan materi Pilkada.

Melalui pesan singkatnya, Hendrawan mengaku terkejut dengan aksi tersebut. Mengapa pasangan ini bisa blunder sedemikian rupa, atau melakukan rekayasa provokatif dan agitatif yang menyalahi kepatutan dan keadaban publik? Ini forum pilkada, bukan kampanye pilpres.

Atas tindakan tersebut Hendrawan menyayangkan forum debat yang sedianya penting bagi setiap pasangan calon justru malah dirusak oleh hal konyol.

Kata dia,”Di Jatim (Jawa Timur), Gerindra dan PKS mendukung calon kami (PKB-PDI-P). Apakah ini berarti di Jatim nanti kalau paslon kami menang, terus otomatis mengusung tema ganti presiden? Ini absurd, aneh dan ganjil. Tidak logis.”

Di sisi lain Ketua KPU Provinsi Jawa Barat, Yayat Hidayat, telah mengatakan bahwa peserta debat publik calon kepala daerah tidak diperbolehkan untuk membawa atribut kampanye.

Dia mengingatkan, supaya peraturan ini ditaati oleh semua Paslon Pilkada Jabar 2018 ketika debat publik terakhir nanti.

Oleh sebab itu Yayat mengingatkan supaya keempat paslon Pilkada Jabar 2018 ini menataati peraturan yang telah ditetapkan. Dalam pelaksanaan debat publik yang terakhir nanti.

“Kami harap semua bisa disiplin karena setiap akan melakukan debat publik, kami selalu sampaikan dua hal. Pertama terkait teknis pelaksanaan debat dan kedua soal keamanan,” jelas dia.

Selain itu Yayat juga meminta agar semua peserta debat publik tidak mengulangi insiden yang terjadi dalam acara debat publik kedua Pilkada Jabar senin lalu. Dirinya mengaku bahwa KPU ‘kecolongan’ atas insiden ujaran #2019GantiPresiden yang dilakukan paslon Sudrajat-Ahmad Syaikhu atau yang berjargon Asyik itu.

Dirinya menilai bahwa aksi yang dilakukan oleh paslon Asyik melanggar ketentuan debat publik. Oleh sebab itu, KPU akan mengirimkan surat teguran kepada tim Asyik.
Dilayangkannya surat teguran ini adalah sebagai sanksi atas pelanggaran yang telah mereka lakukan. “Pasangan Asyik terbukti melakukan pelanggaran administrasi,” tambah Yayat.

Haru Shuandaru selaku Ketua Tim Pemenangan Paslon Sudrajat-Ahmad Syaikhu (Asyik) angkat bicara terkait kericuhan dalam debat publik Pilkada Jawa Barat di Universitas Indonesia, Depok, pada Senin (14/5) malam. Haru menegaskan, kata-kata 2019 Ganti Presiden yang disampaikan Paslon Asyik di akhir debat merupakan hak berekspresi yang dijamin undang-undang dasar.

Oleh sebab itu, Haru menyatakan bahwa pihaknya menyayangkan terjadinya keributan yang terjadi pasca pasangan Asyik menyampaikan kata- kata tersebut. Menurutnya, bila semua pihak yang hadir itu mengedepankan semangat demokrasi, maka keributan semacam itu tidak akan terjadi.

“Kami menyayangkan tindakan kasar yang dilakukan oleh oknum pendukung pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Jawa Barat lain yang bertindak mengedepankan emosi dan mengabaikan semangat demokrasi,” ujarnya.

Tanggapan juga hadir dari Fadli Zon Wakil Ketua Umum Partai Gerindra. Dirinya menilai pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat Sudrajat-Ahmad Syaikhu yang memberikan aksi membentangkan kaos #2019GantiPresiden telah melakukan hal yang brilian.

Dirinya mengatakan bahwa tak ada yang dilanggar oleh pasangan “Asyik” Sudrajat- Syaikhu ketika membentangkan kaos #2019GantiPresiden saat akhir debat Pilkada Jawa Barat.

Seperti yang diungkapkannya saat ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Selasa kemarin,”Ya enggak ada masalah. Itu kan menurut saya bagus sekali kok apa yang dilakukan Sudrajat-Syaikhu.”

“Kalau mau ganti presiden pada 2019, ya pilihlah Sudrajat-Syaikhu pada 2018. Apa salahnya? Itu sangat demokratis dan sangat etis. Itu menurut saya brilian kok idenya,” kata Fadli.

Dirinya juga menilai bahwa orang yang mempermasalahkan hal itu tidak dapat memahami demokrasi. Lanjutnya, boleh saja bila ada calon Gubernur yang meminta masyarakat untuk memilih mereka jika ingin Presiden Joko Widodo menjabat hingga dua periode.

“Orang yang ricuh saja yang enggak mengerti, ya kan? Kalau misalnya kandidat lain mengatakan, ‘pilih ini, nanti Jokowi jadi Presiden lagi’, memang enggak boleh? Boleh saja.

Apa yang salah dari itu. Ini harus pada belajar lagi demokrasi, lah,” ucap Fadli.
Fadli Zon seketika langsung membantah bila aksi yang telah dilakukan oleh Sudrajat- Syaikhu itu sebagai bentuk kampanye. Ia menyatakan bahwa tindakan yang dilakukan tersebut tak dapat disebut sebagai kampanye karena saat ini memang belum ada calon presiden dan juga wakil presiden.

“Kampanye dini apa? Kan belum ada calon. Belum ada calon. Kampanye itu terjadi kalau sudah ada calon. Baru kita katakan kampanye dini. Wong ini belum ada calon kok,” ujar dia.

Kaos yang dibentang kan paslon Asyik itu “2018 Asyik Menang, 2019 Ganti Presiden” menjadikan suasana saat Debat Pilkada Jabar 2018 yang berlokasi Balairung Universitas Indonesia Depok, Senin (14/5/2018), berakhir panas.

Polemik muncul saat kaos yang dibawa Sudrajat-Syaikhu ke panggung debat. Pakaian itu ditunjukkan saat pasangan yang diusung Gerindra, PAN, dan PKS itu menyampaikan pernyataan penutup.

Penonton langsung gaduh dan ricuh melihat hal itu. Para kader PDIP pendukung pasangan TB Hasanuddin-Anton Charliyan, serta penonton lain yang mendukung Presiden Joko Widodo, tak terima.

Pembawa acara dan Ketua KPU Jawa Barat mencoba menenangkan, namun tak berhasil. Sampai akhirnya TB Hasanuddin-Anton ikut menenangkan para penonton.

Penulis: Sulis Sutrisna/ Berbagai Sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here