Menghadapi Tahun Politik, Jokowi Minta Parpol Tak Bikin Perpecahan

0
282

Jakarta, namalonews.com- Presiden Joko Widodo atau yang akrab disapa Jokowi menyatakan bahwa partai politik memiliki peran penting dalam hal mengedukasi masyarakat terkait dengan etika berpolitik utamanya menjelang pesta demokrasi yang menjelang bapak finalnya ini.

Jokowi juga menekankan agar parpol dapat memberikan pelajaran politik yang positif pada masyarakat khususnya di antara tahun politik ini.

“Ini tugas parpol untuk memberi pembelajaran supaya kedewasaan masyarakat dalam hal etika, sopan santun, kematangan dalam hal berpolitik dimiliki,” papar Jokowi saat ditemui di Sekar Wijayakusuma, Jakarta Timur pada Senin (14/5).

Jokowi menyampaikan hal tersebut dalam kesempatannya menutup Kongres Luar Biasa PKPI atau Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia pada Senin siang. Ia juga menegaskan bahwa peran parpol tersebut sangat diperlukan karena mereka bersentuhan secara langsung dengan masyarakat luas.

Pesan tersebut tentu disampaikan tidak tanpa alasan. Jokowi menyampaikan hal tersebut karena tahun ini Pilihan Kepala Daerah akan diselenggarakan secara serentak di 171 daerah di seluruh Indonesia dan juga untuk menyambut Pilihan Presiden pada 2019 mendatang.

Jokowi menegaskan bahwa pesta demokrasi ini nantinya diselenggarakan bukan untuk menciptakan perpecahan di dalam masyarakat yang akhirnya mengganggu keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sebaliknya, parpol harus dapat mendewasakan dan menciptakan masyarakat yang lebih beradab.

“(Partai politik) Berikan pencerahan pada masyarakat agar beradab. Tak apa jika beda pilihan tetapi setelah mencoblos harus bisa rukun kembali,” kata pria yang sebelumnya pernah menjadi Gubernur DKI Jakarta tersebut.

Menurutnya, hal tersebut perlu ditekankan karena ia masih melihat banyaknya penyebaran berita fitnah, bohong serta ujaran kebencian yang disebarkan di media sosial. Padahal, menurutnya, perbedaan pilihan politik dalam suatu pesta demokrasi adalah suatu hal yang biasa yang tak seharusnya berujung pada perpecahan di masyarakat.

“Parpol memiliki kewajiban menghentikan ini, kemudian memberikan pembelajaran yang baik pada masyarakat, mengingatkan semua (lapisan masyarakat) kita adalah saudara sebangsa dan setanah air,” tambah Presiden RI ini.

Di kesempatan yang berbeda, Presiden Joko Widodo yang turut hadir di Rakornas Program Pembinaan Penyelenggaraan Pemerintahan Desa Pusat dan Daerah yang terselenggara di Jakarta Internasional Expo tersebut juga mengingatkan hal yang sama.

Presiden Jokowi mengingatkan para kepala desa agar terus menjaga ketentraman dan persatuan warga di desanya. Ia juga mengingatkan agar tidak sampai ada perpecahan di tengah masyarakat hanya karena adanya beda pilihan dalam Pilkada maupun Pilpres.

Pada kesempatan di Senin (14/5) tersebut, Jokowi juga mengingatkan jika semuanya adalah saudara sebangsa dan setanah air. Meskipun berbeda pilihan preseiden, tidak apa-apa. Mendengar pernyataan tersebut, ada kepala desa yang hadir kemudian berteriak “Lanjutkan,” tetapi Jokowi tak menghiraukan hal tersebut.

Jokowi melanjutkan jika ia berharap bangsa ini tidak terpecah hanya karena beda pilihan politik saja.

“Harus diingatkan terus ke masyarakat. Jangan sampai (karena perbedaan pilihan politik) tidak saling sapa. Beda pilihan itu biasa,” jelas Jokowi.

Jokowi juga tak lupa mengingatkan bahwa Indonesia ini merupakan negara yang amat sangat beragam dengan lebi dari 700 suku berbeda ada di dalamnya.

Presiden Jokowi mengaku telah melihat sendiri secara langsung berbagai keragaman yang ada di Indonesia tersebut karena ia telah mengunjungi 80 persen kabupaten dan kota yang ada di tanah air ini. Ia mengatakan bahwa perbedaan itulah yang harus dijaga sebagai suatu kekayaan yang bangsa ini miliki.

“Jangan dipasasin, dikomporin, tidak saling sapa. Bangsa ini rugi besar kalau hal seperti itu diteruskan. Ajarkan kedewasaan serta kematangan etika dalam berpolitik,” lanjut Jokowi.

Ia kemudian melanjutkan jika hal tersebut merupakan tugas para kepala desa dan semua yang hadir karena menurutnya mereka ada di ujung terdepan untuk melaksanakan tugas tersebut.

Ditemui setelah acara tersebut, Presiden Joko Widodo turut memberikan pernyataan terkait dengan adanya serangan bom bunuh diri yang terjadi di Surabaya sejak Minggu (13/5) hingga Senin (14/5).

Seusai meresmikan rakornas bersama semua kepala desa tersebut, Presiden Jokowi sempat masuk terlebih dahulu ke ruang tunggu untuk menyiapkan pernyataan resmi terkait dengan hal tersebut. Setelahnya, ia baru terlihat keluar ruangan dengan didampingi Tjahjo Kumolo, Menteri Dalam Negeri RI, Pramono Anung, Sekretaris Kabinet dan Eko Putro Sandjojo selaku Menteri Desa.

Dalam kesempatan tersebut, Jokowi yang memegang secarik kertas diam sekitar kurang lebih satu menit meskipun belasan pengeras suara yang disodorkan awak media berada di depannya. Di tengah keheningan tersebut, dapat dilihat jika kerutan terlihat di kening Kepala Negara tersebut. Ekspresinya pun keras layaknya sedang menahan emosi.

“Ini adalah suatu tindakan pengecut, tindakan yang tidak bermartabat, biadab. Perlu saya tegaskan lagi jika kita akan melawan terorisme serta membasmi terorisme hingga ke akar-akarnya,” jelas Jokowi.

Jokowi kemudian kembali menginstruksikan Jenderal Tito Karnavian selaku Kapolri untuk menindak secara tegas tanpa ada kompromi segala bentuk terorisme yang ada di Indonesia.

Untuk mengecek langsung keadaan Surabaya setelah adanya tiga serangan bom bunuh diri tersebut, pada Minggu (13/5), Jokowi sempat membatalkan seluruh agendanya terkait ihwal tersebut.

Pada kesempatan tersebut, Jokowi tidak datang sendiri, ia membawa segenap kepala pasukan pengamanan meliputi Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, Kepala Badan Intelejen Negara Budi Gunawan, Kapolri Jenderal Tito Karnavian serta Menko Polhukam Wiranto.

Beberapa jam setelah rombongan Presiden Jokowi ini kembali ke Jakarta, terjadi kembali serangan di perbatasan Sidoarjo dan Surabaya. Kemudian, rentetan bom juga kembali terjadi di Mapolresta Surabaya pada Senin (14/5).

Sebelumnya telah terjadi serangan bom di tiga gereja di Surabaya. Presiden Jokowi sendiri sempat memberikan keterangan pada konferensi pers yang diselenggarakan di Rumah Sakit Bhayangkara Surabaya pada Minggu (13/5).

Dalam keterangan resminya, Jokowi menegaskan jika tindakan tersebut merupakan tindakan keji karena tidak seharusnya melibatkan anak-anak yang tidak berdosa. Termasuk juga pelaku yang memanfaatkan dua anak untuk melancarkan bom bunuh diri tersebut.

“Tindakan kali ini sungguh biadab dan juga di luar batas kemanusiaan,” terang Presiden Jokowi.

Ia juga menambahkan jika terorisme ini merupakan kejahatan kemanusiaan yang tidak terkait dengan agama manapun. Pasalnya, semua agama mengajarkan umatnya untuk tidak melakukan aksi seperti terorisme ini karena merugikan masyarakat luas.

“Tak ada kata yang bisa menggambarkan seberapa dalam duka cita para korban yang jatuh di Surabaya,” ungkap Jokowi.

Dalam perkembangan terbaru, saat ini sudah ada lebih dari 10 orang yang diidentifikasi sebagai korban dalam serangan terorisme di Surabaya terebut. Belum lagi, adanya serangan teror lanjutan yang terjadi kembali di Surabaya.

“Perkembangan terbaru ada satu orang meninggal di Ngagel dan ada 41 orang korban luka dirawat di rumah sakit,” kata Frans Barung Mangera selaku Kabid Humas Polda Jatim.

Peristiwa ini tentu menjadi bumbu lain di tengah sengitnya suhu politik menjelang periode politik baik I 2018 dan 2019 mendatang.

Penulis: Sulis Sutrisna/ Berbagai Sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here