Amien Rais: Dollar dan Jokowi Efek, Masyarakat ‘Sesak Napas’?

0
139

Jakarta, namalonews.com- Nilai tukar Rupiah masih terus melemah terhadap Dollar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan awal pekan ini. Senin kemarin (21/5),  nilai tukar Dollar menembus angka Rp 14.200. Pelemahan mata uang Rupiah pun mempengaruhi pasar modal.

Analis senior Binaartha Sekuritas, Reza Priyambada, mengatakan bahwa pelemahan mata uang Rupiah semakin menambah beban gerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Pelaku pasar diyakini akan memilih untuk menjauh dari pasar saham.

“Pelaku pasar akan stay away dulu dari pasar. Mereka tahan diri untuk masuk. Mereka akan tunggu di level berikutnya,” tuturnya, Senin (21/5/2018).

Lebih lanjut, Reza menjelaskan bahwa pelemahan IHSG yang sudah berkepanjangan  tidak terlepas dari pelemahan Rupiah yang juga sudah terjadi cukup dalam. Hal itu juga terlihat dari aksi jual investor asing dari awal tahun  yang sudah mencapai Rp 40 triliun.

“Faktor penopang IHSG selain Rupiah juga perbaikan dari data-data makro ekonomi kita apakah bisa menopang?” tambahnya.

Dengan semakin melemahnya Rupiah, tambah Reza, investor yang masih menahan portofolionya di saham,  berpotensi  melakukan aksi jual. Hal itu berpotensi kembali menurunkan IHSG.

“Besok kemungkinan masih ada peluang pelemahan Rupiah kalau dilihat dari sentimen saat ini jika belum ada sentimen mengangkat IHSG,” tutupnya.

Penguatan Dollar AS tersebut menyebabkan  bank merevisi kurs valas mereka. Bahkan,  sejumlah bank menjual greenback mendekati Rp 14.300.

Gubernur Bank Indonesia (BI), Agus Martowardojo, mengatakan kemungkinan ada tekanan eksternal yang mempengaruhi nilai tukar rupiah atas dolar Amerika Serikat hingga sempat menembus level Rp 14.200 pada Senin, 21 Mei 2018.

“Dalam banyak hal karena rencana sanksi yang akan diberikan Amerika tidak jadi dikeluarkan. Kemudian, ada sentimen positif US$.  Akibatnya, negara lain melemah,”  katanya di Gedung Juanda Kementerian Keuangan Senin kemarin.

Deputi Gubernur BI, Dody Budi Waluyo, menambahkan, melemahnya nilai tukar Euro turut mempengaruhi penguatan Dollar Amerika. Menurut Dody, kondisi global saat ini memang membuat mata uang Indonesia dan negara lain melemah terhadap Dollar AS.

“Kita enggak bisa melawan pasar,” katanya.

Pelemahan Rupiah tersebut mendapat tanggapan   Amien Rais, mantan Ketua MPR.  Amien Rais menyentil janji Joko Widodo saat kampanye di pilpres 2014 yang lalu. Amien mengatakan, soal keinginan manusia dengan realitas di lapangan tidak klop

“Jadi, Anda menanyakan Dollar sudah di angka  Rp 14.200, padahal dulu ketika Pak Jokowi maju sebagai presiden awal-awal bahwa banyak mengatakan akan ada Jokowi efek,”  kata Amien di gedung DPR, Jakarta, Senin (21/5).

Menurutnya, hal itu berarti akan ada upaya membuat Dollar lebih murah dan menguat hingga Rp 10 ribu.

“Itu kan maunya orang seperti itu,” tegasnya.

Meskipun bukan ahli ekonomi, Amien telah belajar dari krisis moneter di masa lalu. Jika Rupiah terpuruk, maka masyarakat kelas menengah ke bawah maupun pedagang yang berkaitan dengan impor juga sesak napas.

“Itu implikasinya sangat berat. Jadi,  menurut saya bukan lagi siapa ikut siapa, melainkan sudah masalah bangsa,” ujarnya.

Jadi, Amien menambahkan, persoalan ini harus betul-betul dikawal dan menjaga Jokowi sampai selesai menunaikan tugas sebagai presidennya.

“Tidak boleh diadang di tengah jalan apa pun alasannya. Karena kalau mulai goyah lagi, apa gunanya berkonstitusi,” tambah Amien.

Penulis: Sulis Sutrisna

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here