Koruptor Samadikun Hartono Kembalikan Uang Senilai Rp 87 Miliar Tunai

0
478

Jakarta, namalonewa.com- Terpidana kasus korupsi Bantuan Likuditas Bank Indonesia (BLBI) yang bernama Samadikun Hartono pada akhirnya memutuskan mengembalikan uang tunai sebesar Rp 87 miliar, pada hari Kamis 17 Mei 2018 kemarin. Total yang telah dikembalikan oleh Samadikun Hartono yaitu sebesar Rp 169 miliar, sesuai dengan perintah Mahkamah Agung (MA). Uang yang telah dikembalikan oleh Sadikun tersebut merupakan uang yang telah dikorupsi oleh samadikun hartono pada saat tahun 1998.

Saat itu para pegawai pun terlihat menata uang ganti rugi korupsi Bantuan Likuditas Bank Indonesia BLBI dengan terpidana Samadikun Hartono di Gedung Bank Mandiri, Jakarta, Kamis 17 Mei 2018 kemarin.

Tumpukan uang tunai dengan pecahan 100 ribu tersebut sampai dibawa dengan menggunakan troli. Kemudian sejumlah uang tersebut selanjutnya diserahkan secara resmi dari Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta kepada Bank Mandiri. Totalnya ada Rp 87 miliar uang yang diserahkan ke bank pelat merah tersebut. Uang tersebut adalah milik terpidana kasus korupsi Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) yaitu Samadikun Hartono yang pada akhirnya berhasil ditangkap dan dipulangkan ke Indonesia pada tahun 2016 yang lalu.

Komisaris Utama Bank Modern itu dulunya sempat membawa kabur uang negara sebesar Rp 169,4 miliar. Dan ketika akan ditahan pada tahun 2003, SamadikunHartono justru kabur ke luar negeri dengan alasan sedang sakit. Dan pada akhirnya Samadikun Hartono ditemukan bersembunyi di Shanghai, Tiongkok.

Samadikun Hartono selanjutnya ditangkap oleh otoritas Tiongkok pada waktu akan menonton balapan F1 dan dirinya langsung dijebloskan ke dalam penjara. Samadikun Hartono pada akhirnya divonis selama empat tahun penjara, dengan denda sebesar Rp 20 juta dan diminta untuk membayar uang sebagai pengganti yang sudah dikorupnya.

Uang dengan pecahan 100 ribu yang senilai Rp 87 miliar tersebut diserahkan secara simbolis oleh Kepala Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta, yang bernama Tonny Tubagus Spontana. Tonny Tubagus Spontana menjelaskan bahwa Samadikun mengembalikan uang yang sudah dikorupnya dengan cara mencicil sebanyak empat kali.

Tonny Tubagus Spontana mengungkapkan jika cicilan yang pertama dibayar Rp 40 miliar, kedua Rp 41 miliar, cicilan yang ketiga Rp 1 miliar dan yang keempat ini adalah sebesar Rp 87 miliar.

Akhirnya, dengan diserahkan cicilan ke 4 dengan uang sebesar Rp 87 miliar tersebut, maka Samadikun Hartono sudah melunasi uang pengganti yang telah dikorupnya tersebut. Sebelumnya, uang tersebut telah ditransfer oleh pihak Samadikun ke Kejati kemudian langsung diserahkan ke Bank Mandiri.

Semua jumlah uang tersebut dibayarkan demgan cara tunai tanpa adanya penjualan aset secara lelang dari Kejaksaan Agung. Dengan pelunasan ini berartisudah tidak ada sangkut paut lagi dengan aset yang bersangkutan. Terpidana kasus korupsi Bantuan Likuditas Bank Indonesia (BLBI) Samadikun Hartono pun saat ini masih berada di Lembaga Permasyarakatan menjalani sisa hukuman dari apa yang telah dilakukannya.

Sesudah Samadikun melunasi pembayaran uang pengganti, Kejaksaan Tinggi sefera mengembalikan barang-barang Samadikun yang sebelumnya telah disita. Namun, tidak dijelaskan dengan terperinci apa saja benda-benda pribadi milik Samadikun Hartono yang sempat disita oleh pihak Kejati.

Menurut Tonny Tubagus Spontana apa yang telah dilakukan oleh Samadikun Hartono dengan membayar uang pengganti tersebut patut dicontoh oleh para napi kasus korupsi yang lainnya. Karena, apabila tidak, maka Kejati tersebut akan bertindak tegas. Dia pun juga menuturkan bahwa “momen ini juga ditujukan bagi terpidana lainnya. Hendaknya melaksanakan pembayaran kepada negara.

Samadikun telah divonis bersalah pada kasus penyalahgunaan dan talangan dari Bank Indonesia atau BLBI sebesar Rp 2,5 triliun yang dikucurkan pada Bank Modern menyusul krisis finansial pada 1998. Mantan Presiden Komisaris Bank Modern itu bahkan dihukum penjara selama waktu empat tahun.

Dengan demikian, uang yang diganti itu nantinya akan dimasukkan ke rekening negara, sebagai pengembalian uang negara yang sudah dikorupsi oleh Samadikun Hartono.

Samadikun hartono ternyata merupakan pemilik dari Bank Modern yang posisinya sebagai Presiden Komisaris. Rumahnya berada di kawasan elite Menteng, Jakarta Pusat, tepatnya berada di Jalan Jambu. Sepelemparan batu dari Jalan Cendana, rumah Presiden Soeharto berada.

Ayah Samadikun Hartono, yang bernama Otje Honoris juga termasuk distributor tunggal dari Fujifilm untuk Indonesia. Semenjak ayahnya meninggal dunia pada tahun 80-an, maka kerajaan bisnisnya tersebut dilanjutkan oleh Samadikun hartono.

Seiring dengan berjalannya waktu, Samadikun dan saudranya mengembangkan bisnisnya. Tak hanya menjadi Preskom Bank Modern saja, pria yang lahir di Bone, 4 Februari 1948 itu juga melebarkan pada bidang industri. Diantaranya seperti properti, perdagangan, keuangan sampai bidang pariwisata. Pada tahun 1997, Indonesia mengalami krisis. Bank Modern runtuh.

Pemerintah memberikan suntikan lewat dana talangan BLBI ke Bank Modern senilai puluhan miliar. Dengann alasuntuk merestrukturisasi bank, ternyata uang tersebut justru dipakai Samadikun untuk memberesi kepentingan pribadinya. Dtengan otal hingga mencapai Rp 169 miliar.

Pada saat tanggal 28 Mei 2003, MA menghukum Samadikun selama 4 tahun penjara dan harus mengembalikan uang yang telah dikorupsinya. Duduk menjadi ketua majelis Toton Suprapto dengan anggota Parman Soeparman, Sunardi Padang, Muchsin dan Vallerina JL Kriekhoff. Majelis Kasasi menuturkan bahwa “Perbuatan terdakwa dilakukan pada saat negara mengalami krisis perekonomian dan moneter. Terdaka talah mengabaikan kepercayaan pemerintah dalam usaha untuk mengatasi krisis perbankan nasional.
Mendapatkan kabar bahwa dirinya divonis bersalah, Samadikun yang tak ditahan kemudian langsung berkemas dan angkat koper. Smadikun melarikan diri dan akhirnya kejaksaan menetapkannya dirinya sebagai buron.

Penangkapan Samadikun dinilai penuh drama serta membutuhkan koordinasi G to G sesudah kabur 13 tahun. Ia ditangkap setelah menyaksikan F1 di China. Ia ditangkap otoritas China berdasarkan koordinasi dengan pemerintah Indonesia. Samadikun Hartono selanjutnya dideportasi ke Indonesia pada 21 April 2016. Pada akhirnya Samdikun mencicil pengembalian uang yang telah dikorupsinya itu. Dan untuk sisanya, ia akan bayar cash siang langsung ke bank.

Negara Rugi Rp 169 Miliar

Pada tanggal 28 Mei 2003, berdasarkan putusan dari Mahkamah Agung, Samadikun divonis bersalah sudah menyelewengkan dana BLBI untuk penyehatan PT Bank Modern Tbk. Dan ketika itu Samadikun tlah emenjadi komisaris utama bank tersebut.

PT Bank Modern Tbk telah menerima BLBI pada bentuk Surat Berharga Pasar Uang Khusus (SBPUK), fasilitas diskonto, serta dana talangan valas sebesar Rp 2,5 triliun. Dana itu sebenarnya dipakai untuk menyelamatkan Bank Modern yang terkena krisis moneter pada akhir era pemerintahan Presiden Soeharto.

Akan tetapi , oleh Samadikun uang yang jumlahnya sebesar Rp 2,5 triliun itu digunakan untuk tujuan yang menyimpang. Yaitu digunakan untuk kepentingan pribadinya. Dana yang dia gunakan itu secara keseluruhan yaitu hingga mencapai Rp 80.742.270.528,81. Pada akhirnya negara pun mmengalami kerugian hingga mencapai Rp 169.472.986.461,52 atau sebesar Rp 169 miliar.

Penulis: Sulis Sutrisna/ Berbagai sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here