Gelar 20 Tahun Refleksi Reformasi PAN Sebut Demokrasi Kebablasan

0
231

Jakarta, namalonews.com- PAN telah berencana untuk menggelar refleksi 20 tahun reformasi di Gedung Majelis permusyawaratan Rakyat (MPR), Jakarta. Partai Amanat Nasional akan memperingati 20 tahun reformasi bertajuk ’20 Tahun Refleksi Reformasi’. Hal itu disampaikan Sekjen PAN Eddy Soeparno di Jakarta, Senin 21 Mei 2018.
DPP PAN mengadakan pertemuan dalam rangka persiapan acara peringatan 20 tahun reformasi, yang bertajuk ’20 Tahun Refleksi Reformasi’. Pertemuan ini dihadiri Sekjen DPP PAN Eddy Soeparno, Wasekjen PAN Soni Sumarsono, politikus Tubagus Miing, dan Ketua Panitia ‘Peringatan 20 Tahun Reformasi’ Bakrie HM.
Acara yang mengambil tempat di Ruang Bamus Gedung DPR/MPR ini akan ikut dihadiri Amien Rais. Nantinya acara akan diisi oleh diskusi, pemutaran film dokumenter, penayangan kilas sejarah reformasi, dan orasi politik kebangsaan oleh Fahri Hamzah dan Amien Rais.
Ketua panitia penyelenggara, Bakri mengungkapkan acara yang dimulai pukul 14.30 WIB itu dihadiri Ketua MPR Zulkifli Hasan dan Wakil Ketua DPR Fahry Hamzah yang menyampaikan orasi politik kebangsaan.
Anggota Komisi V DPR RI, H Bakri, yang ditunjuk sebagai ketua pelaksana kegiatan mengatakan, nantinya sejumlah tokoh akan diundang untuk menghadiri kegiatan tersebut.
“Nantinya akan hadir Ketua MPR RI Zulkifli Hasan, tokoh reformasi Amin Rais, Fahri Hamzah, dan Kwik Kian Gie,” ujar H Bakri, Jumat (18/5).
Plt Ketua DPW PAN Provinsi Jambi itu menambahkan, sejumlah aktivis nantinya juga akan meramaikan kegiatan tersebut. “Nanti juga akan ada acara buka bersama dengan seluruh peserta yang hadir,” tandasnya.
“Dan ada pelaku utama reformasi Amien Rais,” kata dia saat ditemui di DPP PAN, Jakarta, Jumat (18/5/2018). Amien juga akan menyampaikan orasi yang bertemakan reformasi. “Boleh dikatakan seluruh pelaku reformasi, ini istimewa undangan lebih kurang 1000 orang,” ujar Ketua DPP PAN ini.
Bakri berharap agar tokoh-tokoh yang terlibat langsung peristiwa reformasi, baik mahasiswa, korban kerusuhan Mei 1998 maupun para aktivis dapat ikut hadir.
Sebab, dalam acara tersebut diputar diputar video dokumenter yang menayangkan sejarah reformasi. Pada kesempatan yang sama Sekretaris Jenderal PAN Eddy Soeparno mengajak masyarakat untuk hadir dalam acara tersebut. “Kami akan mengajak untuk menarik kembali diri kita ke alam sejarah 20 tahun yang lalu dimana reformasi digulirkan sebagai catatan dan koreksi atas cita-cita pendirian Indonesia merdeka,” ucapnya.
Eddy mengatakan, pelaksanaan peringatan reformasi di Kompleks Senayan nantinya menghadirkan tokoh-tokoh yang terlibat dalam peristiwa 21 Mei 1998. “Tanggal 21 Mei pelaksanaan reformasi diberbagai tempat, tapi di tempat yang kita lakukan (MPR) menghadirkan lokomotif reformasi beserta tokoh-tokoh yang saat itu jadi penggagas.”
Namun, Sekretaris Jenderal Partai Amanat Nasional (PAN) Eddy Soeparno menilai pasca-20 tahun reformasi, demokrasi yang ada saat ini sudah kebablasan. Menurut dia, jurang ketimpangan sosial dan ekonomi menjadi penyebabnya.
“Ada hal yang belum kita capai dan malah kebablasan. Misal sampai hari ini kami masih lihat jurang ketimpangan, dan masalah terbesar adalah masalah kesenjangan,” ujar Eddy di Kantor DPP PAN, Jalan Senopati, Jakarta Selatan, Jumat, 18 Mei 2018.
Eddy tak menampik adanya beberapa hasil positif dari 20 tahun reformasi. Seperti kebebasan rakyat menentukan siapa pemimpinya dengan pemilihan langsung mulai dari presiden, gubernur, bupati dan wali kota, dan semua anggota legislatif dari pusat sampai daerah.
Namun untuk merawat reformasi ini kata Eddy perlu membahas dan mengawasi beberapa sektor yang kebablasan. Eddy mengatakan rakyat Indonesia tidak bisa tinggal diam untuk melihat kesenjangan ekonomi.
Eddy memyebut kesenjangan ekonomi itu yang kemudian melahirkan politik identitas di mana masyarakat terbagi dalam berbagai kubu-kubu dan saling melabeli satu sama lain. Keadaan ini kata Eddy harus ditangani dengam baik agar politik identitas seperti kelompok nasionalis atau religius tidak dimanfaatkan untuk kepentingan politik.
Eddy juga menjelaskan, bahwa reformasi sebagai pembuka jalan demokrasi ini akan membuat siapa pun kini bisa bebas bersuara. Namun, dengan pesatnya kemajuan teknologi akhirnya malah berimplikasi pada merebaknya pemberitaan hoaks.
“Jadi ada hal kebablasan, misalnya, terkait keterbukaan. Hari ini sangat bebas, bahkan media sosial berkembang pesat itu sudah memberi pemberitaan di luar konteks dan di luar rambu kebenaran, sehingga melahirkan hoaks,” kritik Eddy.
Oleh sebab itu, lewat refleksi 20 tahun reformasi, PAN ingin mengajak segenap masyarakat mendiskusikan bersama sejauh mana hal tersebut sudah masuk dan berkembang dalam kehidupan berbangsa.
Menurutnya, reformasi adalah catatan serta koreksi atas apa yang dijalankan pemerintahan saat itu terkait cita-cita bangsa Indonesia merdeka.”Kami akan melaksanakan refleksi 20 tahun reformasi, ingin menyampaikan pada publik terkait sejarah reformasi itu sendiri,” ucapnya.
“Sejumlah catatan yang hari ini kami lihat sebagai hasil positif dari reformasi, pertama, kita hidup di alam demokrasi yang sangat bebas. Kalau tidak ada reformasi tentu hal itu tidak akan tercapai,” jelasnya.
Selain itu, lanjut Eddy, masyarakat Indonesia kini bisa menikmati pemilihan kepala daerah secara langsung yang sebelumnya melalui representatif.
Tetapi menurutnya pula, ada hal yang belum dicapai, bahkan ada yang kebablasan. Misalnya, ada jurang ketimpangan yang sangat besar, dan masalah sosial yang terbesar adalah masalah kesenjangan tersebut, termasuk ekonomi dan sosial.
“Per hari ini kita melihat kesenjangan digital di tengah-tengah pertumbuhan teknologi yang begitu cepat dan melesat,” jelasnya.
Menurutnya, masalah ini menjadi catatan PAN terkait 20 tahun reformasi. Ada hal-hal yang kebablasan misalnya terkait keterbukaan.
Dahulu media pers sangat terbatas untuk melakukan pemberitaan. Hari ini sudah sangat bebas, bahkan media sosial yang berkembang pesat pun sudah melansir pemberitaan, bahkan di luar konteks dan di luar rambu-rambu kebenaran sehingga lahirlah berita-berita hoaks.
“Ini sudah kebablasan,” tegasnya.
Inilah antara lain, menurut Eddy, catatan-catatan yang akan disampaikan PAN dalam acara refleksi 20 Tahun Reformasi pada 21 Mei mendatang.
“Ini akan kami sampaikan, di dalam refleksi 20 tahun reformasi, pada Senin mendatang bersama tokoh reformasi Bapak Amien Rais,” ucap dia.
“Kita adakan diskusi apakah diperlukannya gerakan reformasi jilid kedua? Itu menjadi pertanyaan yang mungkin akan dijawab oleh pembicara,” jelas Eddy.
Namun Eddy menegaskan, reformasi jilid kedua bukan untuk digelontorkan dalam agenda refleksi reformasi. Hal itu hanya berupa bahan kajian yang akan diperdengarkan dari mulut para pembicara yang hadir.
“Jadi pertanyaannya apakah masih diperlukan gagasan untuk menggelontorkan gerakan reformasi jilid kedua. Bukan kita akan gelontorkan, tapi jika ingin mendengar pendapat dari tokoh berkecimpung langsung, jawabannya mungkin saja kita akan peroleh dalam acara 21 mendatang,” kata Eddy.
Zulkifli Hasan Ketua Umum PAN menyatakan masih banyak yang belum dicapai Indonesia selama 20 tahun reformasi berjalan. Dia melihat ada yang salah dengan kondisi bangsa ini, bila dikaitkan dengan harapan reformasi dahulu.
Dia meyampaikan, ada beberapa masalah bangsa antara lain fenomena korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) yang seringkali terjadi hadapan publik.
“Jadi ada social distrust yang harus kita luruskan, berarti reformasi ada yang missleading, ada yang kurang tepat. Kenapa sebabnya kami nilai politik uang tadi, jadi kalau orang bekuasa berlomba-lomba menggarong,” kata Zulkifli di Hotel Royal, Kuningan, Jakarta, Sabtu kemarin.

Penulis: Sulis Sutrisna/ Berbagai Sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here