Risma, Walikota Surabaya, Tiba-Tiba Sujud di Hadapan Takmir Masjid

0
159

Jakarta, namalonews.com- Walikota Surabaya, Tri Rismaharini, tiba-tiba turun dari podium dan bersujud di hadapan salah seorang takmir masjid, pada hari Rabu, 16 Mei 2018 siang.
Pada hari itu, Risma menghadiri suatu acara pertemuan dengan para takmir masjid di Gedung Pertemuan Wanita Kalibokor untuk membahas perihal isu terorisme yang akhir-akhir ini terjadi di Surabaya dan daerah Indonesia lainnya.
Di tengah-tengah berjalannya acara tersebut, Risma yang berada di atas podium dalam sesi tanya-jawab dengan peserta acara, tiba-tiba turun dari podium ketika terdapat seorang takmir masjid yang mengajukan pertanyaan mengenai undangan yang ditujukan kepada para takmir masjid.
Undangan yang ditujukan kepada takmir masjid bertuliskan “pembinaan takmir masjid”, sehingga memicu seorang takmir masjid untuk mengajukan pertanyaan. Salah seorang takmir masjid, Muhammad Tohir, menanyakan mengapa undangannya bertuliskan pembinaan takmir masjid.
Muhammad Tohir merasa bahwa perihal undangan tersebut kurang tepat, karena apabila seperti itu, maka terkesan seperti ada yang salah dengan para takmir masjid. Takmir Masjid Masyitoh, Mulyorejo ini memberikan usulan bahwa lebih baik perihal undangannya ditulis dengan silaturahmi takmir atau sebagainya yang tidak menimbulkan kesan negatif.
“Salah kami sebagai takmir itu apa? Sebaiknya ditulis silaturahmi dengan takmir dari pada pembinaan takmir. Ini seolah-olah ada yang salah dengan para takmir masjid”, ucap Muhammad Tohir dalam sesi tanya jawab bersama Walikota Surabaya, Risma.
Mendengar pertanyaan ini, Risma langsung turun dari podium dan berjalan ke arah para undangan, yaitu takmir masjid se-Kota Surabaya. Risma yang mengenakan kebaya cokelat menghampiri para takmir dan bersujud memohon maaf di hadapan Muhammad Tohir beserta puluhan takmir masjid yang menghadiri undangan.
Tiba-tiba suasana di dalam Gedung Pertemuan Wanita Kalibokor menjadi penuh haru dan hadirin terdiam melihat apa yang dilakukan oleh seorang Walikota Surabaya pada acara tersebut.
Para hadirin tidak menyangka dengan apa yang dilakukan oleh seorang Walikota Surabaya di hadapan para takmir masjid. Hanya karena sebuah pertanyaan yang diajukan oleh salah satu takmir masjid yang ada di Kota Surabaya, beliau bersujud memohon maaf atas kekurang tepatan dalam memberikan undangan kepada para takmir. Kemudian dengan suasana haru, beberapa takmir masjid bangun dari kursinya untuk membangunkan Risma dari sujudnya.
Risma memohon maaf atas undangannya yang mungkin memberikan kesan negatif, serta mendadak. Risma kembali menyampaikan bahwa pihaknya perlu segera mengumpulkan para takmir masjid untuk kebaikan bersama.
Pihak dari Walikota Surabaya mengundang para takmir untuk membahas isu terrorisme yang sedang hangat di Kota Surabaya, sebab terkadang masjid dapat menjadi ajang untuk saling menghasut bangsa. Risma menambahkan bahwa pihaknya mengundang para takmir agar hal tersebut bisa dicegah. Beliau mengajak para takmir masjid untuk membendung paham radikal yang berada di area masjid.
Risma juga menyampaikan, para takmir masjid suapaya selalu mengawasi dan melaporkan apbila terdapat orang atau kelompok yang dirasa aneh atau tidak seperti pada umumnya. Dengan ini, diyakini mampu mendeteksi secara dini dalam pencegahan paham radikalisme di kalangan masyarakat khususnya pada pemuda.
Ajaran Islam tidak pernah mengajarkan atau mengajak untuk menyakiti orang lain. Agama Islam adalah agama rahmatan lilaalamin, agama yang membawa rahmat dan kesejahteraan bagi seluruh umat yang ada di semesta alam.
Isu Terrorisme yang Masih Hangat di Surabaya
Belum genap sepekan lamanya terrorisme menggemparkan Kota Surabaya. Tiga bom meledak dan menggemparkan tiga gereja besar di Surabaya yaitu Gereja Santa Maria Tak Bercela, GKI Diponegoro, serta Gereja Pentakosta Pusat Surabaya (GPPS).
Peristiwa peledakan bom ini terjadi pada hari Minggu, 13 Mei 2018 sekitar pukul 07.30 WIB. Bom yang meledak di tiga gereja di Surabaya ini merupakan bom bunuh diri yang dilakukan oleh beberapa tersangka bom bunuh diri. Bom bunuh diri ini melukai dan menewaskan sejumlah jemaah yang melaksanakan ibadah serta beberapa anggota polisi.
Ketiga peledakan bom bunuh diri di tiga gereja ini terjadi secara berurutan dengan jeda waktu sekitar 20 menit. Bom pertama meledak di Gereja Santa Maria Tak Bercela di Jalan Ngagel. Ledakan kedua terjadi di Gereja Kristen Indonesia di Jalan Diponegoro. Sedangkan ledakan ketiga terjadi di Gereja Pentakosta Pusat Surabaya.
Bom bunuh diri di Surabaya juga melibatkan seorang wanita dan dua orang anak sebagai terduga tersangka bom bunuh diri. Hal ini menjadi pembahasan berbagai pihak atas keterkaitan anak-anak dalam peristiwa bom bunuh diri. Peristiwa ini menjadi peringatan untuk mengawasi dan menjaga anak dari pengaruh radikalisme.
Sebelumnya juga terjadi penyekapan beberapa anggota kepolisian di Mako Brimob yang dilakukan oleh sejumlah narapidana terorisme. Sejumlah narapidana ini menyandera 6 anggota kepolisian selama sekitar 38 jam. Dalam penyanderaan ini, 5 anggota kepolisian yang disandera meninggal dunia dan satu anggota kepolisian yang lainnya selamat dengan mendapatkan sejumlah luka-luka. Peristiwa ini menjadi awal berhembusnya isu terrorisme di kalangan masyarakat Indonesia sebelum terjadinya peristiwa peledakan bom bunuh diri di tiga gereja besar di Surabaya.
Tujuan Lain Risma Bersujud di Hadapan Para Takmir
Pada acara lain, Risma menyinggung aksi sujud yang dilakukan Walikota Surabaya pada acara pertemuan dengan para takmir masjid hari Rabu (16/52018) siang.
Di hadapan para guru agama dalam acara pengarahan Walikota Surabaya kepada Guru Agama se-Kota Surabaya di Convention Hall hari Jumat, 18 Mei 2018, Risma menyampaikan, ”Kita tidak pernah tahu bagaimana derajat orang lain di mata Tuhan. Belum tentu derajat saya lebih tinggi dari pada derajat tukang sapu. Belum tentu juga derajat saya lebih tinggi dari pada takmir masjid”.
Dalam acara ini, Risma menjelaskan pentingnya menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan ketuhanan.
Pada acara ini, Risma juga meminta kepada para guru agama untuk menambahkan dan menggenjot pembelajaran mengenai rasa toleransi antar sesama, khususnya di lingkungan sekolah.
Walikota surabaya ini menjelaskan bahwa dalam hidup di dunia, manusia tidak hanya harus menjaga hubungan dengan Tuhannya, melainkan juga harus menjaga hubungan yang baik dengan sesama manusia. Hal ini harus diajarkan kepada anak sejak usia dini terutama di lingkungan sekolah agar toleransi dapat ditanamkan pada diri anak hingga mereka dewasa nanti.
Dengan tertanamnya rasa toleransi pada diri anak, maka anak-anak akan lebih mengerti terhaadap keadaan orang lain. Ketika temannya kesulitan, maka anak-anak dapat ikut merasakan kesulitan temannya. Akan lebih baik lagi apabila anak telah mampu untuk turun tangan membantu temannya yang kesulitan.
Risma juga memberikan pengarahan kepada para guru untuk menyertakan perjuangan bangsa Indonesia yang berjuang dengan jiwa raganya untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Anak-anak perlu diingatkan mengenai sejarah kemerdekaan Indonesia yang diperoleh dengan berdarah-darah, sehingga sejarah ini tidak boleh sampai dilupakan.

Penulis: Sulis Sutrisna/ Berbagai Sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here