Jokowi: Ideologi Terorisme Telah Masuk ke Dalam Sendi Keluarga

0
75

Jakarta, namalonews.com- Pada hari Jumat, 18 Mei 2018, Presiden Joko Widodo mengundang beberapa pejabat negara dan pengusaha yang ada di tanah air untuk berbuka puasa bersama di Istana Negara.
Pejabat negara yang diundang untuk hadir pada acara tersebut terdiri dari pimpinan lembaga negara, menteri kabinet kerja, perwakilan tokoh agama Islam, Kadin Indonesia, dan Apindo.
Sebelum melaksanakan buka bersama, terlebih dahulu seluruh peserta kegiatan mendengarkan ceramah dari Imam Besar Masjid Istiqlal, yaitu Nazaruddin Umar.
Pada kesempatan ini Presiden Joko Widodo menyampaikan pesan kepada seluruh masyarakat Indonesia terkait dengan isu terrorisme yang masih hangat di Indonesia. Beliau mengingatkan kepada keluarga Indonesia untuk berhati-hati, waspada, dan menjaga seluruh anggota keluarganya dari paham radikalisme yang telah dikembangkan oleh para terorisme di Indonesia.
Dalam pidatonya pada acara buka bersama beliau menyampaikan, “Saya hanya ingin mengingatkan, ideologi yang kejam ini telah masuk ke dalam sendi-sendi keluarga. Ini, kita harus hati-hati”. Beliau menambahkan bahwa keluarga itu seharusnya membangun optimisme anak untuk meraih cita-citanya dimasa depan, akan tetapi akan sebaliknya bila ditanamkan dengan ideologi terorisme.
Presiden Joko Widodo, pada acara tersebut menyinggung mengenai serangkaian aksi terorisme yang ada di Indonesia, mulai dari peristiwa Mako Brimob, di Sidoarjo, di gerjea-gereja Surabaya, dan baru-baru ini juga terjadi di Riau. Beliau juga mengungkap peristiwa baru aksi terorisme yang melibatkan kalangan anak-anak. Hal ini terjadi di kasus bom Sidoarjo dan kasus bom di gereja Surabaya, Jawa Timur.
“Saya melihat langsung, betapa rusaknya tubuh kedua anak pelaku bom, tapi menurut saya ini merupakan korban juga yang bernama Pamela dan Fadilah. Umur keduanya adalah dua belas tahun dan sembilan tahun. Hancur semua tubuhnya, tinggal ini ke atas”, ungkap Presiden Joko Widodo sambil mengisyaratkan bagian tubuhnya.
Kepala Negar ini juga mengungkapkan keadaan kedua anak yang menjadi korban di gereja, Nathan dan Eva yang masing-masing masih berusia delapan tahun dan dua belas tahun. Menurut Presiden, anak-anak pada usia ini seharusnya dapat bermain, bersekolah, dan berkumpul dengan keluarga dan teman-temannya.
Pada pidatonya, terkait dengan aksi terorisme di Sidoarjo dan Surabaya, Jawa Timur. Presiden Joko Widodo menggarisbawahi kekejaman yang dilakukan oleh terorisme. Oleh karena itu, Presiden meminta kepada semua kalangan masyarakat untuk ikut berperan dalam mengawasi dan melawan radikalisme, serta ideologi yang telah dibentuk oleh terorisme.
Seputar ideologi terorisme yang mulai masuk di dalam sendi-sendi keluarga dapat ditunjukkan oleh beberapa aksi bom yang akhir-akhir ini terjadi di Jawa Timur. Aksi bom di Sidoarjo dan Surabaya mengungkapkan kuatnya ideologi terorisme dalam suatu keluarga.

Bom di Sidoarjo, Doktrin dalam Keluarga Terorisme
Peristiwa bom di Sidoarjo, lebih tepatnya di rusunawa Wonocolo yang menewaskan sejumlah anggota keluarga tersangka terorisme, Anton Febrianto, menyisakan fakta yang dapat menjadi perhatian seluruh kalangan masyarakat Indonesia.
Dalam kejadian di rusunawa ini, ledakan bom menewaskan istri Anton, salah seorang putrinya, serta melukai ketiga putri Anton yang lainnya. Anton sendiri kemudian ditembak mati karena dianggap membahayakan keselamatan penghuni rusunawa dan sekitarnya. Hal ini diakarenakan pada saat itu Anton membawa saklar bom di Blok B lantai 5, nomor 2, rusunawa Wonocolo, yang kemungkinan siap diledakkan.
Salah satu anak Anton yang selamat memberikan pengakuan kepada pihak kepolisian. Ia bercerita bahwa dalam keluarganya, semuanya diberikan doktrin untuk menjadi terorisme. Caranya adalah dengan banyak mempertontonkan video-video jihad. Selain itu, juga sering melakukan pengajian di rumah Dita (pelaku bom bunuh diri gereja Surabaya).
Akan tetapi, anak ini mengaku menolak ajaran yang ditanamkan oleh kedua orang tuanya. Ia juga berkata bahwa ia tidak seperti kakak dan adik-adiknya, ia tetap memutuskan untuk bersekolah. Ia juga yang menyelamatkan adik-adiknya dari ledakan karena sudah tahu ada bom, jadi masih bisa menyelamatkan diri dan membawa adik-adiknya ke rumah sakit.
Anak Anton yang satu ini mengaku memilih hidup dengan neneknya, melanjutkan sekolah dan menentang ajaran terorisme yang orang tuanya tanamkan pada dirinya beserta saudara-saudaranya.
Bom di Gereja Surabaya, Ajak Anak untuk Bom Bunuh Diri
Peristiwa bom bunuh diri yang terjadi di tiga gereja di Surabaya juga menyeret anggota keluarga, yaitu anak-anak kandung pelaku terorisme. Pada peristiwa bom bunuh diri di Surabaya, salah seorang pelaku adalah seorang wanita dengan membawa kedua anak kandungnya. Pelaku membawa bom bunuh diri, serta diperkirakan pada tubuh anak juga telah dipasang bom bunuh diri.
Pelaku bom bunuh diri di ketiga gereja di Surabaya ini adalah satu keluarga, yaitu Dita Oepriarto, Ketua JAD Surabaya yang melakukan aksi bom bunuh diri di Gereja Pentakosta Pusat Surabaya, kemudian isrtinya yang bernama Puji Kuswati, bersama dengan kedua anaknya FR dan FS yang meledakkan diri di depan Gereja Kristen Indonesia (GKI) di Jalan Diponegoro
Hal ini menimbulkan pertanyaan yang besar di kalangan masyarakat, bagaimana bisa mereka mengajak anak-anak kandungnya sendiri untuk melakukan aksi bom bunuh diri.
Dibalik peristiwa ini, ternyata terungkap terdapat doktrin-doktrin yang ditanamkan oleh orang tua kepada anak-anaknya perihal ideologi terorisme.Anak-anak juga dijanjikan dengan masuk surga oleh kedua orang tuanya.
Menurut mantan teroris Al-Qaeda, Sofyan Tsauri, dalam keluarga teroris telah ditanamkan doktrin-doktrin terorisme. Anak-anak mungkin tidak menyadari doktrin yang orang tuanya tanamkan dalam diri mereka.
Sofyan mengatakan bahwa pertama adalah ayahnya yang mendapatkan ideologi sesat, mungkin dari pergaulannya, kemudian mengajarkan pada istrinya. Setelah istrinya juga memiliki pemahaman yang cukup kuat, baru kemudian mereka menanamkan dokrin terorisme kepada putra-putrinya.
Penanaman doktin terorisme juga diajarkan dengan sering memepertontonkan video-video jihad kepada putra-putrinya. Selain itu, anak-anak juga dilatih terbiasa dengan ledakan, dengan cara sering mengajaknya untuk bermain petasan.
Pada bom bunuh diri di gereja Surabaya, pelaku bom merupakan satu keluarga. Berdasarkan pengakuan RT tempat tinggal pelaku, kedua anak pelaku yang juga ikut terlibat dalam peledakan bom bunuh diri di Surabaya, sehari sebelum kejadian melaksanakan shalat di mushalla, yaitu pada Sabtu, 12 Mei 2018.
Disampaikan oleh Kadiv Humas Polri Irjen Pol Setyo Wasisto, RT tempat tinggal pelaku menyampaikan bahwa dua anak pelaku bom, shalat di mushalla dan saling tangis-menangis. Ia pun menduga bahwa kedua anak pelaku bom bunuh diri ini telah sadar dengan apa yang akan mereka lakukan esok harinya. Mereka sadar bahwa mereka akan melakukan suatu amaliyah dengan mengakhiri hidupnya dengan melakukan bom bunuh diri pada hari Minggu, 13 Mei 2018, di salah satu gereja di Surabaya.

Aksi terorisme di Sidoarjo dan di Surabaya, Jawa Timur, mengungkapkan fakta yang perlu menjadi perhatian berbagai pihak, khususnya bagi keluarga-keluarga masyarakat Indonesia. Dari kedua aksi bom tersebut, dapat diketahui bahwa ideologi terorisme telah ditanamkan dalam diri keluarga terorisme, bahkan anak-anak kandungnya. Oleh karena itu, sependapat dengan pesan dari Presiden Joko Widodo, bahwa semua kalangan masyarakat harus berhati-hati, mengawasi, dan menjaga keluarga dari paham radikalisme, yaitu ideologi terorisme.

Penulis: Sulis Sutrisna/ Berbagai Sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here