Pemerintah Jangan Overacting Hadapi Terorisme!

0
231

Jakarta, namalonews.com- Sejak aksi teror bom bunuh diri di Surabaya, pemerintah telah melakukan tindakan penanggulangan. Salah satunya dengan melakukan penangkapan terhadap sejumlah orang yang menyebut peristiwa teror yang terjadi belakangan ini cuma rekayasa.

Salah satunya adalah seorang pegawai negeri sipil (PNS) yang bekerja sebagai dosen Ilmu Perpustakaan di Universitas Sumatera Utara (USU). Dia ditangkap lantaran menyebut ledakan tiga bom gereja di Surabaya cuma pengalihan isu.

Penangkapan terhadap dosen tersebut mendapat tanggapan dari Amien Rais, politikus senior PAN. Ia mengkritik cara pemerintah menanggulangi peristiwa teroris yang belakangan marak terjadi.

Menurutnya, pemerintah tak perlu berlebihan menghadapi hal itu.

“Menurut saya sekarang ini yang penting pemerintah jangan overacting. Tidak usah mengatakan misalnya, ada guru mengatakan jangan-jangan teroris itu bikinan. Nah itu kan (ditangkap),” kata Amien di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (21/5/2018).

Amien mengimbau agar pemerintah tidak menciptakan ketakutan baru di tengah masyarakat. Menurutnya, penangkapan semacam itu hanya akan menimbulkan kerepotan bagi pemerintah sendiri.

“Mungkin betul mungkin nggak. Kalau nggak, ya sudah biarkan saja. Jangan ditangkap-tangkap. Jangan sampai ada psychology of fear, ketakutan itu makin meledak di mana-mana. Nanti repot,” ujarnya.

“Jika rezim memberi ketakutan pada rakyatnya, rakyat diam, begitu di titik tertentu akan meledak. Jadi, kita jaga jangan sampai grusa-grusu. Biarlah anak muda, orangtua ngomong segala macem,” jelasnya.

Selain penangkapan terhadap dosen di Sumatera, ada juga penangkapan terhadap  seorang kepala sekolah di salah satu SMPN di Kalimantan Barat. Kepala sekolah tersebut  ditangkap aparat kepolisian atas dugaan menyebarkan status Facebook bermuatan hoaks. Dia menyebut peristiwa ledakan bom di tiga gereja di Surabaya pada Minggu (13/5/2018) adalah rekayasa pemerintah belaka.

“Sekali mendayung 2-3 pulau terlampaui. Sekali ngebom: 1. Nama Islam dibuat tercoreng; 2. Dana triliunan antiteror cair; 3. Isu 2019 ganti presiden tenggelam. Sadis lu bong… Rakyat sendiri lu hantam juga. Dosa besar lu..!!!” tulisnya di akun Facebook.

Sementara itu, Karo Penmas Divisi Humas Polri, Brigjen Mohammad Iqbal, menjelaskan bahwa penangkapan tersebut sebagai pelajaran bagi para pengguna media sosial. Polri tidak terima jika kasus terorisme dianggap sebagai pengalihan isu.

“Ini mengancam stabilitas masyarakat. Tolong catat, bahwa Polri tidak nyaman jika aksi ini dikatakan rekayasa. Siapa pun yang menyebut itu, kita tunggu buktinya,” tegas Iqbal di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Senin (21/5).

“Jadi kalau ada yang rekayasa, sutradara sehebat apa pun nggak bisa merekayasa kasus. Kemarin bom Thamrin, di Brimob, di Surabaya, saya sampaikan Polri minta bukti siapa pun yang mengatakan itu rekayasa, mana buktinya, ayo silahkan,” lanjut Iqbal.

Penulis: Sulis Sutrisna

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here