Viral Ustadz Somad, Kontestasi Politik Sampai Bom Bunuh Diri

0
498

Jakarta, namalonews.com – Umat Islam dihimbau untuk tidak cuek dengan urusan politik. Hal inilah yang diungkapkan oleh Ustadz Abdul Somad. Khususnya pada tahun 2018 ini sampai dengan 2019 mendatang. Seperti yang diketahui, pada waktu tersebut akan ada banyak kontestasi politik, mulai dari pemilu legislatif, pilpres 2019, hingga pilkada serentak 2018.

Himbauan tersebut disampaikan oleh Ustadz Somad dalam tausiyahnya yang diadakan di forum Lembaga Adat Melayu, Pekanbaru, Selasa (15/5). Dalam tausiyah yang disiarkan langsung melalui akun Instagram resminya, Ustadz Somad menyebut bahwa belumlah sempurna keislaman seseorang jika belum paham serta memberikan kontribusi untuk urusan politik. “Seorang muslim tak sempurna agamanya kalau tak paham politik.”

Dalam tausiyah tersebut, Ustadz Somad juga menjelaskan bahwa memahami urusan politik untuk memperjuangkan kepentingan Islam sesuai anjuran Nabi Muhammad SAW. Alumni kampus al-Azhar, Kairo, Mesir, itu menyebutkan, usia Nabi 63 tahun terbagi ke dalam tiga masa. Sejak Nabi kecil sampai berusia 40 tahun, Nabi fokus memperbaiki diri, yaitu memperbaiki akhlak, tidak meminum khamar, tidak berzina, serta tidak melakukan perbuatan dosa lainnya.

Ketika Nabi sudah memasuki usia 40 tahun, Nabi mulai berdakwah. Dalam dakwahnya, Nabi mulai mengajak umat manusia supaya menyembah Allah SWT serta menjalankan syariat sesuai dengan perintah Allah SWT. Pada masa inilah, Nabi mulai dimusuhi oleh kaum kafir Quraish, seperti halnya Abu Lahab, Abu Sofyan, dan Jahal. Dakwah Nabi mengganggu kepentingan kafir Quraish yang kala itu mengambil keuntungan dengan cara menyembah berhala.

Ustadz Somad melanjutkan, barulah sejak Nabi berusia 53 tahun atau 10 tahun dalam masa akhir Nabi hidup, Nabi mempunyai kekuasaan memerintah. Nabi semakin mudah berdakwah serta memperluas pengaruh Islam sebab kekuasaan sudah di tangan.

Maka dari itu, menurut Ustadz Somad, umat Islam harus mencontoh Nabi. Orang-orang yang memiliki bakat politik serta manajemen harus ikut maju dalam kontestasi politik. Hal ini untuk merebut kekuasaan demi menolong agama Allah serta menyalurkan aspirasi umat Islam.

Dosen Ilmu Hadis di Universitas Islam Syarif Kasim, Pekanbaru, tersebut pun mengungkapkan jika memiliki bakat politik, majulah untuk mencalonkan diri. Namun apabila tak bisa politik, sebaiknya jadi pengusaha. Jika memiliki kecerdasan, cerdaskan umat Islam. Jika tak memiliki itu semua, maka menolonglah dengan suaramu.

“Kalau punya bakat politik, maju mencalonkan diri. Kalau tak bisa politik, engkau pengusaha, tolong agama Allah dengan sedekahmu. Kalau engkau cerdas, cerdaskan umat Islam dengan kepintaranmu. Kalau tak punya itu semua, tolonglah dengan suaramu,” kata Ustadz Somad.

Penjelasan Ustadz Somad Soal Bom Bunuh Diri

Selain urusan politik, Ustadz Somad juga menyinggung soal bom bunuh diri yang akhir-akhir ini ramai diperbincangkan. Ustadz Somad menegaskan bahwa pelaku teror bom bunuh diri di Surabaya bukan termasuk orang-orang yang mati syahid. Menurut ulama terkenal asal Riau itu, sudah terjadi pemahaman yang salah sebab menganggap bunuh diri yang mengorbankan pemeluk agama lain ialah mati syahid.

Orang yang mati syahid merupakan orang yang meninggal di medan perang karena melawan kaum kafir yang mempunyai niat untuk membinasakan Islam. Bukan di negara yang damai seperti di Indonesia. Ustadz Somad pun mencontohkan di Palestina yang melawan tentara zionis Israel.

“Kalau di Palestina, di wilayah perang, mereka bunuh diri untuk menyerang Israel, itu baru mati syahid. Kalau yang dilakukan di Surabaya itu bukanlah mati syahid. Karena negeri kita ini negeri yang damai dan rukun antarumat beragama,” kata Ustadz Somad ketika memberikan ceramah di Riau, Selasa (15/5) pagi, yang disiarkan langsung melalui Instagram resmi Ustadz Somad.

Ustadz Somad pun menyebutkan, syahid di zaman Nabi saat tentara Islam kalah dalam Perang Uhud. Kala itu Nabi mengatakan, tentara Islam yang meninggal dunia di tangan tentara kafir Quraish akan bertemu Nabi di surga sebab mati syahid. Mendengar perkataan Nabi tersebut, semakin ramai tentara Islam yang berani untuk menyongsong tentara kafir dan mati syahid.

Ustadz Somad memberikan mengklarifikasi mengenai video ceramahnya yang dipotong oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Ustadz Somad disebut sudah memotivasi orang untuk melakukan bunuh diri.

“Video ceramah saya itu dipotong dan mengatakan Ustadz Abdul Somad telah memotivasi orang bunuh diri. Itu dalam konteks apa? Syahid kalau mati di medan perang melawan orang kafir yang hendak membinasakan Islam. Tapi tidak apa-apa. Saya anggap saja iklan gratis. Karena orang akan mencari video lengkap saya dan paham kalau saya bukanlah ustaz yang radikal,” kata Ustadz Somad.

“Dua hari ini video saya menjawab pertanyaan di (Masjid) An-nur lebih kurang 2-3 tahun yang lalu diviralkan lagi tapi video itu di-cut, dipotong,” kata Ustadz Somad dalam perbincangan pada salah satu stasiun televisi, Selasa (15/5/2018).

Ustadz Somad menceritakan, saat itu dirinya tengah mengisi ceramah di masjid An-Nur dalam kajian subuh. Awalnya, ada salah satu jemaah yang bertanya mengenai bom bunuh diri yang dilakukan oleh masyarakat Palestina. Dalam menjelaskan jawabannya tersebut, Ustadz Somad juga sempat mengutip Kitab Shahih Muslim serta pandangan dari para ulama besar Islam, mulai dari Syekh Yusuf, Al-Ghazali, hingga Syekh Al-Bani.

Ustadz Somad menjelaskan, di zaman nabi dan para sahabatnya, saat peperangan terjadi, para pejuang Islam melakukan aksi bom bunuh diri juga. Akan tetapi, aksi ini dilakukan saat dikepung musuh. Dengan begitu, para syuhada ini rela mengorbankan nyawanya.

“Aksi para syuhada ini bukan bom bunuh diri tapi bom mati syahid. Jadi ceramah saya bukan untuk kasus sekarang. Islam itu rahmatan lil alamin jadi melarang membunuh orang yang tidak berdosa,” tegas Ustadz Somad.

Untuk diketahui, Kepolisian Daerah Jawa Timur menyebutkan aksi teror bom di Surabaya dan Sidoarjo pada Ahad (13/5) serta Senin (14/5) menewaskan sebanyak 28 korban jiwa, baik itu pelaku, petugas kepolisian, maupun masyarakat. Adapun untuk jumlah korban luka-luka sebanyak 57 orang, tak terkecuali anggota keluarga yang diduga menjadi pelaku pengeboman.

Serangan bom terjadi di tiga gereja Surabaya, yaitu Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, Gereja Pante Kosta, dan GKI Jalan Diponegoro, serta di rumah susun sewa Sidoarjo.

Disamping itu, Kapolri Jenderal Tito Karnavian menyebutkan bahwa jenis bom yang digunakan oleh para pelaku teror dalam serangkaian aksi teror bom di Surabaya dan Sidoarjo bermacam-macam. Walau demikian, kata Tito, bom yang dipakai di semua titik kejadian bentuknya hampir sama, yakni menggunakan bom pipa.

Dalam kesempatan tersebut, Tito juga mengungkapkan bahwa berdasarkan penemuan sementara dari Puslabfor, material bahan peledaknya ialah TATP (triacetone triperoxide). Bahan peledak tersebut sangat dikenal di kelompok ISIS, khususnya di Irak dan Suriah. Material bahan peledak tersebut dibuat dari bahan-bahan yang mudah untuk diperoleh.

Penulis: Sulis Sutrisna/ Berbagai Sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here