Presiden Harus Pandai Atur Pembicaraan, Jangan Serang Pendahulunya

0
2834

Jakarta, namalonews.com- Pelemahan rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) hingga kemarin masih terus berlangsung. Didapati kemarin, Kamis, (16/5/2018) nilai tukar rupiah terhadap dollar sempat menembus Rp 14.100. Posisi  tersebut merupakan yang terlemah sejak September 2015. Kondisi itu menyebabkan rupiah menjadi mata uang dengan depresiasi terdalam di kawasan Asia.

Ironis memang. Posisi melemahnya rupiah tersebut justru terjadi setelah sebelumnya  Presiden Jokowi membuat pernyataan yang bernada kritikan. Sebelumnya, Jokowi mengkritik kebijakan BBM di era Presiden SBY.

“Dulu subsidi Rp 340 triliun kenapa harga nggak bisa sama. Ada apa? Kenapa nggak ditanyakan? Sekarang subsidi sudah nggak ada untuk di BBM, tapi harga bisa disamakan dengan di sini. Ini yang harus ditanyakan. Tanyanya ke saya, saya jawab nanti. Ini yang harus juga disampaikan ke masyarakat,” ujar Jokowi saat menghadiri penutupan Workshop Nasional Anggota DPRD PPP se-Indonesia 2018 di Hotel Mercure Ancol, Jakarta Utara,  belum lama ini.

Ia menceritakan kebijakan BBM satu harga perlu diterapkan untuk menciptakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Sebab, harga BBM terutama di Indonesia bagian Timur sangat mahal dibandingkan dengan harga BBM di Jawa.

“Kita sering di Jawa, bensin naik Rp 500 perak saja demo tiga bulan. Bensin naik Rp 1.000 demonya enam bulan, tujuh bulan. Coba saudara kita di Papua, bensin Rp 60 ribu. Rp 60 ribu sudah berpuluh-puluh tahun nggak pernah demo.”

Atas kritikan tersebut, kemudian politisi Partai Demokrat pun ramai-ramai mengomentari kondisi rupiah hari itu dan kritikan Jokowi terhadap SBY sebelumnya. Bahkan, hastag atau tanda pagar #ShameOnYouJKW yang digalang bertenggar di posisi atas trending topik media sosial Twitter hari itu.

“Terburuk di Asia. Dollar tembus Rp.14.100 dan IHSG anjlok 1,34%. Dia sibuk muji diri. #ShameOnYouJKW,” tulis komunikator Demokrat, Ferdinand Hutahaean, di akun Twitter @LawanPoLitikJKW.

Mantan relawan Jokowi di Pilpres 2014 itu mengingatkan kondisi ekonomi Indonesia jika harga minyak mentah dunia naik ke USD 100 per barel.

“Saya sungguh pingin melihat nanti situasinya ketika Crude naik ke USD 100/ barel.  Atau,  bahkan apabila sama dengan era SBY hingga USD 120/barel. Ada yang menjerit ngga nanti,” tulis @LawanPoLitikJKW.

Mantan staf khusus Presiden SBY, Andi Arief, turut mengingatkan Jokowi.

“Presiden itu harus pandai mengatur pembicaraan. Jangan selalu menyerang pendahulunya yang serangannya pun ngawur l#ShameOnYouJkw,” tegas Andi di akun @andiarief.

Secara khusus, SBY di akun Twitter pribadi menegaskan, sekarang Jokowi tidak tepat menyalahkan pemerintahan yang sudah berlalu. Apalagi, kata SBY, saat ini negara sedang dalam ancaman keamanan dari pelaku teror dan juga ancaman di bidang ekonomi akibat melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS.

Penulis: Sulis Sutrisna

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here