Penilaian Pengamat: Cak Imin Lebih Cocok Gabung Dengan Prabowo

0
580

Jakarta, namalonews.com- Muslimin, Pengamat politik dari Charta Politica menilai bahwa Ketua Umum DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar atau Cak Imin itu akan lebih tepat bila dirinya bergabung dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dalam Pemilihan Presiden 2019 mendatang.

Penialaian ini diambil dengan alasan bahwa peluang untuk digandeng Prabowo akan lebih besar sebab sampai kini Gerindra belum memutuskan cawapres untuk Prabowo. Sementara di sisi lain partai tersebut sangat membutuhkan rekan koalisi untuk bisa bertarung di Pilpres 2019.

Muslimin mengatakan pada Kamis lalu di Jakarta bahwa “Karena secara kursi Gerindra tidak cukup untuk mengusung Prabowo tanpa berkoalisi dengan partai lain. Memang ada PKS, tetapi Gerindra dan PKS secara resmi belum mendeklarasikan diri untuk mengusung Prabowo.”

Dia juga berpendapat bahwa agar berat bagi Cak Imin untuk digandeng sebagai calon wakil presiden oleh Joko Widodo atau Jokowi. Sebab dari sisi jumlah kursi untuk pencalonan, Jokowi sudah bisa maju tanpa ada dukungan PKB.

“Apalagi, masih banyak lagi ketua umum partai lain yang bisa bersaing dengan Cak Imin,” kata Muslimin. Ia menyebut Romahurmuziy dari PPP yang terlebih dahulu mengarahkan dukungan partainya kepada Jokowi dan Airlangga Hartanto dari Golkar yang memiliki kursi DPR jauh lebih besar daripada PKB.
Muslimin juga berpendapat bahwa upaya yang dilakukan Muhaimin untuk menawarkan diri pada beberapa bakal calon presiden menunjukkan belum adanya sinyal yang diberikan Jokowi untuk menggandengnya.

“Ia mencoba untuk menyebut bisa berpaling ke calon lain dan berupaya untuk memberikan bargaining kepada Jokowi agar segera untuk ‘melamarnya’,” ujar Muslimin.

Sebagai pengamat politik, Muslimin juga telah menyebut bahwa saat ini Cak Imin tawarkan diri kemana- mana. Tentu saja ini menjadi sebuah bukti bahwa dirinya tak menerima sinyal dari Jokowi.
Sudah sejak lama Muhaimain Iskandar alias Cak Imin ini telah menyatakan dirinya sebagai Calon Wakil Presiden Atau Cawapres. Meskipun memang nyatanya belum ada Bakal Capres yang akan menggandeng dirinya.

Lelaki yang akrab disapa Cak Imin tersebut mengaku memiliki tiga motivasi yang menjadi pelecut untuk maju dalam bursa Pilpres 2019 nanti.

Pertama, Cak Imin berniat meneruskan cita-cita Bung Hatta untuk mendorong ekonomi kerakyatan dan koperasi.

“Beliau (Bung Hatta) sebagai wakil presiden yang monumental harus ada yang meneruskan itu. Dan saya sanggup meneruskan karena saya tumbuh dari masyarakat kecil.”

Pelecut berikutnya, lanjut Cak Imin, adalah perintah dari para ulama dan kiai.

“Pesantren-pesantren itu keluarga saya semua yang memerintahkan saya. Aspirasi besar ini tidak boleh mengurangi daya kekuatan kita,” beber dia.

Terakhir, sebagai Ketua Umum PKB, Cak Imin mengaku memiliki kewajiban untuk hadir dan membawa cita-cita PKB lebih merata lagi. “Tentunya dengan peran ke depan (menjadi cawapres),” imbuh dia.

Dalam forum sarasehan bersama seniman, Cak Imin menegaskan perlunya pemerintah memberikan tempat bagi seniman dan budayawan.

Mengembalikan hak frekuensi publik kepada masyarakat pun menjadi bahasan.

Selain itu, Cak Imin berkomitmen mendorong ditetapkannya Hari Wayang Nasional. “Ini penting sekali sebelum wayang diambil negara lain,” kata dia.
Seperti diketahui, Cak Imin mendapatkan dukungan dari sejumlah elemen masyarakat untuk maju menjadi cawapres mendampingi Jokowi dalam Pilpres 2019. Sejumlah relawan pun telah membentuk posko dukungan yang diberi nama Join (Jokowi-Cak Imin).

Dalam berbagai kesempatan ia mengatakan ingin berpasangan dengan Joko Widodo dengan adanya Deklarasi JOIN (Jokowi Imin). Namun dalam kesempatan lain ia menyebut juga ingin berpasangan dengan Prabowo Subianto.
Menurut Pengamat Politik dari Charta Politica, Muslimin, upaya Muhaimin menawarkan diri kepada beberapa bakal Capres ini menunjukkan belum adanya sinyal yang diberikan Jokowi untuk menggandenganya.

“Sehingga ia mencoba untuk menyebut bisa berpaling ke calon lain dan berupaya untuk memberikan bargaining kepada Jokowi agar segera untuk melamarnya,” ujar Muslimin.

Menurut Muslimin, jika hal tersebut merupakan upaya bargaining Muhaimin ke Jokowi bukanlah hal yang tepat. Karena dari sisi jumlah kursi untuk pencalonan, Jokowi sudah bisa maju tanpa ada dukungan PKB. Apalagi masih banyak ketua umum partai lain yang bisa bersaing dengan Muhaimin.

“Ada Airlangga Hartanto dari Golkar dan Romahurmuziy dari PPP yang juga memungkinkan untuk digandeng oleh Jokowi. Golkar secara jumlah kursi jauh lebih besar dibanding PKB, sementara PPP lebih dahulu mendukung Jokowi dibanding PKB,” tambah Muslimin.
Bargaining Muhaimin sebenarnya akan lebih tepat untuk Prabowo dibandingkan dengan Jokowi.

Sebab secara kursi Gerindra tak cukup untuk mengusung Prabowo tanpa berkoalisi dengan partai lain. Memang ada dari PKS, namun Gerindra dan PKS secara resmi masih belum mendeklarasikan diri untuk mengusung Prabowo.

Muslimin juga menambahkan, Muhaimin berpotensi untuk menawarkan dirinya kepada Bakal Capres selain Jokowi dan Prabowo, karena ambisi menjadi Cawapres sudah harga mati bagi ketua PKB ini.

Ambisi ini secara etika politik tidak bagus dan tidak etis.

“Bahkan Muhaimin mungkin saja tidak hanya menanawarkan diri ke Jokowi dan Prabowo. Jika ada tokoh lain yang berpotensi menjadi Capres ia juga akan menawarkan dirinya,” jelas alumni Pasca Sarjana Universitas Indonesia jurusan Komunikasi Politik ini.

Dalam berbagai kesempatan Cak Imin, sapaan Muhaimin, mengatakan hanya ingin berpasangan dengan incumbent Joko Widodo. Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar menegaskan tak akan mengubah niatnya menjadi calon wakil presiden pada Pilpres 2019.Niatan itu ia buktikan dengan deklarasi relawan JOIN (Jokowi-Imin).

Namun hasrat itu belum mendapat sinyal kuat dari Jokowi. Sehingga tak jarang juga Cak Imin bermanuver ingin berpasangan dengan Ketum Gerindra Prabowo Subianto.

Agak berat memang bila Cak Imin ingin jadi cawapres Jokowi,”Ada Airlangga Hartanto dari Golkar dan Romahurmuziy dari PPP yang juga memungkinkan digandeng oleh Jokowi. Golkar secara jumlah kursi jauh lebih besar dibanding PKB. Sementara PPP juga dari awal mendukung Jokowi” kata dia.

Disisi lain, PKS merasa yakin bahwa kadernya akan dipilih Prabowo sebagai Cawapres mendampinginya di pilpres 2019 nanti. Dari koalisi Gerindra PKS, Nama cawapres masih belum diumumkan. Gerindra menyebut ada 3 nama yang akan menentukan nama cawapres.

“Itu bagian Sohibul Iman (Presiden PKS), Ustaz Salim (Ketua Majelis Syuro PKS Salim Segaf Al Jufri), Prabowo (Ketum Gerindra Prabowo Subianto). Itu yang final. Kapan dideklarasikan, kita serahkan ke 3 orang itu,” ujar Ketua DPP Gerindra Desmond J Mahesa di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (18/5/2018).

Desmond juga mengaku bahwa dirinya tak tahu persis sudah sejauh mana pembahasan nama cawapres di antara ketiganya. Yang pasti, kata Desmond, Gerindra-PKS sudah searah dalam hal menentukan pasangan capres dan cawapres 2019.

“Dua partai ini sudah kesatuan pemikiran yang sama,” ucapnya.

Terkait nama-nama kandidat cawapres yang sudah beredar dan disebut-sebut sudah mengerucut, Desmond menampiknya. Menurutnya, jika ada pernyataan soal nama cawapres yang tinggal 3-5 orang, itu pendapat pribadi setiap kader partai koalisi.

Penulis: Sulis Sutrisna/ Berbagai Sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here