Menguak Jaringan Terorisme Surabaya

0
215

Jakarta, namalonews.com- Densus 88 Anti-Teror Polri menangkap tiga terduga teroris saat penggerebekan di Kawasan Tangerang Kota pada Rabu (16/5/2018). Ketiga terduga teroris yang berinisial A, MC, dan G diamankan di 3 tempat berbeda.

Petugas mengamankan terduga teroris A di Kunciran- Tangerang. A adalah pegawai kebab milik seorang warga yang bernama Bambang.

Dari penuturan Bambang, keduanya ditangkap dan diamankan saat sedang berjalan menuju salah satu tempat perbaikan kompor.

Keduanya dibawa ke mes A yang terletak di perumahan Kunciran Jalan Permai. Dari kamar A, petugas mendapatkan bendera ISIS dan buku pedoman terorisme serta panah.

A disebutkan Bambang sebagai sosok pendiam. Selain itu, Bambang menyebut tidak pernah melihat gelagat yang mencurigakan dari A.

Selain A, dua terduga teroris lainnya yang berinisial MC dan G ditangkap di toko konfeksi milik MC yang terletak di Jalan Gompol Raya-Kelurahan Kunciran Induk-Pinang, Kota Tangerang. Keduanya ditangkap saat membuang sampah di halaman tokoh konfeksi tersebut.

Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Setyo Wasisto menyebut ketiga terduga teroris ini merupakan jaringan atau kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD).

Kelompok yang terafiliasi dengan ISIS ini dipimpin oleh Aman Abdurrahman yang sudah ditangkap polisi. Polisi belum menjelaskan dengan rinci peran masing-masing dari ketiga terduga teroris tersebut dalam kelompok JAD. Sebelumnya, aksi brutal teroris terjadi di Surabaya dan Sidoarjo Jawa Timur. Pada Minggu dan Senin (13-14/5/2918), ledakan bom teroris terjadi di 5 tempat di Jawa Timur.

Pada Minggu (13/5/2018), 3 ledakan bom terjadi di 3 gereja di Surabaya. Ketiganya adalah bom bunuh diri di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela Jalan Ngagel, Gereja Kristen Indonesia Jalan Diponegoro, dan Gereja Panatekosta di Jalan Arjuna. Ketiganya dilakukan oleh Dita Oepriarto dan istrinya Puji Kuswati bersama ke empat anak mereka.

Dita Oepriarto diketahui merupakan pimpinan Jamaah Ansarut Daulah di Surabaya. JAD berafiliasi dengan organisasi teroris global Islamic State (IS).

Ledakan ke-4 terjadi pada Minggu malam (13/5/2018) di Rusunawa Wonocolo Blok B lantai 5 yang mengakibatkan 3 orang tewas termasuk pemilik bom yang berinisial AF, istri, dan anaknya.

Ledakan terakhir terjadi pada Senin (14/5/2018) pagi di Mapolrestabes Surabaya. 4 pelaku tewas dalam ledakan tersebut.

Kepolisian Republik Indonesia menyebut bahwa pelaku teror bom Jawa Timur dan 3 terduga teroris Tangerang berasal dari satu jaringan yaitu kelompok sel Jamaah Ansharud Daulah (JAD). Bersama Jamaah Ansharut Tauhid, JAD adalah pendukung ISIS.

Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian menyebut kelompok JAD dan JAT adalah pendukung utama gerakan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), yang dipimpin oleh Aman Abdurrahman.

Meski Aman sudah ditangkap dan ditahan di Mako Brimob Kelapa Dua Depok-Jawa Barat, ia masih aktif menjaring anggota dan menanamkan pengaruhnya secara online, khususnya media sosial.

Apa Itu JAD?

JAD dibentuk oleh 24 milisi asal Indonesia yang bersumpah setia kepada pemimpin IS Abu Bakr al-Baghdadi. Aman Abdurrahman yang sedang ditahan di Mako Brimob merupakan pemimpin spiritual JAD dan disebut sebagai pemimpin de facto semua simpatisan IS di Indonesia. Departemen Pertahanan Amerika Serikat mengkelompokkan JAD sebagai organisasi teroris.

Selain aksi teror Jawa Timur, JAD juga tercatat menjadi dalang sejumlah aksi terorisme lainnya termasuk teror bom Thamrin. Akhir 2016, JAD diduga mengarsiteki serangan bom molotov di Gereja Oikumene, Samarinda-Kalimantan Timur. Seorang balita tewas akibat ledakan tersebut.

Pada Mei 2017, JAD juga diduga menjadi aktor utama dalam aksi bom bunuh diri di Kampung Melayu-Jakarta Timur. Dalam insiden tersebut, 3 polisi tewas dan belasan lainnya terluka. Aman Abdurrahman ditetapkan menjadi salah satu tersangka dalam kasus tersebut.

Selain itu, Aman Abdurrahman juga diduga menjadi otak serangan teroris di Thamrin, Samarinda, dan Medan, serta 5 ledakan bom di Jawa Timur.

ISIS mengklaim bertanggung jawab terhadap berbagai serangan atau aksi teror di Indonesia. Sebagian besar aksi tersebut dilakukan oleh kader-kader JAD. Meskipun dinilai sebagai organisasi teroris pro-ISIS terbesar di Indonesia, struktur keanggotaan JAD dan keterkaitan antara JAD dengan ISIS tidak begitu jelas.

Menurut Institute fo Policy Analysis of Conflict (IPAC), ISIS berfungsi sebagai organisasi payung yang mewadahi kelompok teroris lainnya di seluruh dunia tanpa jejak logistik yang jelas termasuk di antaranya dengan JAD.

Namun demikian, Aman Abdurrahman diduga berada di susunan keanggotaan ISIS dan ditugasi sebagai penerjemah propaganda ISIS di Indonesia.

Inilah ciri khas aksi teror JAD

Dari sejumlah aksi teror yang dilancarkan oleh kelompok JAD setidaknya terlihat sejumlah ciri khas serangan. 2 yang paling mengemuka ialah serangan atau aksinya terkoordinasi dan keterlibatan perempuan.

Dalam kasus bom Thamrin misalnya, JAD mengkombinasikan bom bunuh diri dan serangan bersenjata. Serangan terkoordinasi juga terjadi saat pengeboman 3 gereja pada Minggu (13/5/2018) di Surabaya-Jawa Timur. Ketiga bomnya meledak hanya terpaut dalam hitungan menit.

Selain tiu, JAD juga melibatkan perempuan dalam melancarkan aksi. Baik dalam aksi bom bunuh diri di 3 gereja di Surabaya pada Minggu (13/5/2018) maupun aksi bom bunuh diri di Mapolrestabes Surabaya pada Senin (14/5/2018), terungkap sejumlah pelaku merupakan perempuan.

Penulis: Boni Ogur

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here