Poros Ketiga Mustahil Terwujud, Cukup Jokowi dan Prabowo Saja

0
132

Jakarta, namalonews.com- Geliat persaingan politik untuk pemenangan dalam pilpres 2019 sudah begitu panas. Persaingan antara Jokowi dan Prabowo yang diperkirakan menjadi dua calon presiden dalam pilpres nanti. Bahkan diluar itu, sempat tersiar berita akan munculnya poros ketiga.
Bambang Soesatyo alis Bamsoet sebagai Wakil Ketua Koordinator Bidang Pratama DPP Partai Golkar memprediksi bahwa Joko Widodo (Jokowi) bakal mengungguli Prabowo Subianto jika kedua tokoh itu kembali bersaing atau rematch dalam Pemilu Presiden (Pilpres) 2019.
Prediksi Bamsoet itu telah didasari dengan jumlah dukungan dari berbagai partai politik dan juga elektabilitas Jokowi yang sampai saat ini masih di atas.
“Sampai sejauh ini Jokowi sudah didukung lima partai politik antara lain PDIP, Golkar, Nasdem, Hanura dan PPP. PKB sudah menyatakan dukungan dengan syarat Cak Imin menjadi Cawapres. Sedangkan Prabowo baru didukung Gerindra dan PKS,”
Pernyataan ini diutarakan oleh Bamsoet dalam rilis survei bertitel “Konstelasi Elektoral Pilpres & Pileg 2019 Pasca Deklarasi Prabowo Subianto yang digelar Charta Politika di Jakarta, Senin (21/5).
Bambang Soesatyo alias Bamsoet menambahkan bahwa saat ini hanya tinggal PAN dan juga Demokrat yang belum menjatuhkan pilihan. Namun, politikus Golkar yang juga ketua DPR itu meyakini poros ketiga di luar kubu Jokowi dan Prabowo pada Pilpres 2019 akan sulit terwujud.
Ketua DPR RI Bambang Soesatyo menilai bahwa kemungkinannya kecil untuk muncul poros ketiga dalam konstelasi Pilpres 2019.
”Dari segi ketokohan, tidak ada yang sekuat Jokowi dan Prabowo. Sehingga, peluang munculnya Capres lain di luar Jokowi dan Prabowo sangat kecil,” kata Bamsoet dalam acara rilis survei Nasional Charta Politika “Konstelasi Elektoral Pilpres & Pileg 2019 Pasca Deklarasi Prabowo Subianto” di Jakarta, Senin (21/05/18).
Menurutnya, hingga saat ini Jokowi sudah didukung oleh 5 partai politik, antara lain PDI-P, Golkar, Nasdem, Hanura dan PPP. Adapun PKB juga sudah menyatakan dukungannya meski dengan syarat ketumnya, Muhaimin Iskandar (Cak Imin), menjadi Cawapres.
”Sedangkan Prabowo baru didukung Gerindra dan PKS. Masih ada Demokrat dan PAN yang belum menentukan pilihan. Karena itu saya yakin poros ketiga sangat sulit terwujud,” papar Bamsoet.
Adapun partai yang berpotensi besar berkoalisi dengan Gerindra, menurutnya adalah Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Amanat Nasional (PAN). Berbagai penjajakan terus dilakukan.
”Kita harapkan koalisi Prabowo dengan partai pendukung lain bisa segera terbentuk, agar jelas siapa yang akan menjadi lawan Jokowi di Pilpres mendatang,” ujar Bamsoet.
Mantan Ketua Komisi III DPR RI ini juga mencatat, bahwa pemilihan Cawapres bagi Prabowo nanti akan berpengaruh terhadap naiknya elektabilitas.
Bila Gerindra berkoalisi dengan PKS, maka Ketua Dewan Syuro PKS atau Presiden PKS layak mendampingi Prabowo sebagai Cawapres.
Akan tetapi jika Partai Gerindra memilih untuk berkoalisi dengan PAN, maka Ketua Umum PAN  seharusnya layak disandingkan dengan Prabowo.
Berdasar analisis yang dilakukan Bamsoet, Pilpres 2019 ini nanti pasti bakalan seru jika terjadi rematch antara Jokowi dengan Prabowo. Bahkan, kata Bamsoet, bisa saja persaingan pada Pilpres 2019 akan melebihi 2014.
“Prabowo telah menyatakan diri siap menjalankan mandat dari Partai Gerindra untuk maju dalam Pilpres 2019. Dan saya melihat ini akan me-rematch kejadian di 2014 lalu. Pertarungan pasti akan berlangsung seru dan sengit,” ulasnya.
Disamping itu, Bamsoet juga telah membeberkan beberapa faktor yang harus diperhatikan oleh kubu Prabowo. “Elektabilitas Prabowo saat ini harus menjadi perhatian khusus,” katanya.
Bamsoet juga menambahkan, kepastian Prabowo untuk maju di Pilpres 2019 juga ditentukan dari jumlah kursi partai pengusungnya. Minimal ada 20 persen kursi DPR.
Setidaknya, Gerindra masih memerlukan dukungan satu parpol untuk memenuhi syarat ambang batas pencalonan presiden. Kemungkinan, kata Bamsoet, PKS dan PAN akan merapat ke Gerindra untuk mengusung Prabowo.
“Kita harapkan koalisi Prabowo dengan partai pendukung lain bisa segera terbentuk, agar jelas siapa yang akan menjadi lawan Jokowi di Pilpres mendatang,” ujar Bamsoet.
Meskipun demikian Bamsoet merasa yakin bahwa Jokowi masih akan unggul pada Pilpres 2019. Dalam padangan Bamsoet, sosok Jokowi yang dikenal dekat dengan rakyat itu nanti akan meraup suara mayoritas di pilpres mendatang.
“Kekuatan utama Jokowi sesungguhnya bukan hanya di koalisi partai politik. Pada tahun 2014 lalu, koalisi Prabowo lebih banyak, tapi Jokowi mampu menang. Kekuatan utama Jokowi adalah ia sosok yang dekat dengan rakyat. Itulah kelebihan dari calon yang lainnya,” tutur Bamsoet.
Selain itu, Bamsoet juga menilai bahwa kiprah kepemimpinan dari Jokowi selama 3,5 tahun ini sudah berhasil menunjukkan kemajuan signifikan. Misalnya, infrastruktur dan koneksi antar daerah juga semakin baik.
“Karena itu Partai Golkar sejak awal sudah yakin Jokowi mampu membawa Indonesia lebih maju dan lebih baik lagi di periode pemerintahan berikutnya. Tak salah, jika Partai Golkar menjadi pengusung pertama bagi Jokowi maju di Pilpres 2019,” pungkas Bamsoet.
Amien Rais yang merupakan Politikus senior Partai Amanat Nasional juga mengatakan bahwa pembentukan poros ketiga pada Pilpres 2019 itu sebuah hal yang mustahil terjadi.
Dia melihat bahwa dalam pertarungan Pilpres 2019, hanya akan diikuti oleh Joko Widodo atau Jokowi dan Prabowo Subianto saja. PAN sendiri sampai saat ini belum melabuhkan dukungan di antara keduanya.
“Berdasarkan analisa memang nanti poros ketiga itu mustahil, kemungkinan ada dua kan rematch, jadi nanti Pak Jokowi mencari cawapres yang nendang, Pak Prabowo juga, biarkanlah nanti ini berdua secara gentle,” terang Amien Rais saat ditemui di gedung DPR, Senayan, Jakarta Selatan pada Senin lalu.
Dirinya juga menambahkan bahwa pesta demokrasi di tahun 2019 ini harus dilakukan secara langsung, umum, bebas, rahasia (luber), serta jujur dan adil (jurdil). Kedua kandidat dan partai harus menerima hasil dengan cara sportif.
Mantan Wakil Ketua MPR ini juga telah menuturkan “Kita amati terus Pileg, Pilpres, jangan sampai nanti ada permainan yang di luar luber jurdil, jadi kalau nanti yang menang ya sudah itu memang haknya, berarti milih dia. Sedangkan bagi yang kalah merasa puas karena memang tidak dipilih.”
Amien Rais juga mengingatkan pada petahana, Presiden Jokowi, agar tak mengintervensi berlangsungnya pilpres 2019. Menurutnya, demokrasi yang berlangsung harus diterapkan secara profesional.
Lanjutnya, pihak petahana juga jangan sampai menggunakan kekuasaannya untuk mengintervensi pesta demokrasi yang nanti akan berlangsung tersebut. Menurutnya, sistem demokrasi harus diselenggarakan dengan profesional.
“Tetapi kalau dengan menekankan, menakut nakuti dengan menggunakan power dan kekuasaan untuk menghardik itu gak baguslah biarkankah demokrasi, itu kan indah sekali, demokrasi itu adalah sistem yang paling bagus kita temukan di abad 20-21 ini jadi kita ikuti, pancasila juta menghasilkan demokrasi kerakyatan. Jadi menurut saya sekarang ini yang penting pemerintah jangan overacting,” tandasnya.
PKB sudah menyatakan dukungan dengan syarat Cak Imim menjadi Cawapres. Sedangkan Prabowo baru didukung Gerindra dan PKS. Masih ada Demokrat dan PAN yang belum menentukan pilihan. Oleh sebab itu poros ketiga pasti akan sangat sulit untuk terwujud.

Penulis: Sulis Sutrisna/ Berbagai Sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here