Rentetan Bom Surabaya, Kenapa Tidak Ada Sanksi Aparat?

0
390

Jakarta, namalonews.com- Pengeboman yang terjadi di Surabaya belum lama ini adalah rangkaian peristiwa meledaknya bom di berbagai tempat di Surabaya dan Sidoarjo, Jawa Timur pada tanggal  13–14 Mei 2018. Tiga tempat di antaranya adalah tempat ibadah di Gereja Santa Maria Tak Bercela, GKI Diponegoro, dan Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) Jemaat Sawahan. Dua tempat lainnya masing-masing kompleks Rumah Susun Wonocolo di Taman, Sidoarjo, dan Markas Polrestabes Surabaya.

Kapolda Jawa Timur, Machfud Arifin, menyatakan jumlah korban meninggal dari peristiwa ledakan bom di dua tempat, yaitu Surabaya dan Sidoarjo mencapai 21 orang. Jumlah tersebut belum termasuk ledakan yang terjadi sebelumnya, di Markas Kepolisian Resor Kota Besar (Mapolrestabes) Surabaya, Jawa Timur.

“Jumlah korban secara menyeluruh hari ini khususnya di Surabaya dan Sidoarjo, sebelum yang tadi pagi, jumlah korban 21 orang, dengan rincian 9 orang pelaku dan 12 orang masyarakat,” kata Machfud dalam keterangan pers di Surabaya, sehari setelah bom meledak.

Dengan jumlah korban tersebut ditambah imbasnya terhadap sektor lain, misalnya sektor pariwisata. Sektor Pariwisata di Jawa Timur khususnya dan Indonesia umumnya tentu saja akan terkena imbas dari peristiwa pengeboman di Kota Pahlawan tersebut.

Terkait teror bom di Surabaya dan Sidoarjo, sejumlah negara seperti Hong Kong, Inggris, AS, Singapura, dan Australia telah mengeluarkan Travel Advice, yakni imbauan agar para traveler lebih hati-hati saat liburan ke Indonesia.

Imbauan tersebut tentunya menjadi acuan bagi wisatawan mancanegara yang ingin ke Indonesia. Bisa jadi keberangkatan mereka ditunda demi keamanan.

Menurut Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia (ICPI), Azril Azahari,  dampak terhadap pariwisata bisa terjadi, namun hanya sementara.

“Menurut saya, walaupun ada travel warning segala macam,  itu hanya sesaat karena kalau kita lihat dampak bom Bali itu kan hanya sesaat setelah itu balik lagi, bergeliat lagi,” ujar Azril.

Terkait bom Surabaya tersebut, kemudian muncul pertanyaan, siapa yang bertanggung jawab. Wajar apabila pertanyaan itu muncul mengingat bahwa salah satu tugas kepolisian adalah memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat.

“Kok ada kejadian sebesar ini (pengeboman di Surabaya), tidak ada yang disalahkan (aparat). Tidak ada yang diberi sanksi, tidak ada yang ditegur. Coba ada kasus apa dikit, Kapolda dicabut, ini disetop, dan lain-lain. Ini tidak ada sama sekali teguran,” ungkap Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama,  Ustaz Yusuf Muhammad Martak, dalam sebuah diskusi  di Jakarta belum lama ini.

“Kasus ini luar biasa memalukan,” ujar Ustaz Yusuf.

“Selama 63 tahun, saya baru mendengar bom meledak bersamaan dalam waktu serentak di tiga gereja. Lantas, di mana fungsi intelijen, BAIS dan BIN?” tambahnya.

Penulis: Sulis Sutrisna

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here